Sabtu, 12 April 2014

Nama bayi perempuan dan laki-laki berserta artinya


Dalam memberi sebuah nama kepada anak kesayangan kita pastilah kita ingin nama anak kita itu memiliki arti yang bagus yang nantinya bisa membawa jalan hidupnya kedepan kelak,untuk itu berikut disebutkan nama-nama anak perempuan dan laki-laki yang mungkin cocok untuk anak anda disertai dengan artinya masing-masing

Daftar Nama Bayi Perempuan Hindu

NAMA ANAK PEREMPUAN

ARTINYA
Abdhija
Lahir di Laut / Dewi Lakshmi
Abharika
Seseorang yang selalu menyapa
Abhaya
Pemberani
Abhayankari
Seorang Anak yang tidak pernah takut
Abhigeetha
Pujian
Abhigya
Si Ahli
Abhijaya
Si Pemenang
Abhijitha
Dewi Lakshmi
Abhikhya
Cantik dan terkenal
Abhilasha
Hasrat
Abhimanini
Seorang wanita yang menghargai dirinya sendiri
Abhinandana
Si anak yang penggembiran dan Selalu menucapkan kata-kata dengan manis
Abhinetri
Seorang Aktris dan Penari
Abhinivesha
Seseorang yang akan menghargai
Abhiroopa
Menarik
Abhramani
Matahari atau bulan
Abjini
Kolam Teratai
Acchoda
Air yang jernih
Achala
Kokoh / Gunung Asli: Bahasa Sanskrit
Adarsha
Ideal / Tujuan
Adbhutha
Sesuatu yang sangat mengagumkan
Adisri
Dewi Kemakmuran
Aditi
Ibunda dari Dewa Asli: Bahasa Sanskrit
Adrika
Gunung kecil
Adya
Lahir pada hari pertama diawal minggu misalnya Minggu
Ahalya
Istri dari Gautama
Ahladini
Wanita yang berbahagia
Ahladita
Sedang berbahagia Asli: Bahasa Sanskrit
Ajala
Bumi Asli:Bahasa Sanskrit
Akalanka
Tanpa salah / tanpa cacat / sempurna
Akanksha
Keinginan
Akhila
Lengkap
Akriti
Diagram
Alaka
Kunci dari si Rambur Keriting
Alaknanda
Sempurna / tidak tersentuh
Alankara
Dekorasi
Bageshri
Nama dari Raga
Bahuda
Nama dari Sungai
Bahula
Sebuah Bintang
Bakula
Bunga Nagakeshar
Bala
Gadis Muda
Banashankari
Parwati
Bandhura
Cantik / Hebat / Kemegahan
Bani
Vani / Saraswati
source
sambarkata.blogspot.com
Basveswari
Dewi Parwati
Bhadra
Nama Sungai
Bhadravati
Istri dari Raja Pareekshit
Bhadrika
Wanita dengan Pembawa keberuntungan
Bhageerathi
Sungai Gangga
Bhagya
Makmur
Bhagyajyothi
Cahaya Kesuksesan
Bhagyalaksmi
Dewi Kemakmuran
Bhagyarekha
Garis Keberuntungan
Bhagyatra
Bintang Keberuntungan
Bhairavi
Melodi dalam musik Klasik
Bhanuja
Sungai Yamuna
Bhanuman
Ayah Kousalya
Bhavana
Perasa / Sentimental
Bhavani
Parwati
Bhavatarini
Seseorang yang melepaskan jiwanya dari siklus kelahiran dan kematian
Bhavya
Yang baik / Menyenangkan / Hebat / Agung
Bhavyata
Hebat / Keagungan / Kekuasaan tertinggi / keindahan
Bhilangana
Sebuah Sungai
Bhoodevi
Ibu Bumi
Bhoomi
Bumi
Bhooshani
Ornamental
Bhooshita
Dekorasi Ornamen
Bhrungara
Bunga Emas
Bhuvana
Bumi
Bihula
Nama dari Mahasati of Madhya Pradesh
Bijali
Aktif / bercahaya
Bimbika
Cahaya Bulan dan matahari
Bindu
Tetesan / Titik
Binnaha
Pendoa / Pemohon
Brinda
Bumbu Tulsi
Budarika
Salah satu sumber dari sungai Gangga
Cauvery
Sama dengan Kaveri / nama dari salah satu sungai
Chaitaly
Nama dari Kota Kuno
Chaitra
Bulan pertama diawal tahun / Musim paling cantik yaitu musim Semi
Chakrika
Laksmi
Chameli
Bunga melati
Champavati
Ibukota Angaraj Karna
Chanchala
Lakshmi
Chandana
Cendana
Chandani
Bintang
Chandraki
Burung Merak
Chandrika
Cahaya Bulan
Charu
Cantik / menarik
Charulata
Sesuatu menjalar yang cantik
Charulekha
Gambar yang cantik
Charumathi
Seseorang dengan pemikiran yang baik
Chhavvi
Gambaran
Chhaya
Bayangan
Chinmayi
Penuh kebahagiaan
Chitra
Gambar
Chitragandha
Bahan-bahan Wewangian
Chitralekha
Secantik lukisan
Chitrani
Sungai Gangga
Damini
Cahaya
Darika
Perawan
Darshani
Seseorang yang mempunyai kemampuan untuk melihat hal-hal yang baik
Daya
baik hati / Penyukur / penyayang
Dayita
Yang tersayang
Deepa
Sebuah Lampu
Deepali
Koleksi Lampu
Deepika
Secercah Cahaya
Deepti
Bersinar / terang
Devaki
Ibu dari Khrishna
Dhaara
Mengalir secara konstan
Dhanyata
Sukses / Memenuhi Keinginan
Dhara
Bumi
Dharini
Bumi
Dhatri
Bumi
Dhriti
Menyemangati / bermoral
disha
Arah
Divya
Surga / Pintar
Drishti
Pandangan mata
Ekta
Persatuan
Ela
Bumi
Ganga
Sungai Gangga
Garati
Wanita berbudi luhur tinggi
Gargi
Nama dari seorang wanita yang belajar
Gauri
Parwati
Gautami
Sungai
Gayatri
Ibu dari Veda / seorang dewi
Girija
Parwati
Gita
Lagu
Gitanjali
Koleksi dari puisi
Gitika
Lagu kecil
Godavari
Sungai Godavari
Gopika
Sekumpulan Gadis
Hamsa
Angsa
Hara
Seseorang yang menyita
Hema
Emas
Hemangi
Tubuh emas
Himani
Parwati
Hiranmayi
Anak emas
Hita
Mencintai
Indrakshi
Seseorang dengan mata yang indah
Indrani
Istri dari Indra
Indu
Bulan
Induja
Sungai Narmada
Indukala
Bulan purnama
Induma
Bulan
Ines
Lembut
Ishita
Kekuatan suci dewi Durga
Jagrati
Pembangun
Jayanti
Menang
Jayashri
Kesuksesan
Kaisra
Matahari yang bersinar
Kajal
Pensil pembuat garis mata
Kala
Seni
Kalavati
Parwati seorang artis
Kali
Dewi dari kegelapan atau penuh energi
Kalinda
Matahari
Kalindi
Sungai Yamuna
Kalpana
Ide / imajinasi / indah / menyenangkan
Kalpita
Imajinasi
Kalyan
Kebahagiaan
Kalyani
Keberuntungan / Penuh kebahagiaan
Kamini
Seorang wanita
Kamna
Bergairah
Kanaka
Emas
Kanchana
Emas
Lakshmi
Isteri dari Wishnu
Lalana
Seorang anak wanita
Lali
Anak wanita yang disayangi
Lalima
Isteri dari Wishnu
Latangi
Wanita yang langsing
Leela
Bermain dan bergembira
Lochana
Mata
Madhu
Madu
Madhuri
Anak wanita yang manis
Mahima
Yang terhebat
Mala
Kalung / karangan bunga
Malati
Bunga Melati
Malavika
Puteri di Malawa
Malini
Ahli bunga / sebuah sungai
Mallika
Bunga melati
Nalini
Bunga teratai
Namrata
Kesopanan / kesederhanaan / kerendahan hati
Nanda
Kebahagiaan / Seorang anak wanita
Nandita
Gembira
Neeharika
Tetesan embun
Neela
Warna biru
Neeraja
Bunga Teratai
Neha
Cinta / Hujan
Netra
Mata
Padma
Bunga teratai
Pallavi
Daun baru
Pankaja
Bunga teratai
Pari
Cantik dan menarik
Parinita
Ahli
Rajani
Malam
Rajata
Perak
Ramani
Wanita cantik
Rameshwari
Parvati
Ramita
Menyenangkan
Ranjana
Menghibur
Sachita
Kesadaran
Sahana
Sabar
Salila
Air
Tanushri
Cantik
Tanvi
Seorang wanita yang lembut
Tara
Bintang
Tarangini
Sebuah sungai
Udaya
Fajar atau pada saat matahari terbit
Ujjwala
Cemerlang / bersinar
Uma
Parvati
Vaishali
Nama dari salah satu kota kuno
Vajra
Berlian
Vandana
Salam hormat
Yamini
Malam
Yashaswini
Wanita yang penuh kesuksesan
Yashila
Terkenal
Yogita
Seseorang yang bisa berkonsentrasi

Daftar Nama Bayi Laki-laki Hindu


NAMA ANAK LAKI-LAKI

ARTINYA
Abharan
Perhiasan
Abheek
Pemberani
Abhichandra
Cahaya bulan yang Indah
Abhidhar
Si orang yang selalu berpakaian rapih
Abhijit
Menang
Abhilash
Hasrat / Keinginan
Abhimakar
Seseorang yang memberikan kehangatan
Abhiman
Menghargai dirinya sendiri
Abhinav
Modern
Abhineet
Seorang Aktor
Abhinivesh
Seseorang yang akan menghargai
Abhiraj
Ganteng / Tampan
Abhiram
Menyenangkan / membahagiakan
Abhivachan
kata-kata yang baik
Abhivadak
Seseorang yang dihormati
Afreen
Penyemangat
Aftan
Matahari
Aganit
Tidak Terhitung
Agasthya
Orang yang Bijaksana atau guru
Aghor
Sifat Dasar Shiva
Agnidev
Api dari Tuhan
Agninyan
Shiwa
Agnitra
Teman Agni / Angin
Ahish
Raja Naga
Ahlad
Kegembiraan
Ahladith
Orang yang selalu berbahagia
Ajar
Abadi
Ajath
Panjang Umur
Ajatha shathru
Seseorang yang tidak memiliki musuh
Ajay
Wisnu
Ajeya
Seseorang yang tidak dapat dikalahkan
Ajit
Tidak mungkin dikalahkan
Ajitabh
Orang yang telah mengalahkan langit
Akanksh
Keinginan
Alankar
Perhiasan
Alap
Pembicaraan
Badal
Hujan / Berawan
Badarinath
Ziarah kepada Dewa
Bahul
Sebuah Bintang / Hitam
Bahuleya
Kartikeya
Baladev
Seseorang yang Kuat
Balaram
Kakak Shri Krishna
Balark
Matahari yang sedang Terbit
Balindra
Raja Bali
Bhadyoga
Seseorang yang kaya
Bhasker
Matahari
Bhanuprakash
Mentari yang bersinar terang
Bhavesh
Shiwa
Bheeshma
Malas / buruk sekali / tidak baik
Bhesaj
Wishnu
Bhirigaraj
Sebuah Lebah
Bhootakingam
Shiwa
Bhrigu
Ayah dari Lakshmi
Chakor
Seekor burung
Chakradhar
Wishnu
Chakresh
Raja
Chakshu
Mata
Chalavanth
Orang yang ditentukan
Chalukya
Sebuah Kerajaan dari Karnataka Kuno
Chamatkar
keahlian / Keajaiban
Charuchit
Seseorang dengan pemikiran yang baik
Charudehi
Anak dari Rukhmini
Charuhas
Seseorang dengan senyum yang indah
Chidanand
Kebahagiaan yang Utama
Chidathma
Kekuatan yang Utama
Chidroop
Pengetahuan / perwujudan kebijaksanaan
Chintak
Pemikir
Chiradeep
Lampu Abadi
Chitrachap
Pelangi
Chitrakant
Burung dara
Chitraksh
Seseorang dengan mata yang cantik
Chitrarath
Matahari
Chitrashwa
Nama Lain dari Satyavan
Chittesh
Raja dalam pikiran
Dattadri
Guru atau orang Bijaksana
Davesh
Arti yang Tidak Jelas
Dayakar
orang yang menunjukan kebaikannya
Dayanand
yang baik
source
sambarkata.blogspot.com
Deepanker
Pembawa Lampu
Deepit
Seperti lampu
Deepthamshu
Seberkas Cahaya
Deeraj
Pahlawanyang bijaksana dan dermawan
Dev
Suatu Keabadian
Devadut
Diberikan Oleh Devas
Deval
Bramarshi
Devanand
Kebagiaan yang hebat
Devanshi
Malaikat
Devaraj
Indra
Devavardhan
saudara laki-laki dari Devaki
Devendra
Indra
Devidas
Pembantu Dewa
Devinath
Shiwa
Deviprasad
Hadiah dari para Dewa
Devipriya
Yang dicintai oleh Dewa
Devottham
yang terbaik diantara devas
Dhairyavanth
Orang yang pemberani
Dharmaputra
Yudhistira
Dharmaraj
Orang yang Paling benar
Dharmatej
Kebenaran
Dharmdeva
Yudhistira
Dharmendra
Yang paling benar
Dharti
Bumi
Dilber
Yang disayangi
Dilip
Raja dari Surya Vamsha
Dilkhush
Hati yang berbahagia
Dilkush
Bahagia
Dinesh
Matahari
Divodas
Ayah Ahalya
Divyatma
Yang terhebat
Drupad
Raja Pachala
Durgesh
Shiwa
Dwipayan
Guru Vedavyas
Dyumani
Matahari
Eakant
Nama dari orang Bijak
Eash
Shiwa
Ekalavya
Pemanah yang baik
Ekamranath
Nama lain dari Shiva di Kanchi
Ekoram
Salah satu dari lima acharyas
Elesh
Raja
Elina
Pintar
Eravant
Anak Laki-laki dari Arjuna dan Ullopi
Fatik
Kristal
Gahan
Complex / dalam
Gajamuka
Ganapati
Gajendra
Raja Gajah
Gaurav
Hormat
Gautham
Siddartha
Gavendra
Banteng Suci
Gaviranga
Tuan Ranganath
Geervan
Brahma
Giridhar
Sri Khrishna
Gokul
Kumpulan sapi
Gopathi
Raja Pachala
Haleem
Ringan
Hemendra
Orang yang makmur
Himanshu
Bulan
Hitakar
Pemohon
Hitesh
Orang baik
Honnesh
Orang Kaya
Jaya
Kemenangan
Kalakeshri
Benar-benar mengenal
Kalasanth
Shiwa
Kanna
Khrishna
Kantrava
Hewan yang mengaum
Lakshan
Terlihat tampan
Lalam
Yang terbaik disekitarnya
Lalit
Sederhana
Lekhak
Seorang Penulis
Madhukar
Lebah atau yang memberikan madu
Madhur
Manis
Mahalingam
Shivalinga
Mahan
Hebat
Mahanidhi
Harta karun yang baik
Manas
Pikiran / intelek
Naaz
Kebanggaan
Nabha
Langit
Nabhendu
Bulan dilangit
Nabhomani
Matahari
Nashita
Enerjik dan penuh kehidupan
Naval
Baru
Navarang
Rupawan seperti Dewa Cinta
Navodit
Yang akan datang
Netar
Pemimpin
Ojas
Kuat / kekuatan
Omkar
Suara dan sebuah surat yang suci
Paavan
Suci
Padak
Sebuah medali
Padmacharan
Kaki Lakshmi
Pakshiraj
Burung Garuda
Pananjay
Awan
Pankaj
Bunga teratai
Pankhuri
Daun Bunga
Pattabhiram
Sri Rama / Raja Rama yang ditakhtakan
Rahul
Anak laki-laki dari Sidharta
Raibhya
Seseorang yang bijaksana atau guru
Rajan
Seorang raja
Rajat
perak
Rajeev
Teratai
Raka
Bulan Purnama
Rakshak
Seseorang yang melindungi
Rakshan
Perlindungan
Ram
Menyenangkan
Sahyadri
Nama pegunungan yang berada di Karnataka
Saieshwar
Salah satu nama orang suci
Sairam
Seorang suci
Sajal
Awan
Sajjan
Laki-laki yang baik
Samanjas
Cocok / tepat / sesuai
Samarajit
Pemenang dari peperangan
Samarth
Efisien
Tajshak
Raja dari pekerja
Taksha
Anak laki-laki dari Bharatha
Tanmay
Memikat
Tanvir
Senantiasa mendapat penerangan
Tarak
Pelindung
Taramandal
Susu
Udadhi
Lautan
Udari
Orang yang baik hati
Uddam
Hebat
Udup
Bulan Purnama
Vachan
Janji
Vadin
Pelajar
Vanchit
Menginginkan
Vandan
Salam pembuka
Vandit
Orang yang dihormati
Yadav
Khrishna
Yadu
Anak laki-laki Yayathi
Yashas
Terkenal
Yashpal
Kesuksesan
Yatin
Seorang pertapa
Yatiraj
Yang terbaik diantara pertapa
Yayati
Anak laki-laki Nahusha


Selasa, 31 Desember 2013

keris indonesia

Makna Filosofi Keris

Dengan melihat begitu banyaknya ilmu tentang keris serta perdebatan didalamnya, alangkah lebih sarat makna bagi kita dalam diri pribadi masing-masing untuk selalu berupaya mempelajari makna sejarah, budaya dan filosofi keris dengan tanpa memandang apakah keris tersebut sudah aus, geripis ataukah masih utuh. Toh jika kita lihat, Kanjeng Kyai Kopek, pusaka kraton Jogjakarta yang dulunya dipesan Sunan Kalijaga kepada mPu Supo, pada bagian wadidhangnya sudah lubang dan tetap disimpan sebagai salah satu Keris Pusaka andalan Keraton Jogja karena memiliki muatan sejarah dan filosofi yang dalam dibandingkan sekedar bentuk atau wujud fisiknya.

Dengan demikian, kebanggan atas sebilah keris tua yang masih utuh bagi saya hanyalah kesenangan semu yang hampa jika tidak diikuti dengan pemahaman terhadap sejarah dan filosofi keris. “Pamor keris boleh rontok, besi keris bisa saja terkikis aus karena usia, dan wrangka keris bisa saja rusak karena jaman, tetapi pemahaman atas sejarah dan filosofi sebilah keris akan selalu hidup dalam hati dan pikiran kita dan akan kita turunkan pada generasi selanjutnya”.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan masyarakat jaman dahulu sangatlah memegang peranan penting dalam memahami tentang budaya perkerisan.
Katakanlah mengapa konon Sultan Agung Hanyokrokusumo ketika awal masa pemerintahannya sering memesan keris Luk 3 dapur Jangkung kepada Ki Nom ? Mengapa keris Luk 13 banyak dipesan ketika seorang Raja sudah lama memerintah dan hendak lengser keprabon ? Mengapa keris tangguh Pengging yang paling tinggi maknanya adalah yang ber Luk 9 ? Mengapa keris luk 1 dapur Pinarak selalu mengingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya hanya sementara untuk mampir duduk (pinarak) ? Kesemua itu ternyata menunjukkan bahwa sesungguhnya keris memiliki makna yang lebih dalam dan sangat kaya daripada sekedar masalah pamor, dapur dan tangguh serta keutuhannya yang sampai sekarang masih terus menjadi perdebatan. Tentunya dengan tidak mengesampingkan ilmu atas fisik keris seperti dapur, pamor maupun tangguhnya.

Dengan menempatkan keris sebagai benda yang memiliki makna filosofi mendalam, maka kita sebenarnya telah berusaha memahami apa keinginan sang mPu dan orang yang memesannya dahulu ketika membabar keris tersebut. Karena tentunya para mPu dan orang yang memesannya tersebut sebenarnyna juga memiliki harapan-harapan yang tentunya bermaksud baik. Dengan memahami makna filosofi dari sebuah keris tersebut, maka sudah pasti kita turut “Nguri-uri”, melestarikan budaya keris karena salah satu makna keris tersebut adalah sebagai simbol dari adanya suatu harapan dan doa.

Makna dan Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa
Keris dalam masyarakat Jawa, sekarang digunakan untuk pelengkap busana Jawa, keris sendiri memiliki banyak filosofi yang masih erat dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat Jawa. Makna filosofis yang terkandung dalam sebuah keris sebenarnya bisa dilihat mulai dari proses pembuatan hingga menjadi sebuah pusaka bagi pemiliknya. Seiring berjalannya waktu dan modernisasi, kita sadari bahwa perlu dilakukan pelestarian terhadap warisan leluhur ini agar tidak terkikis akan perkembangan jaman, keris atau dalam bahasa jawa disebut tosan aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti dihormati, jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini bahwa kandungannya mempunyai makna yang harus dihormati, bukan berarti harus disembah-sembah tetapi selayaknya dihormati karena merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang bernilai tinggi.
Bila kita merunut dari pembuatnya atau yang disebut empu, ini mempunyai sejarah dan proses panjang dalam membuat atau menciptakan suatu karya yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Empu menciptakan keris bukan untuk membunuh tetapi mempunyai tujuan lain yakni sebagai piyandel atau pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya diri, ini dapat dilihat dari proses pembuatannya pada zaman dahulu. Membuat keris adalah pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan sebuah keuletan, ketekunan, dan mental yang kuat, sehingga para pembuat harus meminta petunjuk dari Tuhan melalui laku / berpuasa, tapa / bersemadi dan sesaji untuk mendapatkan bahan baku.
Posisi keris sebagai pusaka mendapat perlakuan khusus mulai dari proses menyimpan, membuka dari sarung sampai dengan merawatnya, hal ini sudah merupakan tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa yang masih meyakini. Kekuatan spiritual didalam keris diyakini dapat menimbulkan satu perbawa atau sugesti kepada pemiliknya. Menilik Pada masa kerajaan Majapahit, keris terbagi menjadi 2 kerangka yang saat ini masih menjadi satu acuan si empu atau pembuat keris, yakni rangka Gayaman dan rangka Ladrang/Branggah. Saat ini rangka Gayaman banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Yogjakarta dan rangka Ladrang banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Surakarta.

Nilai atau makna filosofis sebuah keris bisa pula dilihat dari bentuk atau model keris, atau yang disebut dengan istilah dapur. Selain dari dapurnya, makna-makna filosofi keris juga tecermin dari pamor atau motif dari keris itu sendiri. Keris bukan lagi sebagai senjata, namun masyarakat Jawa memaknai bahwa keris sekarang hanya sebagai ageman atau hanya dipakai sebagai pelengkap busana Jawa yang masih mempunyai nilai spiritual religius, dan sebagai bukti manusia yang lahir, hidup dan kembali bersatu kepada Tuhan sebagai Manunggaling Kawulo Gusti.

Keris Sebagai Piyandel, Sebuah Tuntunan Hidup
Piyandel adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan yang termanifestasikan dalam wujud berbagai benda-benda pusaka yang mengemuka secara fenomenal, penuh daya pikat dan sarat lambang yang harus didalami dan dimengerti dengan baik, benar dan mendalam. Kepercayaan bukan berisi tentang sesuatu yang pantas disembah dan dipuja, tetapi sebuah wahana yang berwujud (wadag) yang berisi doa, harapan dan tuntunan hidup (filosofi hidup) manusia jawa yang termaktub dalam

“sangkan parang dumadi – sangkan paraning pambudi – manunggaling kawula Gusti”.

Piwulang-piweling ini terformulasi dalam sebuah benda buatan yang disebut keris atau tombak.

Melihat keris sama halnya dengan melihat wayang. Keleluasaan pemahaman dan pengertian mengenainya tergantung luasnya cakrawala dan pengalaman hidup orang tersebut terhadap hidup dan kehidupan. Jadi tergantung kepada “kadhewasaning Jiwa Jawi” – kedewasaan orang dalam berfikir dan bersikap secara arif dan bijaksana.
Semakin orang itu kaya pengalaman rohani – semakin kaya pula ia mampu menjabarkan apa yang tertera di dalam sebilah keris.

Pada mulanya, di saat manusia jawa ada pada peradaban berburu, keris adalah alat berburu (baca: mencari hidup). Kemudian ketika manusia mulai menetap dan bersosialisasi dengan sesamanya, keris menjadi alat untuk berperang (baca : mempertahankan hidup). Lebih lanjut lagi setelah tidak lagi diperlukan perang dan manusia mulai berbudaya, keris pun menjadi senjata kehidupan (baca: tuntunan hidup). Yaitu senjata untuk mengasah diri menjadi orang yang lebih beradab dan berperiperadaban hingga mencapai penyatuan diri dengan Penciptanya. Hal ini sangat nyata ditunjukkan dalam lambang-lambang yang mengemukan pada ricikan-ricikan keris.

Ilmu keris adalah ilmu lambang. Mengerti dan memahami bahasa lambang mengandalkan peradaban rasa (sense) – bukan melulu kemampuan intelektual. Jadi adalah keliru jika memahami keris secara dangkal sebagai sebuah benda yang berkekuatan magis untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Keris menjadi pusaka karena makna lambang-lambang dalam keris dianggap mampu menuntun pembuat dan pemiliknya untuk hidup secara benar, baik dan seimbang. Dan bagi orang jawa, hidup ini penuh pralambang yang masih samar-samar dan perlu dicari dan diketemukan melalui berbagai laku, tirakat maupun dalam berbagai aktivitas sehari-hari manusia jawa, misalkan dalam bentuk makanan (tumpeng, jenang, jajan pasar,dsb), baju beskap, surjan, bentuk bangunan (joglo, limas an, dsb) termasuk juga keris. Di dalam benda-benda sehari-hari tersebut tersembunyi sebuah misteri berupa pesan dan piwulang serta wewler yang diperlukan manusia untuk mengarungi hidup hingga kembali bersatu dengan Sang Pencipta.

Dalam tradisi budaya Jawa ada sebuah pemahaman
“Bapa (wong tuwa) tapa, anak nampa, putu nemu, buyut katut, canggah kesrambah, mareng kegandeng, uthek-uthek gantung siwur misuwur”.
Jika orang tua berlaku tirakat maka hasilnya tidak hanya dirasakan olehnya sendiri dan anak-anaknya melainkan hingga semua keturunannya. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu manusia Jawa diajak untuk selalu hidup prihatin, hidup “eling lan waspada”, hidup penuh laku dan berharap. Siratan-siratan laku, tirakat, doa, harapan, cita-cita restu sekaligus tuntunan itu diwujudkan oleh para leluhur Jawa dalam wujud sebuah senjata. Senjata bukan dilihat sebagai melulu wadag senjata (tosan aji) melainkan dengan pemahaman supaya manusia sadar bahwa senjata hidup dan kehidupan adalah sebuah kearifan untuk selalu mengasah diri dalam olah hidup batin
Oleh karena itu orang Jawa menamakan keris dengan sebutan Piyandel – sipat kandel, karena memanifestasikan doa, harapan, cita-cita dan tuntunan lewat dapur, ricikan, pamor, besi, dan baja yang dibuat oleh para empu dalam laku tapa, prihatin, puasa dan selalu memuji kebesaran Tuhan.

“Niat ingsun nyebar ganda arum. Tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama”.

Tekadku menyebarkan keharuman nama berlandaskan hati yang pantas (positive thinking), berbicara dengan baik, enak didengar, dan pantas dipercaya, sembari menjalankan laku keutamaan.

Meski demikian keris tetaplah benda mati. Manusia Jawa pun tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang pusaka. Peringatan para leluhur tentang hal ini berbunyi :

“Janjine dudu jimat kemat, ananging agunging Gusti kang pinuji”.

Janji bukan jimat melainkan keagungan Tuhan-lah yang mesti diluhurkan. “Nora kepengin misuwur karana peparinge leluhur, ananging tumindak luhur karana piwulange leluhur”. Tidak ingin terkenal lantaran warisan nenek moyang, melainkan bertindak luhur karena melaksanakan nasihat nenek moyang. Oleh karena itu keris bukan jimat, tetapi lebih sebagai piyandel sebagai sarana berbuat kebajikan dan memuji keagungan Ilahi.

Makna Filosofi Keris

Dengan melihat begitu banyaknya ilmu tentang keris serta perdebatan didalamnya, alangkah lebih sarat makna bagi kita dalam diri pribadi masing-masing untuk selalu berupaya mempelajari makna sejarah, budaya dan filosofi keris dengan tanpa memandang apakah keris tersebut sudah aus, geripis ataukah masih utuh. Toh jika kita lihat, Kanjeng Kyai Kopek, pusaka kraton Jogjakarta yang dulunya dipesan Sunan Kalijaga kepada mPu Supo, pada bagian wadidhangnya sudah lubang dan tetap disimpan sebagai salah satu Keris Pusaka andalan Keraton Jogja karena memiliki muatan sejarah dan filosofi yang dalam dibandingkan sekedar bentuk atau wujud fisiknya.

Dengan demikian, kebanggan atas sebilah keris tua yang masih utuh bagi saya hanyalah kesenangan semu yang hampa jika tidak diikuti dengan pemahaman terhadap sejarah dan filosofi keris. “Pamor keris boleh rontok, besi keris bisa saja terkikis aus karena usia, dan wrangka keris bisa saja rusak karena jaman, tetapi pemahaman atas sejarah dan filosofi sebilah keris akan selalu hidup dalam hati dan pikiran kita dan akan kita turunkan pada generasi selanjutnya”.
Oleh karena itu, pemahaman terhadap sejarah dan kebudayaan masyarakat jaman dahulu sangatlah memegang peranan penting dalam memahami tentang budaya perkerisan.
Katakanlah mengapa konon Sultan Agung Hanyokrokusumo ketika awal masa pemerintahannya sering memesan keris Luk 3 dapur Jangkung kepada Ki Nom ? Mengapa keris Luk 13 banyak dipesan ketika seorang Raja sudah lama memerintah dan hendak lengser keprabon ? Mengapa keris tangguh Pengging yang paling tinggi maknanya adalah yang ber Luk 9 ? Mengapa keris luk 1 dapur Pinarak selalu mengingatkan bahwa kehidupan kita di dunia ini sesungguhnya hanya sementara untuk mampir duduk (pinarak) ? Kesemua itu ternyata menunjukkan bahwa sesungguhnya keris memiliki makna yang lebih dalam dan sangat kaya daripada sekedar masalah pamor, dapur dan tangguh serta keutuhannya yang sampai sekarang masih terus menjadi perdebatan. Tentunya dengan tidak mengesampingkan ilmu atas fisik keris seperti dapur, pamor maupun tangguhnya.

Dengan menempatkan keris sebagai benda yang memiliki makna filosofi mendalam, maka kita sebenarnya telah berusaha memahami apa keinginan sang mPu dan orang yang memesannya dahulu ketika membabar keris tersebut. Karena tentunya para mPu dan orang yang memesannya tersebut sebenarnyna juga memiliki harapan-harapan yang tentunya bermaksud baik. Dengan memahami makna filosofi dari sebuah keris tersebut, maka sudah pasti kita turut “Nguri-uri”, melestarikan budaya keris karena salah satu makna keris tersebut adalah sebagai simbol dari adanya suatu harapan dan doa.

Makna dan Filosofi Keris Dalam Budaya Jawa
Keris dalam masyarakat Jawa, sekarang digunakan untuk pelengkap busana Jawa, keris sendiri memiliki banyak filosofi yang masih erat dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat Jawa. Makna filosofis yang terkandung dalam sebuah keris sebenarnya bisa dilihat mulai dari proses pembuatan hingga menjadi sebuah pusaka bagi pemiliknya. Seiring berjalannya waktu dan modernisasi, kita sadari bahwa perlu dilakukan pelestarian terhadap warisan leluhur ini agar tidak terkikis akan perkembangan jaman, keris atau dalam bahasa jawa disebut tosan aji, merupakan penggalan dari kata tosan yang berarti besi dan aji berarti dihormati, jadi keris merupakan perwujudan yang berupa besi dan diyakini bahwa kandungannya mempunyai makna yang harus dihormati, bukan berarti harus disembah-sembah tetapi selayaknya dihormati karena merupakan warisan budaya nenek moyang kita yang bernilai tinggi.
Bila kita merunut dari pembuatnya atau yang disebut empu, ini mempunyai sejarah dan proses panjang dalam membuat atau menciptakan suatu karya yang mempunyai nilai estetika yang tinggi. Empu menciptakan keris bukan untuk membunuh tetapi mempunyai tujuan lain yakni sebagai piyandel atau pegangan yang diyakini menambah kewibawaan dan rasa percaya diri, ini dapat dilihat dari proses pembuatannya pada zaman dahulu. Membuat keris adalah pekerjaan yang tidak mudah, membutuhkan sebuah keuletan, ketekunan, dan mental yang kuat, sehingga para pembuat harus meminta petunjuk dari Tuhan melalui laku / berpuasa, tapa / bersemadi dan sesaji untuk mendapatkan bahan baku.
Posisi keris sebagai pusaka mendapat perlakuan khusus mulai dari proses menyimpan, membuka dari sarung sampai dengan merawatnya, hal ini sudah merupakan tradisi turun temurun yang masih dilakukan oleh masyarakat Jawa yang masih meyakini. Kekuatan spiritual didalam keris diyakini dapat menimbulkan satu perbawa atau sugesti kepada pemiliknya. Menilik Pada masa kerajaan Majapahit, keris terbagi menjadi 2 kerangka yang saat ini masih menjadi satu acuan si empu atau pembuat keris, yakni rangka Gayaman dan rangka Ladrang/Branggah. Saat ini rangka Gayaman banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Yogjakarta dan rangka Ladrang banyak dipakai sebagai pelengkap busana Jawa Surakarta.

Nilai atau makna filosofis sebuah keris bisa pula dilihat dari bentuk atau model keris, atau yang disebut dengan istilah dapur. Selain dari dapurnya, makna-makna filosofi keris juga tecermin dari pamor atau motif dari keris itu sendiri. Keris bukan lagi sebagai senjata, namun masyarakat Jawa memaknai bahwa keris sekarang hanya sebagai ageman atau hanya dipakai sebagai pelengkap busana Jawa yang masih mempunyai nilai spiritual religius, dan sebagai bukti manusia yang lahir, hidup dan kembali bersatu kepada Tuhan sebagai Manunggaling Kawulo Gusti.

Keris Sebagai Piyandel, Sebuah Tuntunan Hidup
Piyandel adalah sebuah keyakinan dan kepercayaan yang termanifestasikan dalam wujud berbagai benda-benda pusaka yang mengemuka secara fenomenal, penuh daya pikat dan sarat lambang yang harus didalami dan dimengerti dengan baik, benar dan mendalam. Kepercayaan bukan berisi tentang sesuatu yang pantas disembah dan dipuja, tetapi sebuah wahana yang berwujud (wadag) yang berisi doa, harapan dan tuntunan hidup (filosofi hidup) manusia jawa yang termaktub dalam

“sangkan parang dumadi – sangkan paraning pambudi – manunggaling kawula Gusti”.

Piwulang-piweling ini terformulasi dalam sebuah benda buatan yang disebut keris atau tombak.

Melihat keris sama halnya dengan melihat wayang. Keleluasaan pemahaman dan pengertian mengenainya tergantung luasnya cakrawala dan pengalaman hidup orang tersebut terhadap hidup dan kehidupan. Jadi tergantung kepada “kadhewasaning Jiwa Jawi” – kedewasaan orang dalam berfikir dan bersikap secara arif dan bijaksana.
Semakin orang itu kaya pengalaman rohani – semakin kaya pula ia mampu menjabarkan apa yang tertera di dalam sebilah keris.

Pada mulanya, di saat manusia jawa ada pada peradaban berburu, keris adalah alat berburu (baca: mencari hidup). Kemudian ketika manusia mulai menetap dan bersosialisasi dengan sesamanya, keris menjadi alat untuk berperang (baca : mempertahankan hidup). Lebih lanjut lagi setelah tidak lagi diperlukan perang dan manusia mulai berbudaya, keris pun menjadi senjata kehidupan (baca: tuntunan hidup). Yaitu senjata untuk mengasah diri menjadi orang yang lebih beradab dan berperiperadaban hingga mencapai penyatuan diri dengan Penciptanya. Hal ini sangat nyata ditunjukkan dalam lambang-lambang yang mengemukan pada ricikan-ricikan keris.

Ilmu keris adalah ilmu lambang. Mengerti dan memahami bahasa lambang mengandalkan peradaban rasa (sense) – bukan melulu kemampuan intelektual. Jadi adalah keliru jika memahami keris secara dangkal sebagai sebuah benda yang berkekuatan magis untuk mengangkat harkat dan martabat manusia. Keris menjadi pusaka karena makna lambang-lambang dalam keris dianggap mampu menuntun pembuat dan pemiliknya untuk hidup secara benar, baik dan seimbang. Dan bagi orang jawa, hidup ini penuh pralambang yang masih samar-samar dan perlu dicari dan diketemukan melalui berbagai laku, tirakat maupun dalam berbagai aktivitas sehari-hari manusia jawa, misalkan dalam bentuk makanan (tumpeng, jenang, jajan pasar,dsb), baju beskap, surjan, bentuk bangunan (joglo, limas an, dsb) termasuk juga keris. Di dalam benda-benda sehari-hari tersebut tersembunyi sebuah misteri berupa pesan dan piwulang serta wewler yang diperlukan manusia untuk mengarungi hidup hingga kembali bersatu dengan Sang Pencipta.

Dalam tradisi budaya Jawa ada sebuah pemahaman
“Bapa (wong tuwa) tapa, anak nampa, putu nemu, buyut katut, canggah kesrambah, mareng kegandeng, uthek-uthek gantung siwur misuwur”.
Jika orang tua berlaku tirakat maka hasilnya tidak hanya dirasakan olehnya sendiri dan anak-anaknya melainkan hingga semua keturunannya. Demikian juga sebaliknya. Oleh karena itu manusia Jawa diajak untuk selalu hidup prihatin, hidup “eling lan waspada”, hidup penuh laku dan berharap. Siratan-siratan laku, tirakat, doa, harapan, cita-cita restu sekaligus tuntunan itu diwujudkan oleh para leluhur Jawa dalam wujud sebuah senjata. Senjata bukan dilihat sebagai melulu wadag senjata (tosan aji) melainkan dengan pemahaman supaya manusia sadar bahwa senjata hidup dan kehidupan adalah sebuah kearifan untuk selalu mengasah diri dalam olah hidup batin
Oleh karena itu orang Jawa menamakan keris dengan sebutan Piyandel – sipat kandel, karena memanifestasikan doa, harapan, cita-cita dan tuntunan lewat dapur, ricikan, pamor, besi, dan baja yang dibuat oleh para empu dalam laku tapa, prihatin, puasa dan selalu memuji kebesaran Tuhan.

“Niat ingsun nyebar ganda arum. Tyas manis kang mantesi, ruming wicara kang mranani, sinembuh laku utama”.

Tekadku menyebarkan keharuman nama berlandaskan hati yang pantas (positive thinking), berbicara dengan baik, enak didengar, dan pantas dipercaya, sembari menjalankan laku keutamaan.

Meski demikian keris tetaplah benda mati. Manusia Jawa pun tidak terjebak dalam pemahaman yang keliru tentang pusaka. Peringatan para leluhur tentang hal ini berbunyi :

“Janjine dudu jimat kemat, ananging agunging Gusti kang pinuji”.

Janji bukan jimat melainkan keagungan Tuhan-lah yang mesti diluhurkan. 

“Nora kepengin misuwur karana peparinge leluhur, ananging tumindak luhur karana piwulange leluhur”. 

Tidak ingin terkenal lantaran warisan nenek moyang, melainkan bertindak luhur karena melaksanakan nasihat nenek moyang. Oleh karena itu keris bukan jimat, tetapi lebih sebagai piyandel sebagai sarana berbuat kebajikan dan memuji keagungan Ilahi.