Senin, 23 Februari 2015

Shunya ning Shunya

Shunya Ning Shunya berarti kesadaran paling tinggi, kesadaran Paramashiwa. Ganapati Tattwa menyebutkan: “Keberadaan Bathara di dalam, beliau selalu di sana. Di dasar hati, itulah yang disebut Alam Goa. Ia sangat halus. Shunya ning Shunya, kecilnya kecil. Itulah alam Paramakewalya. Tidak ada  suka dan duka

Shunya

Kakawin Dharma Shunya, Dharma Putus, Dharma Niskala adalah trilogi yang membicarakan Shunya. Dharma Shunya Tanpa Maya, Dharma Shunya Tan Paguru, Dharma Jati Tan Pakelir adalah beberapa teks Tutur yang mengajarkan bagaimana mengadakan Shunya di dalam kesadaran-diri. Ada juga teks yang berjudul Tattwa Maha Shunya. Pada teks lainnya, yang lebih muda usia, Shunya menjadi topik yang selalu tidak selesai dibicarakan. Disebutkan, Shunya asal dari mana semua ini datang dan tujuan ke mana semua ini kembali. Tutur Mahapadma menyebutkan Sang Hyang Dharma Sunya disebut Awang-Awang. Tidak terkena gelap, tak ada angin  berhembuas, tak ada hujan, tak ada rupa dan bentuk, tak ada suara, hanya terang benderang selalu. Tak terhingga luasnya Shunya

Embang


    Kata embang dalam bahasa Bali berarti ‘ruang kosong’. Sang Hyang Embang adalah sebutan lain Sang Hyang Widdhi yang disifatkan sebagai kekosongan tak bertepi. Bumi disebut telur Brahma [brahmanda] dalam embang. Tapi embang juga berarti jalan setapak dan pagar yang terkuak. Kidung Coak berarti nyanyian pagar yang dulunya rapat kemudian terkuak. Kidung ini sarat kritik kehidupan pendeta. Ada ‘pagar rapat’ bernama tradisi melindungi mereka. Ketika pagar tradisi itu terkuak [coak], nampaklah manusia darah daging apa adanya. Cerita Bungkling dan cerita I Belog dalam Sastra Bali adalah contoh produk perjuangan mencari embang dalam kerapatan tradisi.

Arti Puyung dalam Hindu


Puyung berarti kosong. Tidak berisi. Kebalikan dari penuh. Sering dijadikan teka-teki oleh pemikir dan sastrawan: apa isi kosong? Shiwa tidak ke mana-mana tapi ada di mana-mana [wibhushakti]. Shiwa kecil sekecil-kecilnya dan halus sehalus-halusnya [anima]. Tak ada yang tak disusupinya. Sehingga ada di dalam  apa saja. Ia memenuhi segala. Tak ada ruang yang tak dimasuki dan dipenuh-sesakinya. Karena itu, isi puyung adalah kepenuhan. Teka-teki isi kosong menjadi topik Geguritan Tamtam, Kidung Coak,  Kakawin Dharma Shunya, Kakawin Dharma Putus dan sejumlah saksi-aksara lainnya.

Pantaraning Rwa dalam hindu


Pasti diantara kita semua banyak yang belum mengetahui apa itu Pantaraning Rwa.
sebenarnya arti Pantaraning Rwa itu berarti ‘di antara yang dua’, yaitu dualisme dikotomis [rwa bineddha], seperti baik-buruk, suci-leteh, surga-neraka. Seorang mahayogi hidup bersama yang dua tapi tidak terikat oleh keduanya.  Ia bebas dari keduanya. Ia tidak menjadi bagian dari salah satunya. Tidak juga menjadi bagian dari keduanya. Kakawin Dharma Shunya menyebutkan: ‘Di antara yang dua itulah tempatkan dirimu. Hindu mengajarkan orang terus berjuang membebaskan diri dari yang serba dua itu. Tujuan hidup spiritual bukan yang dua tapi Nol. Teks Kalepasan mengajarkan pemisahkan Purusha dengan Pradhana. Wrehaspati Tattwa menyebutkan: ‘Di antara Surga dan Neraka itulah tempat penyucian Atma’.

kata Nol dalam hindu


 NOL,,,( 0 ) sering kita jumpai, namun kita belum mengetahui apa sih sebenarnya angka nol itu.
Apakah ada kata untuk angka nol [0] dalam bahasa Bali?
Tidak ada. Tapi dalam bahasa Bali ada beberapa kata menggambarkan hakikat nol: puyung, coak, windu, bindu. Nol bukan sekadar angka tapi konsep. Nol berbentuk bulatan yang di dalamnya terdapat ruang kosong. Ruang kosong itu selain dipahami sebagai kesempurnaan juga sebagai kepenuhan. Kekosongan itu kepenuhan, dan sebaliknya. Pada angka Nol semua titik yang membangun angka itu bertemu. Nol dikonsepsikan sebelum adanya Awal dan sesudah adanya Akhir. Menurut sejarahnya, angka nol adalah sumbangan pikiran Hindu pada dunia.