Sabtu, 12 April 2014

BHAGAVAD GITA-SAMKYA YOGA


II.   RINGKASAN  ISI  BHAGAVAD-GĪTA  (Prb.Pād)
SAMKYA  YOGA (G.Pudja; Maswinara)
DIMULAINYA  AJARAN   BHAGAVAD-GĪTA (TL.Waswani)
SANG  DIRI  SEJATI

2.1
sañjaya  uvāca
tam  tathā  kŗpayāvistam    aśru-pūrņākulekşaņam
visīdantam  idam  vākyam    uvāca  madhusūdanah
tam—kepada Arjuna;  tathā—demikian;  kŗpaya—oleh kasih sayang; āvistam—tergugah; aśru-pūrņākula—penuh air mata; īkşaņam—mata; visīdantam—menyesal; idam—ini; vākyam—kata-kata;    uvāca—bersabda;    madhu-sūdanah—pembunuh Madhu.
Sañjaya berkata: Setelah melihat Arjuna tergugah rasa kasih sayang dan murung, matanya penuh air mata, madhusūdana Kŗşņa, bersabda sebagai berikut.  (Prabu.Pād)
tam—kepada dia;  tathā—demikian, seperti itu;  kŗpayāvistam—diliputi rasa belas kasihan;    Kŗpa—kasihan; aśrupūrņākulekşaņam—penuh air mata dipelupuk mata; visīdantam—yang menderita ini;  idam—ini;  vākyam—kata-kata;    uvāca—berkata;  madhusūdanah—Kŗşņa Pembasami musuh;
Sañjaya berkata: “Madhusudana berkata kepada dia (Arjuna) yang diliputi rasa belas kasihan dengan pelupuk mata digenangi air mata oleh rasa remuk redam dalam hati, sebagai berikut.” G.Pudja.


2.2
śrī-bhagavān  uvāca
kutas  tvā   kaśmalam  idam     vişame  samupasthitam
anārya-juşţam  asvargyam     akīrti-karam arjuna
kutah—dari mana;  tvā—kepada engkau;  kaśmalam—hal-hal yang kotor; idam—penyesalan ini;  vişame—pada krisis ini;  samupasthitam—tiba;  anārya—orang yang tidak mengetahui nilai hidup;  juşţam—dipraktekkan oleh;  asvargyam—yang tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi;   akīrti—penghinaan;   karam—penyebab.
Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa bersabda: Arjuna yang baik hati, bagaimana sampai hal-hal yang kotor ini menghinggapi dirimu? Hal-hal ini sama sekali tidak pantas bagi orang yang mengetahui nilai hidup. Hal-hal seperti itu tidak membawa seseorang ke planet-planet yang lebih tinggi, melainkan menjerumuskan dirinya ke dalam penghinaan. (Prabu.Pād)
kutastvā—pada saat engkau;   kaśmalam—dalam kesulitan;  idam—ini;     vişame—lemah hati; samupasthitam—telah datang, tiba;
anāryajuşţam—tidak bersifat Arya, tidak kesatria; Ajustam—tidak luhur;  asvargyam—tidak menyebabkan mendapat surga, tidak mungkin akan dapat mengantar ke surga;     akīrtikara—perbuatan yang memalukan, tidak terpuji.
Bhātara Kŗşņa bersabda: Pada saat kesulitan seperti ini, di mana kedukaan dan lemah hati datang dan sesungguhnya bukan sifat yang ksatria (Arya), tidak luhur dan memalukan serta menjauhkan diri dari sorga, Oh, Arjuna. G.Pudja.

2.3
klaibyam    sma  gamah  pārtha     naitat  tvayy  upapadyate
kşudram  hŗdaya-daurbalyam     tyaktvottişţha  parantapa
klaibyam—kelemahan;  mā sma—jangan;  gamah—mulai mengikuti;  pārtha—wahai putra Pŗthā;   na—tidak pernah;  etat—ini;  tvayi—kepada engkau;  upapadyate—pantas; kşudram—remeh;  hŗdaya—dari hati;  daurbalyam—kelemahan;   tyaktvāmeninggalkan;   uttişţha—bangun;    param-tapa—wahai yang menghukum musuh.
Wahai putra Pŗthā, jangan menyerah kepada kelemahan yang hina ini. Itu tidak pantas bagimu. Tinggalkanlah kelemahan hati yang remeh itu dan bangunlah, wahai yang menghukum musuh. (Prabu.Pād)
klaibyam—rasa ketakutan, pengecut;    sma  gamah—tidak memberikan, tidak mengakibatkan;   naitat tvayyupapadyate—itu tidak sesuai untukmu; kşudram—miskin, rendah, hina;  hŗdayadaurbalyam—kelemahan hati, hati yang kecut;     tyaktvottişţha—buang dan bangun (dalam arti bangkit dalam kesadaran);  parantapa—Penakluk musuh;
O Arjuna janganlah kau berikan kelemahan itu, sebab itu tidak sesuai bagimu. Lenyapkan rasa kelemahan dan takut itu, bangunlah oh pahlawan yang menggetarkan musuh. G.Pudja.

2.4
Arjuna  uvāca
katham  bhişmam  aham  sańkye    droņam  ca  madhusūdana
işubhih  pratiyotsyāmi     pūjārhāv  ari-sūdana
katham—bagaiman; bhişmam—Bhişma; aham—saya; sańkye—dalam pertempuran; droņam—Droņa;  ca-juga;  madhusūdana—O Pembunuh rakşasa Madhu; işubhih—dengan anak panah;  pratiyotsyāmiakan membalas serangan;  pūjā-arrhāu—mereka yang patut disembah;  ari-sūdana—O Pembunuh musuh.
Arjuna berkata: O Pembunuh musuh, O Pembunuh Madhu, bagaimana saya dapat membalas serangan orang seperti Bhişma dan Droņa dengan panah pada medan perang, padahal seharusnya saya menyembah mereka? (Prabu.Pād)
katham—bagaimana;  sańkye—dalam pertempuran, dalam peperangan;  madhusūdana—Pembunuh raksasa madhu;  işubhih—dengan anak panah;  pratiyotsyāmi—berperang melawan;     pūjārhāw—yang patut dihormati;  ari-sūdana—Kŗşņa, pembunuh musuh.
O Madhusudana, bagaimana mungkin saya bisa menyerang Bhisma dan Drona dengan panah dalam pertempuran ini. Mereka yang patut saya hormati, O Kresna. G.Pudja.


2.5
gurūn  ahatvā  hi  mahānubhāvān     śreyo  bhoktum  bhaikşyam  apīha  loke
hatvārtha-kāmāms  tu  gurūn  ihaiva    bhuñjīya  bhogān  rudhira-pradigdhān
gurūn—para atasan;  ahatvā—tidak membunuh;  hi—pasti;  mahā-anubhāvān—roh-roh yang mulia;  śreyah—lebih baik;  bhoktum—menikmati hidup;  bhaikşyam—dengan mengemis; api—walaupun; iha—dalam hidup ini; loke—di dunia ini; hatvā—membunuh; artha—keuntungan; kāmān—menginginkan;  tu—tetapi;  gurūn—para atasan; iha—di dunia ini; eva—pasti; bhuñjīya—seseorang harus menikmati;  bhogān—hal-hal yang dapat dinikmati;  rudhira—darah;    pradigdhān—ternoda dengan.
Lebih baik saya hidup di dunia ini dengan cara mengemis daripada hidup sesudah mencabut nyawa roh-roh mulia itu, yaitu guru-guru saya. Kendatipun mereka menginginkan keuntungan duniawi, mereka tetap atasan. Kalau mereka terbunuh, segala sesuatu yang kita nikmati akan ternoda dengan darah. (Prabu.Pād).
gurūnahatvā—tidak membunuh guru;  hi—sesungguhnya, dengan sendirinya;  mahānubhāvān—sangat dihormati;  śreyo—lebih baik;  bhoktum—memakan;  bhaikşyam—meminta-minta;  api—juga, bahkan;  iha—di sini;  loke—di dunia;  hatvā—dengan membunuh, setelah membunuh; artha-kāmāmstu—untuk mendapat harta dan kesengan;  iwa—seperti;    bhuñjīya—saya akan menikmati;  bhogān—untuk kesengan;  rudhira-pradigdhān—berlumuran darah.
Daripada membunuh guru yang mulia di dunia ini akan lebih baik menjadi peminta-minta, walaupun maduk duniawi, tetapi tetap menjadi guru saya, sedangkan membunuh mereka, berarti hidup berlumuran darah. G.Pudja.



2.6
na  caitad  vidmah  kataran  no  gariyo    yad    jayema  yadi    no  jayeyuh
yān  eva  hatvā  na  jijivīşāmas     te  ‘vasthitāh  pramukhe  dhārtarāştrāh
na—tidak juga;  ca—juga; etat—ini;  vidmah—kita mengetahui; katarat—yang mana; nah—bagi kita; gariyah—lebih baik; yat vā—apakah; jayema—kita dapat merebut; yadi—kalau; va—atau; nah—kita;  jayeyuh—mereka merebut; yān—orang yang; eva—pasti; hatvā—dengan membunuh; na—tidak pernah; jijivīşāmas—kita akan mau hidup; te—semuanya; avasthitāh—berada;   pramukhe—di depan;   dhārtarāştrāh—para putra Dhŗtarāşţra.
Kita juga tidak mengetahui mana yang lebih baik-mengalahkan mereka atau dikalahkan oleh mereka. Kalau kita mambunuh para putra Dhŗtarāşţra, kita tidak mau hidup. Namun sekarang mereka berdiri di hadapan kita di medan perang. (Prabu.Pād).
na—tidak;  caitadvidmah—dan ini kami tahu;  kataranno—menurut kami;  gariyo—lebih baik;    yadwa—apakah;  jayema—kami menang;  yadi wā—atau apakah;  no—mereka;  jayeyuh—menang;  yānewa—yang;  hatvā—setelah membunuh, dengan membunuh; najijivīşāmaste—kami tidak inginkan untuk hidup;  avasthitāh—mereka;  pramukhe—berdiri tegap berbaris di depan kami.
Yang mana lebih menguntungkan kami, tidaklah jelas apakah kami akan menang. Membunuh mereka yang kita tidak harapkan untuk hidup, orang-orang itu sekarang berdiri siap di depan kita, keturunan prabu Dhritarastra. G.Pudja.


2.7
kārpaņya-doşopahata-svabhāvah     pŗcchāmi  tvām  dharma-sammūdha-cetāh
yac chreyah syān niścitam brūhi tan me śişyas te ‘ham śadhi mam tvām prapannam
kārpaņya—dari sifat pelit; doşo—oleh kelemahan; upahata—menderita; svabhāvah—ciri-ciri;   pŗcchāmi—hamba bertanya;  tvām—kepada Anda;  dharma—dharma;  sammūdha—dibingungkan; cetāh—di dalam hati; yat—apa; śreyah—segala kebaikan; syāt—dapat terjadi; niścitam—dengan keyakinan; brūhi—beritahukan; tat—itu; me—kepada hamba; śişyah—murid; te—milik Anda; aham—hamba adalah; śadhi—ajarkan saja; mam—hamba; tvām—kepada Anda;  prapannam—menyerahkan diri.
Sekarang hamba kebingungan tentang kewajiban hamba dan sudah kehilangan segala ketenangan karena kelemahan yang picik. Dalam keadaan ini, hamba mohon agar Anda memberitahukan dengan pasti apa yang paling baik untuk hamba. Sekarang hamba menjadi murid Anda, dan roh yang sudah menyerahkan diri kepada Anda. Mohon memberi pelajaran kepada hamba. (Prabu.Pād).
kārpaņya—lemah, miskin; doşa—berdosa; upahata—terluka; svabhāvah—alamiah;     pŗcchāmi—bertanya;  tvām—engkau;  dharma-sammūdha-cetāh—kewajiban yang membingungkan pikiran;  yac chreyah—apa yang lebih baik; syān niścitam—adalah tentunya; brūhi—mengatakan;  tan me—itu kepada saya;  śişyas te—dari muridmu; śadhi—mengajar; mam—kepada saya; prapannam—saya datang.
Oleh karna hati yang lemah, pikiran yang kacau balau tentang apa yang benar untuk dilakukan, saya bertanya pada-Mu, katakanlah kepada saya mana yang lebih bermanfaat; Saya murid-Mu ajarilah saya, saya datang untuk dapat perlindungan Mu. G.Pudja.

2.8
na  hi  prapaśyāmi  mamāpanudyād    yac  chokam  ucchoşaņam  inndriyāņām
avāpya  bhūmāv  asapatnam  ŗddham    rājyam  surāņām  api  cādhipatyam
na—tidak;  hi—pasti;  prapaśyāmi—hamba melihat;  mama—milik hamba; apanudyāt—dapat menghilangkan;  yat—itu yang; śokam—penyesalan;  ucchoşaņam—mengeringkan;  inndriyāņām—milik indria-indria; avāpya—mencapai; bhūmāu—di bumi; asapatnam—yang tiada taranya;  ŗddham—makmur;  rājyam—kerajaan;  surāņām—milik para dewa;  api—walaupun;  ca—juga;   ādhipatyam—kekuasaan.
Hamba tidak dapat menemukan jalan untuk menghilangkan rasa sedih ini yang menyebabkan indria-indria hamba menjadi kering. Hamba tidak akan dapat menghilangkan rasa itu, meskipun hamba memenangkan kerajaan yang makmur yang tiada taranya di bumi ini dengan kedaulatan seperti para dewa di surga. (Prabu.Pād).
na  hi—tidak;  prapaśyāmi—saya lihat dengan jelas;  mama—saya punya; apanudyād—dapat melenyapkan, dapat negenyahkan;    yacchokam—penderitaan itu;  ucchoşaņam—menahan, mematikan;  awāpya—dengan memperoleh, dengan mendapatkan;  bhūmāwasapatnam—di dunia tiada yang melawan;  riddham—luas;    rājyam—wilayah, kedaulatan;  surāņāmapi—biar dewa sekalipun;  adhipatyam—berkuasa.
Saya tak melihat yang dapat mengenyahkan duka ini yang mematikan panca indera saya walaupun seandainya saya mendapat kekayaan dan kekuasaan yang tiada taranya di bumi dan berkuasa atas para Dewa-dewa di surga. G.Pudja.


2.9
sañjaya  uvāca
evam  uktvā  hŗşīkeśam     gudākeśah  parantapah
na  yotsya  iti  govindam     uktvā  tūşņīm  babhūva  ha
evam—demikian; uktvā—berkata; hŗşīkeśam—kepada Kŗşņa, Penguasa indriaindria; gudākeśah—Arjuna, ahli dalam membatasi kebodohan; parantapah—perebut musuh; na  yotsya—hamba tidak akan bertembur;  iti—demikian; govindam—kepada Kŗşņa yang memberi kebahagiaan kepada indria-indria;  uktvā—berkata;  tūşņīm—diam; babhūva—menjadi;  ha—pasti.
Sañjaya berkata: Setelah berkata demikian, Arjuna, perebut musuh, menyatakan kepada Kŗşņa, ‘Govinda, hamba tidak akan bertempur,” lalu diam. (Prabu.Pād).
evam  uktvā—setelah berkata demikian;  hŗşīkeśam—kepada Kŗşņa;     gudākeśah—Arjuna;  na  yotsya—tidak mau bertempur;  iti—demikian;  govindam—kepada Kŗşņa;  tūşņīm—diam tidak berkata; babhūva—ada (p);  ha—ia.
Sañjaya berkata: Setelah mengemukakannya kepada Kŗşņa, Arjuna si penakluk musuh berkata kepada Kŗşņa: “Aku tidak mau bertempur,” dan kemudian ia terdiam tertegun. G.Pudja.




2.10
tam  uvāca  hŗşikeśah     prahasann iva  bhārata
senayor  ubhayor  madhye     vişīdantam  idam  vacah
tam—kepada dia;  uvāca—bersabda;  hŗşikeśah—Penguasa indria-indria, Kŗśņa; prahasan—tersenyum; iva—seperti itu; bhārata—Dhŗtarāşţra, putra keluarga Bharata, senayoh—antara tentaratentara;  ubhayoh—antara kedua belah pihak;  madhye—di tengah-tengah; vişīdantam—kepada yang menyesal;   idam—berikut;   vacah—kata-kata.
Wahai putra keluarga Bharata, pada waktu itu, Kŗşņa, yang tersenyum di tengah-tengah antara tentara-tentara kedua belah pihak, bersabda kepada Arjuna yang sedang tergugah oleh rasa sedih. (Prabu.Pād).
tam  uvāca—berkata kepadanya, kepada dia;  prahasann iva—seperti senang adanya; senayor  ubhayor—kedua pasukan;  madhye—di tengah;     vişīdantam—keadaan sedih;  idam—ini;  vacah—kata-kata, ucapan;
O Arjuna, Kŗşņa dengan sedikit tersenyum berkata kepadanya (Arjuna) yang berdiri di tengah-tengah kedua pasukan dalam keadaan sedih, kata-kata ini. G.Pudja.


2.11
śrī-bhagavān  uvāca
aśocyān  anvaśocas  tvam     prajñā-vādāmś  ca  bhāsase
gatāsūn  agatāsūmś  ca     nānuśocanti  paņditāh
aśocyān—sesuatu yang tidak patut disesalkan;  anvaśocah—engkau menyesal;  tvam—engkau;     prajñā-vādāh—pembicaraan yang bijaksana;  ca—juga; bhāsase—membicarakan; gata—hilang; asūn—hidup;  agata—yang belum lewat; asūn—hidup; ca—juga; na—tidak pernah;   anuśocanti—menyesal;    paņditāh—orang bijaksana.
Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa bersabda: Sambil berbicara dengan cara yang pandai engkau menyesalkan sesuatu yang tidak patut disesalkan. Orang bijaksana tidak pernah menyesal, baik untuk yang masih hidup maupun untuk yang sudah meninggal. (Prabu.Pād).
aśocyānanvaśoca—untuk siapa tidak perlu duka itu;  prajñā-vādām—kata-kata orang yang bijaksana;  bhāsase—tetapi engkau katakan;  gatāsūnagatāsūm—untuk kematian makhluk hidup;  nānuśocanti—tak usah bersedih;  paņditāh—orang bijaksana.
Bhagawan Krisna bersabda: Engkau berduka kepada mereka yang tak patut engkau sedihi, namun engkau bicara tentang kata-kata kebijaksanaan. Orang yang bijaksana tidak akan bersedih baik bagi yang hidup maupun yang mati. G.Pudja.


2.12
na  tv  evādam  jātu  nāsam    na  tvam  neme  janādhipāh
na  caiva  na  bhavişyāmah    sarve  vayam  atah  param
na—tidak pernah;  tu—tetapi; eva—pasti; aham—aku;  jātu—pada suatu waktu;  na—tidak pernah; āsam—berada; na—tidak;  tvam—engkau;  na—tidak; ime—semua ini; jana-adhipāh—raja-raja; na—tidak; ca—juga; eva—pasti;  na—tidak;  bhavişyāmah—akan hidup; sarve  vayam—kita semua;   atah-param—sesudah ini.
Pada masa lampau tidak pernah ada suatu saat pun Aku, engkau maupun semua raja ini tidak ada; dan pada masa yang akan datang tidak satu pun di antara kita semua akan lenyap. (Prabu.Pād).
na  twevāham—sesungguhnya tidak pernah Aku.  jātu  nāsam—tidak ada;     na tvam—tidak engkau;  neme—tidak kini;  janādhipāh—penguasa atas manusia, pemimpin manusia; na  caiva—namun tidak pernah pula; bhavişyāmah—kami akan ada;     sarve—semua;  vayamatah—dari kita;  param—setelah hidup ini, stelah ini.
Demikian juga tidak pernah ada saat, di mana Aku, Engkau dan para Pemimpin ini tidak ada dan tidak akan ada saat di mana kita kan berhenti ada, sekalipun sesudah mati. G.Pudja.

2.13
dehino ‘smin  yathā  dehe    kaumāram  yauvanam  jarā
tathā  dehāntara-prāptir   dhīras  tatra  na  muhyati
dehinah—dia yang berada di dalam badan; asmin—dalam ini; yathā—seperti; dehe—di dalam badan;    kaumāram—masa kanak-kanak; yauvanam—masa remaja;  jarā—masa tua; tathā—seperti itu pula;  deha-antara—mengenai penggantian badan; prāptih—tercapainya; dhīrah—orang tenang;   tatra—pada waktu itu;   na—tidak pernah;    muhyati—dibingungkan.
Seperti halnya sang roh terkurung di dalam badan terus menerus mengalami perpindahan, di dalam badan ini, dari masa kanak-kanak sampai masa remaja sampai usia tua, begitu juga sang roh masuk ke dalam badan lain pada waktu meninggal. Orang yang tenang tidak bingung karena penggantian itu. (Prabu.Pād).
dehino ‘smin  yathā—wujud jiwa dalam badan ini seperti;  dehe—dalam tubuh;    kaumāram—waktu masa anak;  yauvanam—masa muda;  jarā—umur tua;  tathā—kemudian;  dehāntara-prāptir—bada yang lain;   dhīras—orang yang pemberani, mempunyai intuisi, imajinasi;  na  muhyati—tidak tergoyahkan.
Sebagaimana halnya Jiwa itu ada pada masa kecil, masa muda dan masa tua demikian juga dengan didapatinya badan yang baru, orang yang bijaksana tidak akan tergoyahkan. G.Pudja.


2.14
mātrā-sparśās  tu  kaunteya     śītoşņa-sukha-duhkha-dāh
āgamāpāyino ‘nityās    tāms  titikşasva  bhārata
mātrā-sparśāh—penglihatan indria; tu—hanya; kaunteya—wahai putra Kuntī; śīta—musim; uşņa—musim panas; sukha—kebahagiaan; duhkha—dan rasa duka; dāh—memberikan; āgama—muncul; apāyinah—menghilang; anityāh—tidak kekal;  tān—semuanya; titikşasva—coba mentolerir;  bhārata—wahai putra keluarga Bharata.
Wahai putra Kuntī, suka dan duka muncul untuk sementara dan hilang sesudah beberapa waktu, bagaikan mulai dan berakhirnya musim dingin dan musim panas. Hal-hal itu timbul dari penglihatan indra, dan seseorang harus belajar cara mentolerir hal-hal itu tanpa goyah, wahai putra keluarga Bharata. (Prabu.Pād).
mātrā—(ltn: materia), elemen, unsur;  sparśa—kontak, hubungan, sentuhan; śīto—dingin; āgamāpāyino—datang dan pergi; anityā—tidak langgeng;  titikşaswa—terima, tahanlah;  Sesungguhnya hubungan dengan badan jasmaniah, Oh Arjuna, menimbulkan panas dan dingin, suka-duka datang dan pergi, tidak kekal, terimalah hai Arjuna. G.Pudja.


2.15
yam  hi na  vyathayanti ete     puruşam  puruşaŗşabha
sama-duhkha-sukham  dhīram    so ‘mŗtatvāya  kalpate
yam—kepada yang; hi—pasti; na—tidak pernah;  vyathayanti—menyedihkan; ete—semua ini; puruşam—kepada seseorang;  puruşa-ŗşabha—wahai manusia yang paling baik; sama—tidak diubah; duhkha—dalam duka; sukham—dan suka; dhīram—sabar; sah—dia; amŗtatvāya—untuk pembebasan;  kalpate—dianggap memenuhi syarat.
Wahai manusia yang paling baik (Arjuna), orang yang tidak goyah karena suka dan duka dan mantap dalam kedua keadaan itu pasti memenuhi syarat untuk mencapai pembebasan. (Prabu.Pād).
yam—kepada siapa; vyathayantiete—mereka terpengaruh; sama—sama saja; dhīram—orang yang teguh iman;    so amŗtatvāya kalpate—ia untuk kekekalan adalah patut.
Sesungguhnya orang yang teguh pikirannya oh Arjuna, yang merasakan sama antara susah dan senang, orang seperti inlah yang patut hidup kekal abadi. G.Pudja.


2.16
nāsato  vidyate  bhāvo     nābhāvo  vidyate  satah
ubhayor  api  dŗşţo ‘ntas    tv  anayos  tatva-darśibhih
nā—tidak pernah; asatah—mengenai hal-hal yang tidak ada;  vidyate—ada; bhāvah—ketahanan;   na—tidak pernah;  abhāvah—sifat berubah;  vidyate—ada;  satah—mengenai hal yang kekal; ubhayoh—antara kedua-duanya; api—sungguh-sungguh; dŗşţah-dilihat; antah—kesimpulan; tu—memang;  anayoh—mengenai hal-hal itu; tatva—kebenaran; darśibhih—oleh mereka yang melihat.
Orang yang melihat kebenaran sudah menarik kesimpulan bahwa apa yang tidak ada (badan jasmani) tidak tahan lama dan yang kekal (sang roh) tidak berubah. Inilah kesimpulan mereka setelah mempelajari sifat kedua-duanya. (Prabu.Pād).
nāsato—tidak yang ada, apa yang tidak ada;  widyate—adalah;  bhāwo—ada;     abhāwo—tidak ada;  satah—yang nyata;  ubhayor—dari kedua;  drişţo‘ntas—tampak terbatas;  tatva-darśibhih—mereka yang mampu melihat hakekat pertama.
Apa yang tidak ada, tak akan pernah ada (dan) apa yang ada, tak akan berhenti ada, kesimpulannya keduanya telah dapat dimengerti oleh para filsuf. G.Pudja.


2.17
avināsi  tu  tad  viddhi    yena sarvam  idam tatam
vināśam  avyayasyāsya    na  kaścit  kartum  arhati
avināsi—tidak dapat dimusnahkan; tu—tetapi;  tat—itu;  viddhi—ketahuilah hal itu; yena—oleh siapa; sarvam—seluruh badan;  idam—ini; tatam—berada dimana-mana; vināśam—peleburan;  avyayasya—milik hal yang tidak termusnahkan; asya—milik itu;  na kaścit—tak seorang pun;  kartum—melakukan;  arhati—dapat.
Hendaknya engkau mengetahui bahwa apa yang ada dalam seluruh badan tidak dapat dimusnahkan. Tidak seorang pun dapat mambinasakan sang roh yang tidak dapat dimusnahkan. (Prabu.Pād).
avināsi—tidak termusnahkan; viddhi—mengetahui;    yena—dengan mana; sarvamidam—semua ini;  tatam—dilingkupi; vināśam—hancur;  avyayasyāsya—kekekalan; na  kaścit—tak seorang pun;  kartum—melakukan;   arhati—dapat.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya itu melingkupi semua ini tidak dapat dihancurkan. Tidak seorang pun yang dapat memusnahkannya yang tidak mengenal kemusnahan. G.Pudja.


2.18
antavanta  ime  dehā    nityasyoktāh  śarīrinah
anāśino  ‘prameyasya    tasmād  yudhyasva  bhārata
anta-vantah—dapat dimusnahkan;  ime—semua ini;  dehāh—badan-badan jasmani;    nityasya—kehidupan yang kekal; uktāh—dikatakan;  śarīrinah—milik roh yang berada dalam badan; anāśinah—tidak pernah dibinasakan; aprameyasya—tidak dapat diukur; tasmāt—karena itu;  yudhyasva—bertempurlah;  bhārata—wahai putra keluarga Bharata.
Makhluk hidup yang tidak dapat dimusnahkan atau diukur dan bersifat kekal, memiliki badan jasmani yang pasti akan berakhir. Karena itu, bertempurlah, wahai putra keluarga Bharata. (Prabu.Pād).
antavanta—mempunyai akhir;  ime—yang ini;  dehā—badan;    nityasya—dari yang kekal;  uktāh—dikatakan;  śarīrinah—raga jiwa;  anāśino—dari yang tidak termusnahkan;  aprameyasya—yang tidak terbatas;    tasmād—karena itu;  yudhyasva—bertempurlah.
Sesungguhnya raga jiwa ini langgeng tiada terhancurkan dan tiada terbatas akhir, karena itu bertempurlah, hai Arjuna. G.Pudja.

2.19
ye  enam  vetti  hantāram    yaś  cainam  manyate  hatam
ubhau  tau  na  vijānīto   nāyam  hanti  na  hanyate
yah—siapa pun yang; enamini; vetti-mengetahui;  hantāram—pembunuh; yah—siapa pun yang;  ca—juga; enam-ini;  manyate—berfikir;  hatam—terbunuh; ubhau—kedua-duanya; taumereka;  na—tidak pernah;  vijā-nītah—memiliki pengetahuan;   na—tidak pernah; ayamini;  hanti—membunuh;  na—tidak juga;   hanyate—dibunuh.
Orang yang menganggap mkhluk hidup membunuh atau bahwa makhluk hidup dibunuh tidak memiliki pengetahuan, sebab sang diri tidak membunuh dan tidak dapat dibunuh.(Prabu.Pād).
ya—yang;  enam—Ini;  vetti—mengetahui;  hantāram—pembunuh;  manyate—yang berpikir;  hatam—dibunuh, terbunuh;  ubhau—kedua;  tauini;  na  vijānīto—bodoh;   nāyam—Ia tidak;  hanti—membunuh;  na  hanyate—tidak dibunuh.
Sesungguhnya ia yang memikirkan Ini sebagai pembunuh dan ia yang berpendapat bahwa ini dapat dibunuh kedua-duanya adalah dungu, karena Ini tidak pernah membunuh dan dibunuh. G.Pudja.


2.20
na  jāyate  mriyate    kadācit    nāyam  bhūtvā  bhavitā    na  bhūyah
ajo  nityah  śaśvato  ‘yam  purāņo    na  hanyante  hanyamāne  śarīre
na—tidak pernah;  jāyate—dilahirkan;  mriyate—mati;  vā—atau;  kadācit—pada suatu waktu (pada masa lampau, sekarang maupun masa yang akan datang); na—tidak pernah; ayam—ini;  bhūtvā—setelah berada; bhavitā—akan berada;  vā—atau;  na—tidak;  bhūyah—atau yang akan berada sekali lagi; ajah—tidak dilahirkan; nityah—kekal; śaśvatah—tetap untuk selamanya; ayam—ini;  purāņah—paling tua; na—tidak pernah;  hanyante—dibunuh; hanyamāne—dengan dibunuh;  śarīre—badan.
Tidak ada kelahiran maupun kematian bagi sang roh pada saat manapun. Dia tidak terciptakan pada masa lampau, ia tidak diciptakan pada masa sekarang, dan dia tidak akan diciptakan pada masa yang akan datang. Dia tidak dilahirkan, berada untuk selamanya dan bersifat abadi. Dia tidak terbunuh apabila bada dibunuh. (Prabu.Pād).
na  jāyate—tidak dilahirkan;  mriyate—mati;  vā—pun juga;  kadācin—kapan saja;    nāyam—Ia tidak juga;  bhūtvā—menjadi ada;  bhavitā—akan datang;  bhūyah—setelah ini;  ajo—tidak lahir;  nityah—kekal;  śaśvato—Abadi;  ayam—Ia;   purāņo—kuno, sejak dahulu;  na  hanyante—Ia tidak dibunuh;  hanyamāne—bila dibunuh;  śarīre—badan.
Ia tidak pernah lahir pun juga tidak pernah mati atau setelah ada tak ‘kan berhenti ada. Ini tidak dilahirkan, kekal, abadi, yang sejak dahulu Dia tidak mati pada saat badan jasmani inimati. G.Pudja.

2.21
vedāvināśinam  nityam    ya  enam  ajam  avyayam
katham  sa  puruşah  pārtha    kam  ghātayati  hanti  kam
veda—mengetahui; avināśinam—dapat dimusnahkan;  nityam—selalu berada; yah—orang yang;  enam—ini (sang roh);  ajam—tidak dilahirkan;  avyayam—tidak dapat diubah; katham—bagaimana;  sah—itu;  puruşah—seseorang;  pārtha—wahai Arjuna; kam—siapa; ghātayati—menyebabkan melukai;  hanti—membunuh;  kam—siapa.
Wahai Pārtha, bagaimana mungkin orang yang mengetahui bahwa sang roh tidak dapat dimusnahkan, bersifat kekal, tidak dilahirkan dan tidak pernah berubah dapat membunuh seseorang atau menyebabkan seseorang membunuh? (Prabu.Pād).
veda—mengetahui; avināśinam—tak terhancurkan;  ya—ia yang;  enam—dia (yang)  ajam—tidak terlahirkan; katham—bagaimana;  sa—ia, itu;  puruşah—gelar hakekat yang absulut transendental;  kam—kepada siapa;  ghātayati—menyebabkan melukai;  hanti—mati, terbunuh.
Ia yang mengetahui Ia tak termusnahkan, langgeng, tanpa akhir, tidak berubah; bagaimana Purusa itu menyebabkan membunuh atau terbunuh-Nya, O Arjuna. G.Pudja.


2.22
vāsāmsi  jīrņāni  yathā  vihāya    navāni  gŗhņāti  naro  ‘parāņi
tathā  śarīrāņi  vihāya  jīrņāny    anyāni  samyāti  navāni  dehī
vāsāmsi—pakaian; jīrņāni—tua dan rusak;  yathā—seperti halnya; vihāya—meninggalkan; navāni—pakaian baru;  gŗhņāti—menerima;  narah—seorang manusia; aparāņi—orang lain; tathā—dengan cara yang sama;  śarīrāņi—badan-badan;  vihāya—meninggalkan;  jīrņāni—tua dan tidak berguna;    anyāni—berbeda;  samyāti—sungguh-sungguh menerima;  navāni—pasangan-pasangan baru;  dehī—dia yang berada di dalam badan.
Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dan membuka pakaian lama, begitu pula sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan lama yang tidak berguna. (Prabu.Pād).
vāsāmsi—pakaian;  jīrņāni—rusak, robek;  yathā—demikian;  vihāya—membuang;    navāni—yang baru;  gŗhņāti—memakai, menggantikan;  nara—orang-orang;  aparāņi—yang lain;  tathā—demikian, begitu;  śarīrāņi—badan wadag;  anyāni—yang lain;  samyāti—berpakaian;  dehī—raga jiwa (Jiwātman).
Sebagai halnya orang menanggalkan pakaian yang telah dipakai dan menggantikannya dengan yang baru demikian pula halnya Jiwātman meninggalkan badan yang telah dipakai dan memasuki jasmani yang baru. G.Pudja.
2.23
nainam  chindanti  śastrāņi     nainam  dahati  pāvakah
na  cainam  kledayanty  āpo    na śoşayati  mārutah
na—tidak pernah; enam—ini; chindanti—dapat memotong;  śastrāņi—senjata-senjata; na—tidak pernah;  enam—roh ini; dahati—membakar;  pāvakah—api; na—tidak pernah;  ca—juga; enam—roh; kledayanty—membasahai;  āpah—air; na—tidak pernah; śoşayati—mengeringkan;  mārutah—angin.
Sang roh tidak pernah dapat dipotong menjadi bagian-bagian oleh senjata mana pun, dibakar oleh api, dibasahi oleh air, atau dikeringkan oleh angin. (Prabu.Pād).
nainam—tidak dia;  chindanti—(ia) melukai;  śastrāņi—senjata-senjata;  dahati—membakar;  pāvaka—api;  kledayanti—membasahi;  āpo—air; śoşayati—mengeringkan;  mārutah—angin.
Senjata tidak dapat melukai-Nya dan api tidak biasa membakar-Nya, angin tidak dapat mengeringkan-Nya dan air tidak bisa membasahi Nya. G.Pudja.


2.24
acchedyo  ‘yam  adāhyo  ‘yam    akledyo  ‘śoşya  eva  ca
nityah  sarva-gatah  sthaņur    acalo ‘yam sanātanah
acchedyah—tidak dapat dipatahkan; ayam—roh ini;  adāhyah—tidak dapat dibakar; ayam—roh tersebut;  akledyah—tidak dapat dilarutkan; aśoşyah—tidak dapat dikeringkan;  eva—pasti;  ca—dan; nityah—berada selamanya;  sarva-gatah—berada di mana-mana; sthaņur—tidak dapat diubah;  acalah—tidak dapat digerakkan; ayam—ini;  sanātanah—sama untuk selamanya.
Roh yang individual ini tidak dapat dipatahkan dan tidak dapat dilarutkan, dibakar ataupun dikeringkan. Ia hidup untuk selamanya, berada di mana-mana, tidak dapat diubah, tidak dapat dipindahkan, dan tetap sama untuk selamanya. (Prabu.Pād).
acchedyo—tidak dapat dilukai;  ayam—Ini, Ia;  adāhyo—tidak terbakar; akledyo—tidak dapat dibasahi;  aśoşya—tidak dapat dikeringkan;  nityah—kekal;  sarvagatah—maha ada, melingkupi semua;  sthaņur—tidak berubah;    acalo—tidak bergerak; sanātanah—kekal abadi.
Sesungguhnya Dia tidak dapat dilukai, dibakar dan juga tidak dapat dikeringkan dan dibasahi;  Dia kekal, tiada berubah, tidak bergerak, Dia abadi. G.Pudja.


2.25
avyakto  ‘yam  acintyo ‘yam    avikāryo  ‘yam  ucyate
tasmād  evam  viditvainam    nānuśocitum  arhasi
avyaktah—tidak dapat dilihat; ayam—roh ini;  acintyah—tidak dapat dimengerti; ayam—roh ini;    avikāryahtidak dapat diubah; ayam—roh ini;  ucyate—dikatakan; tasmāt—karena itu; evam—seperti itu; viditvā—mengetahui dengan baik; enam—roh ini; na—tidak; anuśocitum—menyesal;  arhasi—patut bagi engkau.
Dikatakn bahwa sang roh itu tidak dapat dilihat, tidak dapt dipahami dan tidak dapat diubah. Mengingat kenyataan itu, hendaknya engkau jangan menyesal karena badan. (Prabu.Pād).
avyakta—tidak dapat dirumuskan dengan kata-kata;  acintya—tidak terpikirkan; avikārya—tidak berubah;  tasmād—karena itu;  evam—seakan-akan;  viditvainam—dengan mengetahui-Nya;    nānuśocitum—jangan membuat kamu sedih;  arhasi—harus.
Dia tidak dapat dirumuskan dengan kata-kata, tidak dapat dipikirkan dan dinyatakan tidak berubah-ubah; karena itu orang yang mengetahui sebagaimana halnya, karenanya engkau tidak usah berduka. G.Pudja.



2.26
atha  cainam  nitya-jātam    nityam    manyase  mŗtam
tahtāpi  tvam  mahā-bāho    nainam  śocitum  arhasi
atha—akan tetapi, kalau; ca—juga; enam—roh ini; nitya-jātam—selalu dilahirkan; nityam—untuk selamanya;  vā—atau;  manyase—engkau berpikir seperti itu;   mŗtam—mati; tathā-api—masih;  tvam—engkau;  mahā-baho—wahai yang berlengan perkasa; na—tidak pernah; enam—tentang sang roh;  śocitum—menyesal; arhasi—patut.
Akan tetapi kalau engkau berpikir bahwa sang roh (gejala-gejala hidup) senantiasa dilahirkan dan selalu mati, toh engkau masih tidak mempunyai alasan untuk menyesal, wahai Arjuna yang berlengan perkasa. (Prabu.Pād).
atha—seandainya, bahkan;  nityajātam—selalu hadir;  vā—atau;  manyase—berpikir, berpendapat;  mŗtam—mati;  tahtāpitetapi, namun;  nainam—tidak hendaknya;  śocitum—untuk bersedih; arhasi—harus.
Seandainya engkau berpendapat Dia selalu lahir dan mati, walaupun demikian engkau hendaknya tidak usah menyesal, O Arjuna. G.Pudja.


2.27
jātasya  hi  dhruvo  mŗtyur    dhruvam  janma  mŗtasya  ca
tasmād aparihārye  ‘rthe    na  tvam  śocitum  arhasi
jātasya—mengenai orang yang sudah dilahirkan; hi—asti; dhruvah-kenyataan; mŗtyuh—kematian;   dhruvam—juga kenyataan;  janma—kelahiran;  mŗtasya—mengenai yang sudah mati;  ca—juga; tasmāt—karena itu; aparihārye—mengenai sesuatu yang tidak dapat dihindari; arthe—dalam hal;  na—jangan;  tvam—engkau;  śocitum—menyesal;  arhasi—pantas.
Orang yang sudah dilahirkan pasti akan meninggal, dan sesudah kematian, seseorang pasti akan dilahirkan lagi. Karena itu, dalam melaksanakan tugas kewajibanmu yang tidak dapat dihindari, hendaknya engkau jangan menyesal. (Prabu.Pād).
jātasya—dari kelahiran;  hi—sesungguhnya;  dhruvotentu, pasti;  mŗtyur—mati; janma  mŗtasya—orang yang  mati;  tasmād—karena itu; aparihārye—tidak dapat dielakkan; arthe—tujuan, maksudnya, untuk apa.
Sesungguhnya setiap yang lahir, kematian dalah pasti, dan demikian pula setiap yang mati kelahiran adalah pasti, dan ini takterelakkan, karena itu tak ada alasan engkau merasa menyesal. G.Pudja.


2.28
avyaktādīni  bhūtāni    vyakta-madhyāni  bhārata
avyakta-nidhanāny eva    tatra    paridevanā
avyakta-ādīni—pada awal tidak berwujud; bhūtāni—semua yang diciptakan; vyakta—terwujud; madhyāni—di tengah-tengah; bhārata—wahai putra keluarga Bharata; avyakta—tidak terwujud; nidhanāni—apabila dimusnahkan; eva—semuanya seperti itu; tatra—itu; kā—apa;  paridevanā—penyesalan.
Semua makhluk yang diciptakan tidak berwujud pada awalnya, terwujud pada pertengahan, dan sekali lagi tidak berwujud pada waktu dileburkan. Jadi apa yang perlu disesalkan? (Prabu.Pād).
avyaktādīni  bhūtāni—Makhluk-makhluk yang semula tidak kelihatan;    vyaktam—menjelma; madhyāni—dipertengahan;  avyaktanidhanānyeva—juga tidak menjelma pada akhirnya;    tatra—dari sebab itu;  kā—apakah;  paridevanā—untuk menyesal, untuk meratapi.
Makhluk-makhluk itu pada mulanya tidak kelihatan, dan terlahir pada saat dipertengahan dan pada akhirnya lenyap dari wujudnya. Kenapa mesti menyesal, O Arjuna. G.Pudja.

2.29
āścarya-vat  paśyati  kaścid  enam    āścarya-vad  vadati  tathaiva  cānyah
āścarya-vac  cainam  anyah  śŗņoti    śrutvāpy  enam  veda  na  caiva  kaścit
āścarya-vat—sebagai sesuatu yang mengherankan; paśyati—melihat; kaścit—seseorang; enam—roh ini; āścarya-vat—sebagai sesuatu yang mengherankan;  vadati—berbicara tentang; tatha—demikian; eva—pasti;  ca—juga; anyah—lain; āścarya-vat—mengherankan seperti itu; ca—juga; enam—roh tersebut;  anyah—lain-lain;  śŗņoti—mendengar dari; śrutvā—setelah mendengar; api—bahkan;  enam—roh tersebut;  veda—mengetahui; na—tidak pernah; ca—juga;   eva—pasti;   kaścit—seseorang.
Beberapa orang memandang sang roh sebagai sesuatu yang mengherankan, beberapa orang menguraikan dia sebagai sesuatu yang mengherankan, dan beberapa orang mendengar tentang dia sebagai sesuatu yang mengherankan, sedangkan orang lain tidak dapat mengerti sama sekali tentang roh, walaupun mereka sudah mendengar tentang dia. (Prabu.Pād).
āścaryawat—kebesaran, kemulyaan;  kaścid—ada orang, seseorang;  tathaiva—lain lagi;  śŗņoti—mendengar;    śrutvā—setelah mendengar; veda—mengetahui.
Ada orang melihat kebesaran-Nya, yang lain menyatakan tentang keagungan-Nya, yang lain mendengar tentang kemuliaan-Nya, namun setelah mendengar Nya tidak seorang pun mengerti. G.Pudja.


2.30
dehī  nityam  avadhyo ‘yam    dehe  sarvasya  bhārata
tasmāt  sarvāņi  bhūtāni    na tvam  śocitum  arhasi
dehī—pemilik badan jasmani; nityam—untuk selamanya; avadhyah—tidak dapat dibunuh; ayam—roh ini; dehe—di dalam badan; sarvasya—milik semua orang;  bhārata—O putra keluarga Bharata; tasmāt—karena itu;  sarvāņi—semua;  bhūtāni—mahluk-mahluk hidup (yang dilahirkan);    na—tidak pernah;  tvam—engkau;  śocitum—bersedih;  arhasi—pantas.
O putra keluarga Bharata, dia yang tinggal dalam badan tidak pernah dapat di bunuh. Karena itu, engkau tidak perlu bersedih hati untuk makhluk manapun. (Prabu.Pād).
dehī—Jiwātman;  nityam—langgeng;  avadhyo—tak dapat dibunuh; ayam—ini;    dehe—di dalam tubuh;  sarvasya—dari segala; tasmāt—karena itu;  sarvāņi—serba;  bhūtāni—makhluk hidup;  śocitum—untuk bersedih;  arhasi—layak, patut.
Yang menghuni badan setiap makhluk, semuatidak akan dapat dibunuh, oh Bharata karena itu jangan bersedih atas kematian makhluk apapun. G.Pudja.


2.31
sva-dharmam  api  cāveksya  na  vikampitum  arhasi
dharmyād  dhi  yuddhāc  chreyo  ‘nyat  kşatriyasya  na  vidyate
sva-dharmam—prinsi-prinsip dharma sendiri;  api—juga;  ca—memang; aveksya—mengingat; na—tidak pernah;  vikampitum—ragu-ragu;  arhasi—patut bagi engkau; dharmyā—demi prinsip-prinsip dharma; hi—memang;  yuddhāt—daripada bertempur; śreyah—kesibukan yang lebih;  anyat—sesuatu yang lain; kşatriyasya—milik seorang kşatrya;  na—tidak; vidyate—ada.
Mengingat tugas kewajibanmu yang khusus sebagai seorang kşatrya, hendaknya engkau mengetahui bahwa tiada kesibukan yang lebih baik untukmu daripada bertempur berdasarkan prinsip-prinsip dharma; Karena itu, engkau tidak perlu ragu-ragu. (Prabu.Pād).
swadharma—kewajibam sendiri;  api—juga;  aveksya—petimbangan; vikampitum—menggetar, takut;  dharmyād—dari kewajiban;  dhi—sesungguhnya, pasti;  yuddhāc—daripada berperang;  chreyo—lebih baik;  anyat—dari yang lain;  kşatriyasya—bagi seorang kesatria;  na  vidyate—tidak ada.
Lagi pula bertempur menegakkan kebenaran dengan menyadari kewajiban masing-masing, engkau tidak boleh gentar, bagi kesatria tidak ada kebahagiaan lebih besar dari pada berperang mengegakkan kebenaran. G.Pudja.

2.32
yadŗcchayā  copapannam    svarga-dvāram  apāvŗtam
sukhinah  kşatryāh pārtha    labhate  yuddham  īdŗśam
yadŗcchayā—dengan sendirinya; ca—juga; upapannam—dicapai; svarga—dari planet-planet surga; dvāram—pintu;  apāvŗtam—terbuka lebar; sukhinah—bahagia sekali; kşatryāh—para anggota golongan raja;  pārtha—wahai putra Pŗthā; labhate—mencapai;  yuddham—perang; īdŗśam—seperti ini.
Wahai Pārtha, berbahagialah para kşatrya yang mendapat kesempatan bertempur seperti itu tanpa mencarinya—kesempatan yang membuka pintu gerbang planet-planet surga bagi mereka. (Prabu.Pād).
yadŗcchayā—Apa yang sesuai dengan sifatnya;  upapannam—tiba, datang;    svargadvāram—pintu surga;  apāvŗtam—terbuka lebar;  sukhinah—bahagai, senang; labhate—peroleh;  yuddham—peperangan;  īdŗśam—seperti ini.
Berbahagialah pahlawan yang sejati dapat kesempatan untuk bertempur dalam hal seperti ini, O Arjuna, karena bagi mereka pintu surga telah terbuka lebar. G.Pudja.


2.33
atha  cet  tvam imam  dharmyam    sańgrāmam  na  karişyati
tatah  sva-dharmam  kīrtim  ca    hitvā  pāpam  avāpsyasi

atha—karena itu;  cet—kalau;  tvam—engkau;  imam—ini;  dharmyam—sebagai kewajiban dharma;    sańgrāmam—pertempuran;  na—tidak;  karişyati—melakukan; tatah—kemudian;  sva-dharmam—tugas kewajiban dharmamu; kīrtim—kemasyuran;  ca—juga;  hitvā—kehilangan;  pāpam—reaksi dosa; avāpsyasi—akan memperoleh.
Akan tetapi, kalau engkau tidak melaksanakan kewajiban dharma-mu, yaitu bertempur, engkau pasti akan menerima dosa akibat melalaikan kewajibanmu, dan dengan demikian kemasyuranmu sebagai kesatria akan hilang. (Prabu.Pād).
atha—kemudian;  cet—bila;  dharmyam—kewajiban;    sańgrāmam—pertempuran; karişyati—akan melakukannya;  tatah—akhirnya, kemudian;  svadharmam  kīrtim—kehormatan atau kewajiban sendiri;  hitvā—membuang, mengabaikan;  pāpam—berdosa, bersalah, menderita;  avāpsyasi—akan memperoleh.
Akhirnya bila engkau tidak berperang, sebagaimana kewajiban, dengan meninggalkan kewajiban dan kehormatanmu, maka penderitaanlah yang akan kau peroleh. G.Pudja.

2.34
akīrtim  cāpi  bhūtāni    kathayişyanti  te  ‘vyayām
sambhāvitasya  cākīrtir    maraņād  atiricyate
akīrtim—nama buruk; ca—juga; api—terutama; bhūtāni—semua orang; kathayişyanti—akan membicarakan;  te—engkau; avyayām—untuk selamanya; sambhāvitasya—bagi orang yang terhormat;  ca—juga; akīrtih—nama yang buruk;  maraņāt—daripada kematian;  atiricyate—menjadi lebih daripada.
Orang akan selalu membicaraka  engkau sebagai orang yang hina, dan bagi orang yang terhormat, penghinaan lebih buruk daripada kematian. (Prabu.Pād).
akīrtim—tidak terhormat;  ca api—dan disamping itu;  bhūtāni—seluruh makhluk;    kathayişyanti—akan mengatakan;  te—engkau;  avyayām—dari ketidak kekalanmu, terus menerus;  sambhāvitasya—seseorang yang telah dihormati;  akīrtir—tidak dipuji, tidak dihormati;    maraņād—daripada mati;  atiricyate—lebih besar.
Semua mahkluk akan menyatakan nama burukmu terus menerus dan bagi seorang yang telah terhormat; kehilangan kehormatan lebih buruk daripada kematian. G.Pudja.

2.35
bhayād  raņād  uparatam    mamsyante  tvām  mahā-rathāh
yeşām  ca  tvam  bahu-mato  bhūtvā  yāsyasi  lāghavam
bhayāt—karena takut; raņāt—dari medan perang; uparatam—dihentikan; mamsyante—mereka akan menganggap; tvām—engkau;  mahā-rathāh—jendral-jendral yang besar; yeşām—untuk mereka;  ca—juga;  tvam—engkau;  bahu-matah—dijunjung tinggi; bhūtvā—sesudah menjadi;  yāsyasi—engkau akan pergi; lāghavam—nilai berkurang.
Jendral-jendral besar yang sangat menghargai nama dan kemasyuranmu akan menganggap engkau meninggalkan medan perang karena rasa takut saja, dan dengan demikian mereka akan meremehkan engkau. (Prabu.Pād).
bhayād—dari ketakutan;  raņād—dari peperangan;  uparatam—absten, tidak berbuat;    mamsyante—menganggap, meikirkan, mengira;  mahā-rathāh—pahlawan perang kereta yang  besar;  yeşām—di antara mereka;  bahu-mato—dihormati;  bhūtvā—telah terjadi;  yāsyasi—engkau akan menjadi;  lāghavam—akan diremehkan.
Para pahlawan kereta besar akan menganggap engkau penecut karena lari dari pertempuran dan mereka yang pernah mengagumi engkau engan penuh kehormatan akan merendahkan engkau dengan hinaan. G.Pudja.

2.36
avācya-vādāmś  ca  bahūn    vadişyanti  tavāhitāh
nindantas  tava  sāmarthyam    tato  duhkhataram  nu  kim
avācya—kurang baik; vādān—kata-kata yang dibuat; ca—juga; bahūn—banyak; vadişyanti—akan berkata; tava—milik engkau; ahitāh—musuh-musuh; nindantas—sambil mengejek;  tava—milik engkau; sāmarthyam—kesanggupan; tatah—daripada itu; duhkha-taram—lebih menyakiti hati;  nu—tentu saja; kim—ada apa.
Musuh-musuhmu akan menjuluki engkau dengan banyak kata yang tidak baik dan mengejek kesanggupanmu. Apa yang dapat lebih menyakiti hatimu daripada itu? (Prabu.Pād).
avācyavādām—kata-kata makian;  bahūn—banyak;     vadişyanti—mereka akan mengatakan;  tava—untukmu;  ahitāh—lawan, musuh;  nindantas—menghina kekuatanmu;  nu kim—adakah tidak demikian.
Mereka yang menentangmu akan melontarkan caci maki, merendahkan kemampuanmu dengan menjelekkan dan menghina kemampuanmu, apakah lebih sedih dari itu? G.Pudja.

2.37
hato    prāpsyasi  svargam    jitvā    bhokşyase  mahīn
tasmād  uttişţha  kaunteya    yuddhāya  kŗta-niścayah
hatah—dengan dibunuh; vā—atau; prāpsyasi—engkau mencapai; svargam—kerajaan surga;    jitvā—dengan mengalahkan;  vā—atau;  bhokşyase—engkau menikmati;  mahīn—dunia; tasmāt—karena itu; uttişţha—bangun;  kaunteya—wahai putra Kuntī;  yuddhāya—untuk bertempur;  kŗta—bertabah hati; niścayah—dalam kepastian.
Wahai putra Kuntī, engkau akan terbunuh di medan perang dan mencapai planet-planet surga atau engkau akan menang dan menikmati kerajaan di dunia. Karena itu, bangunanlah dan bertempur dengan ketabahan hati. (Prabu.Pād).
hato—dibunuh;  vā—atau;  prāpsyasi—akan menang;  svargam—surga;    jitvā—menang;  bhokşyase—akan menikmati;  mahīndunia.  uttişţha—bangun, bangkit; yuddhāya—untuk bertempur;  kŗta-niścayah—bulatkan pikiran, teguhkan hati.
Dengan kematian itu engkau memperoleh sorga atau kalau menang, engkau akan menikmati kebahagiaan dunia. Oleh karena itu bangkitlah Arjuna bulatkan tekad untuk berperang. G.Pudja.

2.38
sukha-dukhe  same  kŗtvā    lābhālābhau  jayājayau
tato  yuddhāya  yujyasva    naivam  pāpam  avāpsyasi
sukha—suka; dhukhe—dan duka; same—dengan sikap yang sama; kŗtvā—dengan melakukan demikian; lābha-alābhau—dalam untung maupun rugi;  jaya-ajayau—baik menang maupun kalah; tatah—sesudah itu; yuddhāya—demi pertempuran; yujyasva—menjadi sibuk (bertempur) na—tidak pernah; evam—dengan cara demikian;  pāpam—rekasi dosa;  avāpsyasi—engkau akan mendapatkan.
Bertempurlah demi pertempuran saja, tanpa mempertimbangkan suka atau duka, rugi atau laba, menang atau kalah—dengan demikian, engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa. (Prabu.Pād).
sukha-dukhe—dalam suka dan duka;  same—sama;  kŗtvā—lakukan;    lābhālābhau—untung rugi;  jayājayau—menang kalah;  tato—kemudian;  yujyasva—usahakan;    naivam—tidak demikian;  pāpam—dosa, penderitaan;  avāpsyasi—akan peroleh.
Dengan mempersamakan suka dan duka, untung dan rugi, menang dan kalah, siapkanlah dirimu untuk menghadapi perang itu, engkau terhidar dari dosa. G.Pudja.


2.39
eşā  te  ‘bhihitā  sāńkhye    buddhir  yoge  tv  imām  śŗņu
buddhyā  yukto  yayā  pārtha    karma-bandham  prahāsyasi
eşā—semua ini; te—kepada engkau;  abhihitā—diuraikan; sāńkhye—dengan memeplajari secara analisis; buddhih—kecerdasan;  yoge—dalam pekerjaan tanpa mengharapkan hasil atau pahala;  tu—tetapi;  imām—ini;  śŗņu—hanya dengarlah; buddhyā—dengan kecerdasan;  yuktah—digabungkan; yayā—oleh itu;  pārtha—wahai putra Pŗthā; karma-bandham—ikatan reaksi; prahāsyasi—engkau dapat dibebaskan dari.
Sampai sekarang Aku sudah menguraikan pengetahuan ini kepadamu melalui pelajaran analisis. Sekarang, dengarlah penjelasan-Ku tentang hal ini menurut cara bekerja tanpa mengharapkan hasil atau pahala. Wahai putra Pŗthā, bila engkau bertindak dengan pengetahuan seperti itu engkau dapat membebaskan diri dari ikatan pekerjaan. (Prabu.Pād).
eşā—ini;  te—kepadamu;  abhihitā—diajarkan;  sāńkhye—dalam filasafat Samkhya;    buddhiryoge—kebijaksanaan dalam yoga;  twimām—ini sekarang;  śŗņu—dengar;  buddhyā—dengan kecerdasan;  yukto—dihubungkan;  yayā—dengan mana; karma-bandham—terikat karma;  prahāsyasi—yang engkau akan lepaskan.
Inilah ajaran Sańkhya yang telah diajarkan kepadamu dan sekarang dengarkanlah ajaran Yoga. Bila engkau bersedia menerimanya, oh Arjuna, engkau harus melepaskan diri dari ikatan karma. G.Pudja.


2.40
nehābhikrama-nāśo ‘sti     pratyavāyo  na  vidyate
sv-alpam  apy  asya  dharmasya    trāyate  mahato  bhayāt
na—tidak ada; iha—dalam yoga ini; abhikrama—dalam berusaha; nāśah—kerugian; asti—ada;     pratyavāyah—pengurangan;  na—tidak pernah;  vidyate—ada; su-alpam—sedikit;  api—walaupun;  asya—dari ini;  dharmasya—pencaharian;  trāyate—membebaskan;  mahatah—dari yang besar sekali; bhayāt—bahaya.
Dalam usaha ini tidak ada kerugian atau pengurangan, dan sedikitpun kemajuan dalam menempuh jalan ini dapat melindungi seseorang terhadap rasa takut yang paling berbahaya. (Prabu.Pād).
neha—tidak di sini; abhikramanāśo—usaha sia-sia, merugi; asti—ada;     pratyavāyo—hambatan; vidyate—terdapat, terjadi;  swalpamapyasya—bahkan sedikit, walaupun ini kecil;  dharmasya—dari aturan ini;    trāyate—bebaskan;  mahato—besar;  bhayāt—dari rasa takut.
Dalam hal ini tidak ada usaha sia-sia, dan juga tidak ada rintangan yang tidak teratasi. Walau sedikit dari dharma ini, akan membebaskan dari ketakutan yang besar. G.Pudja.

2.41
vyavasāyātmikā  buddhir    ekeha  kuru-nandana
bahu-śakhā  hy  anantāś ca    buddhayo  ‘vyavasāyinām
vyavasāya-ātmikā—bertabah hati dalam kesadaran Kŗśņa; buddhih—kecerdasan; eka—hanya satu; iha—di dunia ini; kuru-nandana—wahai putra kesayangan para Kuru; bahu-śakhāh—mempunyai banyak cabang;  hi—pasti;  anantāh—tidak terhingga; ca—juga; buddhayah—kecerdasan; avyava-sāyinām—mengenai mereka yang tidak sadar akan Kŗşņa.
Orang yang menempuh jalan ini bertabah hati dengan mantap, dan tujuan mereka satu saja. Wahai putra kesayangan para Kuru, kecerdasan orang yang tidak bertabah hati mempunyai banyak cabang. (Prabu.Pād).
vyavasāyātmikā—pikiran yang bulat, berketetapan;  buddhir    ekeha—memahami yang satu;  kuru-nandana—kebahagiaannya Kuru;  bahu-śakhā—banyak cabang, dahan;  hi—sesungguhnya;  ananta—tidak habis-habisnya;   buddhayo—pengertian;  avyavasāyinām—yang tidak habis-habisnya, tidak terpecahkan, tidak teguh.
O Berbahagialah Arjuna, bahwa sesungguhnya pikiran yang bulat, pemahaman itu satu; tetapi yang bercabang-cabang dan tiada habis-habisnya, adalah karena ketidak tahuan. G.Pudja.

2.42-43
yām  imām  puşpitām  vācam    pravadanty  avipaścitah
veda-vāda-ratāh pārtha    nānyad  astīti  vādinah
kāmātmānah  svarga-parā    janma-karma-phala-pradām
kriyā-viśeşa-bahulām    bhogaiśvarya-gatim  prati
yām imām—semua ini; puşpitām—seperti bunga;  vācam—kata-kata;    pravadanti—berkatan; avipaścitah—orang yang kekurangan pengetahuan; veda-vāda-ratāh—orang yang dianggap pengikut veda;  pārtha—wahai putra Pŗthā; na—tidak pernah; anyat—sesuatu yang lain; asti—ada; iti—demikian; vādinah—para pendukung; kāma-ātmānah—menginginkan kepuasan indria; svarga-parāh—bertujuan untuk mencapai planet-planet surga; janma-karma-phala-pradām—mengakibatkan kelahiran dalam keadaan yang baik dan reaksi-reaksi lain yang berupa hasil atau pahala; kriyā-viśeşa—upacara-upacara yang bersifat ritual; bahulām—berbagai; bhoga—dalam kenikmatan indria-indria; aiśvarya—dan kekayaan; gatim—kemajuan;  prati—menuju.
Orang yang kekurangan pengetahuan sangat terikat pada kata-kata kiasan dari Veda, yang menganjurkan berbagai kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan pahala agar dapat naik tingkat sampai planet-planet surga, kelahiran yang baik sebagai hasilnya, kekuatan dan sebagainya. Mereka menginginkan kepuasan indria-indria dan kehidupan yang mewah, sehingga mereka mengatakan bahwa tiada sesuatupun yang lebih tinggi dari ini, wahai putra Pŗthā. (Prabu.Pād).
yām—mereka;  imām—ini;  puşpitām—berkembang;  vācam—kata-kata;    pravadanty—diucapkan;  avipaścitah—oleh yang tidak bijaksana;  vedavādaratāh—yang senang dalam ajaran Weda;   nānyadastīti—tidak lain di sana;  vādinah—mereka katakan.
kāmātmānah—yang jiwanya penuh dengan keinginan;  svargaparā—surga sebagai tertinggi;    janma—lahir;  pradām—memberi;  kriyāviśeşa-bahulām—upacara yadnya itu beraneka ragam dan banyak;    bhoga—kenikmatan;  iśvarya—kekuatan;  gatim—mengantar, pergi;  prati—menuju.
Sesungguhnya orang-orang yang tidak bijaksana mengucapkan kata-kata kembangan yang kesukaannya hanya pada apa yang tersurat dalam Weda. O Arjuna, tidak lain ucapan mereka adalah ini. G.Pudja.
Mereka pikirannya penuh dengan ingin kesenangan sorgalah sebagai tujuannya, inkarnasi sebagai karmapalanya; melakukan upacara-upacara yang aneka ragam dan banyak itu, dapat mengantar kearah kebahagiaan dan kekuatan. G.Pudja.


2.44
bhogaiśvarya-prasaktānām     tayāpahŗtta-cetasām
vyavasāyātmikā  buddhih    samādhau  na  vidhīyate
bhoga—kepada kenikmatan material; aiśvarya—dan kekayaan; prasaktānām—untuk orang yang terikat; tayā—oleh hal-hal seperti itu; pahŗtta-cetasām—bingung dalam pikiran; vyavasāya-ātmikā—mantap dalam ketabahan hati; buddhih—bhakti kepada Tuhan Yang Mahaesa; samādhau—dalam pikiran yang terkendali;  na—tidak pernah; vidhīyate—terjadi.
Ketabahan hati yang mantap untuk ber-bhakti kepada Tuhan Yang Mahaesa tidak pernah timbul di dalam pikiran orang yang terlalu terikat pada kenikmatan indria-indria dan kekayaan material. (Prabu.Pād).
prasaktānām—terikat, tergantung;     tayā—oleh ini;  pahŗtta—membawa; cetasa—pikiran; vyavasāyātmikā—pikiran yang tidak terpusatkan;  buddhih—pengertian;    samādhau—untuk Samadhi;  vidhīyate—pantas.
Orang yang kiranya terpengaruhi oleh keinginan akan kenikmatan  dan kekuasaan, pikirannya tidak akan terputusakan, tidak patut untuk semadi. G.Pudja.


2.45
trai-guņya-vişayā  vedā    nistrai-gunyo  bhavārjuna
nirdvandvo  nitya-sattva-stho    niryoga-kşema ātmavān
trai-guņya—menyangkut tiga sifat alam material; vişayāh—tentang mata pelajaran; vedāh—Kesusastraan Veda; nistrai-gunyah—melampaui tiga sifat alam material; bhava—menjadi; arjuna—wahai Arjuna; nirdvandvah—tanpa hal-hal yang relatif; nitya-sattva-sthah—dalam kehidupan rohani yang murni; niryoga-kşemah—bebas dari ide-ide untuk memperoleh keuntungan dan perlindungan; ātma-vān—mantap dalam sang diri.
Veda sebagian besar menyangkut tiga sifat alam. Wahai Arjuna, lampauilah tiga sifat alam itu. Bebaskanlah dirimu dari segala hal yang relatif dan segala kecemasan untuk keuntungan dan keselamatan dan jadilah mantap dalam sang diri. (Prabu.Pād).
traiguņa—(sattwa-Rajah-Tamah) adalah sifat pada setiap unsur (Bhūta); vişayā—terdiri;    nistraigunya—bebas dari Triguna;  nirdvandvo—tidak terikat aka  sifat dualisme;  nitya-sattva-stho—selalu berpegang pada kebenaran;    niryoga-kşema—bebas dari keterikatan duniawi;  ātmavān—memiliki Atmawan, bersatu dengan Atman.
Weda menguraikan tentang Triguņa, Arjuna, bebaskan dirimu dari padanya. Bebaskan diri dari dualisme, pusatkan pikiranmu kepda kebenaran, lepaskan dirimu dari duniawi, bersatu dengan Atman. G.Pudja.


2.46
yāvān  artha  udapāne    sarvatah  samplutodake
tāvān  sarveşu  vedeşu    brāhmaņasya  vijānatah
yāvān—semua itu; artha—dimaksudkan;  uda-pāne—di dalam kolam air; sarvatah—dalam segala hal; sampluta-udake—di dalam kolam air yang besar; tāvān—seperti itu;  sarveşu—dalam semua; vedeşu—kesusastraan Veda; brāhmaņasya—dari orang yang mengenal Brahman Yang Paling Utama;  vijānatah—orang yang memiliki pengetahuan yang lengkap.
Segala tujuan yang dipenuhi oleh sumur yang kecil dapat segera dipenuhi oleh sumber air yang besar, Begitu pula, segala tujuan Veda dapat segera dipenuhi bagi orang yang mengetahui maksud dasar Veda itu. (Prabu.Pād).
yāvān—sebagai misal;  artha—tujuan, penggunaan;  udapāne—kolam;    sarvatah—disekitarnya;  samplutodaka—digenangi air;  tāvān—demikian pula dalam;  sarveşu—semua;  vedeşu—di dalam Weda;    brāhmaņasya—bagi seorang Brahmana;  vijānatah—untuk kebijaksanaan.
Sebagai halnya sebuah kolam didaeah banjir yang digenangi air di mana-mana, demikian pula kitab suci Weda, bagi Brahmana yang arif bijaksana. G.Pudja.


2.47
karmaņy  evādhikāras  te      phaleşu  kadācana
  karma-phala-hetur  bhūr      te  sańgo  ‘stv  akarmaņi
karmaņi—dalam tugas-tugas kewajiban yang telah ditetapkan;  eva—pasti; adhikārah—benar;
te—dari engkau; mā—tidak pernah;  phaleşu—dalam hasil; kadācana—pada suatu waktu; mā—jangan;  karma-phala—dalam hasil dari pekerjaan; hetuh—sebab; bhūh—menjadi; mā—jangan;  te—dari engkau;  sańgah—ikatan;  astu—seharusnya;  akarmaņi—dalam kebiasaan tidak melakukan tugas-tugas yang telah ditetapkan.
Engkau berhak melakukan tugas kewajibanmu yang telah ditetapkan, tetapi engkau tidak berhak atas hasil perbuatan. Jangan memanganggap dirimu penyebab hasil kegiatanmu, dan jangan terikat pada kebiasaan tidak melakukan kewajibanmu. (Prabu.Pād).
karmani—dalam berkarma;  eva—hanya;  adhikāraste—kewajibanmu;  mā—tidak;  phaleşu—dalam hasil;  kadācana—jangan sekali-kali;  hetu—sebab; bhūrmamotif; sańgo—keterikatan;  astw—menjadi;  akarmani—tidak kerja.
Hanya berbuat untuk kewajibanmu, tidak hasil perbuatan itu (yang kau pikirakan), jangan sekali-kali pahala jadi motifmu dalam bekerja, jangan pula hanya berdiam diri. G.Pudja.


2.48
 yoga-sthah  kuru  karmāni    sańgam  tyaktvā  dhanañjaya
siddhy-asiddhyoh  samo bhūtvā    samattvam  yoga  ucyate
yoga-sthah—mantap secara seimbang;  kuru—melakukan; karmāni—tugas-tugas kewajibanmu; sańgam—ikatan; tyaktvā—meninggalkan;  dhanañjaya—wahai Arjuna; siddhy-asiddhyoh—dalam sukses dan kegagalan; samah—mantap; bhūtvā—menjadi; samattvam—sikap seimbang; yoga—yoga;  ucyate—disebut.
Wahai Arjuna, lakukanlah kewajibanmu dengan sikap seimbang, lepaskanlah segala ikatan terhadap sukses maupun kegagalan. Sikap seimbang seperti itu disebut yoga. (Prabu.Pād).
yogasthah—tetap dalam yoga, teguh;  kuru—lakukan;  karmāni—perbuatan;    sańgam—keterikatan;  tyaktvā—tinggkan;  dhanañjaya—Arjuna;  siddhyasiddhyoh—berhasil-gagal;    bhūtvā—menjadi;    samattvam—seimbang, sifat sama;  yoga—yoga;  ucyate—disebut.
Pusatkan pikiranmu pada kerja tanpa menghiraukan akibatnya, Dananjaya tegaklah pada Yoga baik dalm sukses maupun kegagalan, sebab keseimbangan jiwa itulah yang disebut yoga. G.Pudja.

2.49
dūrena  hy  avarm  karma    buddhi-yogād  dhanañjaya
buddhau  śaraņam  anviccha    kŗpaņāh  phala-hetavah
dūrena—membuang itu jauh-jauh; hi—pasti;  avarm—jijik; karma—kegiatan;  buddhi-yogāt—berdasarkan kekuatan kesadaran Kŗśņa; dhanañjaya—wahai perebut kekayaan; buddhau—dengan kesadaran seperti itu; śaraņam—penyerahan diri sepenuhnya; anviccha—usahalah untuk; kŗpaņāh—orang pelit;  phala-hetavah—orang yang menginginkan hasil atau pahala.
Wahai Danañjaya, jauhilah segala kegiatan yang jijik melalui bhakti dan dengan kesadaran seperti itu serahkanlah dirimu kepada Tuhan Yang Mahaesa. Orang yang ingin menikmati hasil dari pekerjaannya adalah orang yang pelit. (Prabu.Pād).

dūrena—jauh;  hi—sesungguhnya;  avarm—rendah, hina;  buddhi—intelek; yogād—dari yoga; 
buddhau—dalam intelek;  śaraņam—jalan, perhitungan;  anviccha—pencari;    kŗpaņāh—menyedihkan;  phalahetavah—pahala sebagai motif.
Sesungguhnya karma jauh lebih rendah dari pada disiplin akal budi, O Arjuna, karena itu berlindunglah pada Yang Maha Tahu. Sangat menyedihkan halnya ia yang hanya mengharap pahala dari kerja sebagai motifnya. G.Pudja.


2.50
buddhi-yukto  jahātīha     ubhe  sukŗta-duşkŗte
tasmād  yogāya  yujyasva    yogah  karmasu  kauśalam
buddhi-yuktah—orang yang tekun dalam bhakti;  jahāti—dapat menghilangkan; iha—dalam hidup ini; ubhe—kedua-duanya; sakŗta-duşkŗte—perbuatan yang baik dan buruk; tasmāt—karena itu; yogāya—demi bhakti;  yujyasva—menjadi sibuk seperti itu;  yogah—kesadaran Kŗşņa;  karmasu—dalam segala kegiatan;  kauśalam—ilmu.
Orang yang menekuni bhakti membebaskan dirinya dari perbuatan yang baik dan buruk bahkan dalam kehidupan ini pun. Karena itu berusahalah untuk yoga, ilmu segala pekerjaan. (Prabu.Pād).
buddhi—akal-budi, kepandaian; yukto—terikat, terkendali;  jahāti—meninggalkan; haia;     ubhe—kedua-duanya;  sukŗta—perbuatan baik;  duşkŗte—perbuatan tidak baik;  yogāya—untuk yoga;  yujyaswa—laksanakan olehmu;  karmasu—dalam tingkah laku;  kauśalam—akhli, pandai.
Orang yang terikat oleh Budhinya bebas dari perbuatan baik dan keji. Karena itu laksanakan yoga itu sebab dengan yogalah orang akhli dalam kerja. G.Pudja.


2.51
karma-jam  buddhi-yuktā  hi    phalam  tyaktā  manīşinah
janma-bandha-vinirmuktāh    padam  gacchanty anāmayam
karma-jam—oleh karena kegiatan yang dimaksudkan untuk membuahkan hasil; buddhi-yuktāh—dengan menekuni bhakti;  hi—pasti;  phalam—hasil;  tyaktā—meninggalkan;  manīşinah—resi-resi yang mulia atau penyembah-penyembah; janma-bandha—dari iktan kelahiran dan kematian; vinirmuktāh—sudah mencapai pembebasan; padam—kedudukan;  gacchanti—mereka mencapai;  anāmayam—tanpa kesengsaraan.
Dengan menekuni bhakti kepada Tuhan Yang Mahaesa seperti itu, resi-resi yang mulia dan penyembah-penyembah membebaskan diri dari hasil pekerjaan di dunia material. Dengan cara demikian mereka dibebaskan dari perputaran kelahiran dan kematian dan mencapai keadaan di luar segala kesengsaraan (dengan kembali kepada Tuhan Yang Mahaesa). (Prabu.Pād).
karmajam—lahir dari karma;  buddhiyuktam—terkendali oleh kebijaksanaan. tyaktā—membuang;  manīşinah—orang arif bijaksana;  janmabandha—orang yang lahirnya terbelenggu;  vinirmuktah—bebas;    padam—pada kedudukan, tempat.  gacchanti—pergi; anāmayam—di mana tidak terdapat penderitaan.
Bagi orang yang bijaksana, yang pikirannya bersatu dengan Yang Maha Tahu, tidak mendapatkan hasil dari perbuatannya (sebagai motif), akan tetapi kebebasan dari keterikatan karma dan mencapai tempat di mana tidak ada penderitaan. G.Pudja.


2.52
yadā  te  moha-kalilam    buddhir  vyatitarişyati
tadā  gantāsi  nirvedam    śrotavyasya  śrutasya  ca
yadā—apabila;  te—milik engkau;  moha—dari khayalan; kalilam—hutan yang lebat;    buddhih—pengabdian rohani dengan kecerdasan;  vyatitarişyati—melampaui; tadā—pada waktu istu;  gantā asi—engkau akan pergi;  nirvedam—sikap acuh; śrotavyasya—terhadap segala sesuatu yang akan didengar;  śrutasya—terhadap segala sesuatu yang sudah didengar;  ca—juga.
Bila kecerdasanmu sudah keluar dari hutan khayalan yang lebat, engkau akan acuh terhadap segala sesuatu yang sudah didengar dan segala sesuatu yang akan didengar. (Prabu.Pād).
yadā—bila; mohakalilam—terbebas dari kebingungan;  vyatitarişyati—akan menyeberang, melewati;  tadā—kemudian;  gantāsi—engkau akan pergi;  nirvedam—bersikap netral;    śrotavyasya—terhadap apa yang akan didengar;  śrutasya—apa yang didengar.
Apabila pikiran telah dibebaskan dari kebingunan, akhirnya engkau akan bersikap netral pada apa yang engkau dengar dan apa yang engkau akan dengar. G.Pudja.



2.53
śruti-vipratipannā  te    yadā  sthāsyati  niścalā
samādhāv  acalā  buddhis    tadā  yogam  avāpsyasi
śruti—dari wahyu Veda; vipratipannā—tanpa dipengaruhi oleh hasil atau pahala yang diharapkan;  te—milikmu; yadā—apabila;  sthāsyati—tetap; niścalā—tidak bergerak; samādhāv—dalam kesadaran rohani, ataun kesadaran Kŗşņa; acalā—tidak bergerak; buddhih—kecerdasan; tadā—pada waktu itu;  yogam—keinsafan diri;  avāpsyasi—engkau akan mencapai.
Bila pikiranmu tidak goyah lagi karena bahasa kiasan Veda, dan bila pikiranmu mantap dalam keinsafan diri, maka engkau sudah mencapai kesadaran rohani. (Prabu.Pād).
śruti—Catur Weda, termasuk Brahmana dan Aranyaka; vipra—orang bijaksana; pratipanna—membingungkan;  yadā—kalau;  sthāsyati—akan berdiam;  niścalā—tidak tergoyahkan; samādhāvacalā—dalam semadi yang tidak berobah;  buddhi—kebijaksanaan;    tadā—kemudian;  yogam—yoga, hubungan;  avāpsyasi—akan memperoleh.
Bila pikiranmu yang dibingungkan oleh Weda tidak akan tergoyahkan lai dan tetap dalam semadi, kemudian akhirnya engkau akan mencapai yoga. G.Pudja.

 2.54
arjuna  uvāca
sthita-prajñasya    bhāşā     samādhi-sthasya  keśava
sthita-dhīh  kim  prabhāşeta  kim  āsīta  vrajeta  kim
sthita-prajñasya—milik orang yang mantap dalam kesadaran Kŗşņa yang tetap; kā—apa;  bhāşā—bahasa; samādhi-sthasya—milik orang yang mantap dalam semadi; keśava—O Kŗşņa;
sthita-dhīh—orang yang mantap dalam kesadaran Kŗşņa; kim—apa; prabhāşeta—berbicara;  kim—bagaimana;  āsīta—tetap tidak bergerak;  vrajeta—berjalan;  kim—bagaimana.
Arjuna berkata: O Kŗşņa, bagaimana ciri-ciri orang yang kesadarannya sudah khusuk dalam kerohanian seperti itu? Bagaimana cara bicaranya dan bagaimana bahasanya? Bagaimana ia duduk dan bagaimana ia berjalan? (Prabu.Pād).
sthitaprajñasya—dengan mantapnya dalam kebijaksanaan;  kā—apa;  bhāşā—tanda;     samādhisthasya—seseorang yang tetap dalam samadhi; sthitadhīh—orang yang mantap pikirannya;  kim—bagaimana;  prabhāşeta—mengatakan;  kim  āsīta—bagaiman ia duduk;  vrajeta—berjalan.
Arjuna berkata; “O Kŗşņa, apakah caranya orang mantap kearifannya dan teguh imannya dalam samadi? Bagaimana pula cara orang yang bijaksana berbicara? Bagaimana caranya duduk? Bagaimana caranya berjalan?” G.Pudja.

2.55
śrī-bhagavān uvāca
prajahāti  yadā  kāmān    sarvān  pārtha  mano-gatān
ātmany evātmanā  tuşţah    sthita-prajñas tadocyate
prajahāti—meninggalkan;  yadā—apabila;  kāmān—keinginan untuk kepuasan indria-indria;    sarvān—segala jenis;  pārtha—wahai putra Pŗthā;  manah-gatān—dari tafsiran pikiran; ātmani—keadaan murni sang roh; eva—pasti; ātmanā—oleh pikiran yang sudah disucikan;  tuşţah—puas; sthita-prajñah—mantap secara rohani; tada—pada waktu itu; ucyate—dikatakan.
Kepribadian Tuhan Yang Mahaesa bersabda; O Pārtha, bila seseorang meninggalkan segala keinginan untuk kepuasan indria-indria, yang muncul dari tafsiran pikirannya, dan bila pikirannya yang sudah disucikan dengan cara seperti itu hanya puas dalam sang diri, dikatakan ia sudah berada dalam kesadaran rohani yang murni. (Prabu.Pād).
prajahāti—membuang, meninggalkan;  yadā—kalau;  kāmān—keinginan;  manogatān—masuk dalam pikiran;  ātmanyeva—diri sendiri saja, Atman itu juga;  ātmanā—oleh pikiran, oleh Atman;  tuşţah—memuaskan;   prajña—kearifan;  tada ucyate—demikian disebutkan.
Sri Bagawan bersabda:
“O Arjuna, jika seseorang dapat melenyapkan segala karma, yang masuk dalam pikirannya dan hanya puas dalam kepada Atman maka ia yang disebut orang bijaksana.” G.Pudja.

2.56
duhkheşv  anudvigna-manāh    sukheşu  vigata-spŗhah
vīta-rāga-bhaya-krodhah     sthita-dhīr  munir  ucyate
duhkheşu—dalam tiga jenis kesengsaraan;  anudvigna-manāh—tanpa digoyahkan dalam pikiran;  suhkeşu—di dalam suka;  vigata-spŗhah—tanpa merasa tertarik; vīta—bebas dari; rāga—ikatan; bhaya—rasa takut; krodhah—dan marah;  sthita-dhīh—yang mantap dalam pikirannya;  munir—resi;  ucyate—disebut.
Orang yang pikirannya tidak goyah bahkan ditengah-tengah tiga jenis kesengsaraan, tidak gembira pada waktu ada kebahagiaan, dan bebas dari ikatan, rasa takut dan marah, disebut resi yang mantap dalam pikirannya. (Prabu.Pād).
duhkhesw—dalam penderitan;  anudvigna-manāh—pikiran tidak terganggu;    sukhesu—dalam kesenangan;  vigata-sprihah—tidak ada kerinduan;  vīta—bebas; rāga—rasa cinta, kesenangan;  bhaya—takut;  krodha—marah;     sthita-dhīr—pikiran tetap;  muni—pendita, orang suci.
Orang yang tidak sedih dikala duka tidak kegirangan dikala bahagia bebas dari nafsu, takut dan amarah ia disebut orang suci.

2.57
yah sarvatrānabhisnehas    tat  tat  prāpya  śubhāśubham
nābhinandati  na  dveşti    tasya  prajñā  pratişţhitā
yah—orang yang; sarvatra—di mana-mana; anabhisnehah—tanpa rasa kasih sayang;  tat—itu;  tat—itu;  prāpya—mencapai;  śubha—baik; aśubham—hal-hal yang buruk; na—tidak pernah; abhinandati—memuji;  na—tidak pernah; dveşti—iri hati; tasya—milik dia;  prajñā—pengetahuan sempurna; pratişţhitā—mantap.
Di dunia material, orang yang tidak dipengaruhi oleh hal yang baik dan hal yang buruk yang diperolehnya, dan tidak memuji maupun mengejeknya, sudah mantap dengan teguh dalam pengetahuan yang sempurna. (Prabu.Pād).
yah—ia yang; sarvatrā—di mana-mana;  nabhisneha—tidak mempunyai keterikatan;    tat-tat  prāpya—bila mendapatkan itu-itu;  śubhāśubha—baik buruk; na—tidak; bhinandati—bersenang;  dveşti—benci;    tasya—ada padanya;  prajñā—kebijaksanaan;  pratişţhitā—ada dengan mantap.
Ia yang tidak mempunyai keterikatan di mana saja bila mendapat sesuatu yang baik atau buruk tidak akan ada rasa senang atau benci padanya, sesungguhnya ia adalah orang yang arif bijaksana yang telah memiliki kemantapan. G.Pudja.

2.58
yadā  samharate  cāyam     kūrmo ‘ńgānīva  sarvaśah
indriyāņīndriyārthebhyas    tasya  prajña  pratişţhitā
yadā—apabila;  samharate—menarik;  ca—juga; ayam—dia; kūrmah—kura-kura; ańgāni—anggota badan;  iva—ibarat;  sarvaśah—bersama-sama; indriyāņi—indria-indria; indriya-arthebhyah—dari obyek-obyek indria;  tasya—milik dia;  prajña—kesadaran;  pratişţhitā—mantap.
Orang yang dapat menarik indria-indrianya dari obyek-obyek indria,bagaikan kura-kura yang menarik kakinya ke dalam rumahnya, mantap dengan teguh dalam kesadaran yang sempurna. (Prabu.Pād).
yadā—kalau;  samharate—menarik;  cāyam—dan ia punya;     kūrmo ‘ńgānīva—sebagai anggota badan kura-kura;  sarvaśah—dari segala sisi;  indriyāni—panca indria;  indriyārthebhyastasya—segala obyek benda jasmani.
Ibarat penyu menarik kaki kedalam tubuhnya demikian ia menarik semua pancainderanya dari segenap obyek keinginannya, ia yang arif bijaksana dalam keseimbangan. G.Pudja.

2.59
vişayā  vinivartante    nirāhārasya  dehinah
rasa-varjam  raso  ‘py  asya    param  dŗştvā  nivartante
vişayāh—obyek-obyek kenikmatan indria; vinivartante—dilatih untuk dihindarkan;  nirāhārasya—dengan peraturan yang negatif;  dehinah—untuk dia yang berada di dalam badan; rasa-varjam—meninggalkan rasa;  rasah—rasa kenikmatan; api—walaupun ada; asya—milik dia; param—hal-hal yang jauh lebih tinggi;  dŗştvā—dengan mengalami;  nivartante—dia berhenti dari.
Barangkali kepuasan indria-indria sang roh yang berada dalam badan dibatasi, walaupun keinginan terhadap obyek-obyek indria tetap ada. Tetapi bila ia mengentikan kesibukan seperti itu dengan mengalami rasa yang lebih tinggi, kesadarannya menjadi mantap. (Prabu.Pād).
vişayā—benda, obyek indria;  vinivartante—jauhkan, buang jauh;    nirāhārasya—yang mengekang diri dari makanan-makanan;  dehinah—dari raga jiwa;  rasavarjam—rasa kerinduan;  rasa  api  asya—dan dari kerinduan inipun;    param—tertinggi;  dŗştvā—setelah melihat;  nivartante—mengenyahkan; membuang jauh-jauh.
Semua benda jasmani akan dicampakkan dari badan rohani, dan seleranya inipun akan lenyap bila Yang Maha Tahu menampakkan diri-Nya. Ibarat penyu menarik kaki kedalam tubuhnya demikian ia menarik semua pancainderanya dari segenap obyek keinginannya, ia yang arif bijaksana dalam keseimbangan. G.Pudja.

2.60
yatato  hy  api  kaunteya     puraşasya  vipaścitah
indriyāņi  pramāthīni     haranti  prasabham manah
yatatah—sambil berusaha;  hi—pasti;  api—walaupun;  kaunteya—wahai putra Kuntī;     puraşasya—milik seorang manusia;  vipaścitah—penuh pengetahuan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk; indriyāņi—indria-indria;  pramāthīni—menggoyahkan;     haranti—membuang;  prasabham—dengan kekuatan;  manah—pikiran.
Wahai Arjuna, alangkah kuat dan bergeloranya indria-indria sehingga pikiran orang bijaksana yang sedang berusaha untuk mengendalikan indria-indrianya pun dibawa lari dengan paksa oleh indria-indria itu. (Prabu.Pād).
yatato—walaupun;  hyapi—walaupun;   puraşasya—dari orang;  vipaścitah—berusaha; indriyāni—alat perasa panca indria;  pramāthīni—liar, mendorong;     haranti—membawa, menyeret;  prasabham—dengan kekuatan.
Walaupun seorang yang budiman telah berusaha sekuat tenaga, O Arjuna, panca inderanya yang liar akan menyeret pikirannya dengan kuat. G.Pudja.

2.61
tāni  sarvāņi  samyamya      yukta  āsīta  mat-parah
vaśe  hi  yasyendriyāņi    tasya  prajñā  pratişţhitā
tāni—indria-indrai itu;  sarvāņi—semua;  samyamya—menjaga dibawah pengendalian;      yuktah—sibuk;  āsīta—harus mantap;  mat-parah—sehubungan dengan-Ku; vaśe—menaklukkan sepenuhnya;  hi—pasti;  yasya—orang yang; indriyāņi—indria-indria; tasya—milik dia; prajñā—kesadaran;  pratişţhitā—mantap.
Orang yang mengekang dan mengendalikan indria-indria sepenuhnya dan memusatkan kesadarannya sepenuhnya kepada-Ku, dikenal sebagai orang yang mepunyai kecerdasan yang mantap. (Prabu.Pād).
tāni—ini;  sarvāni—semua;  samyamya—setelah dapat menguasai;   yukta—tetap pada;  āsīta—bakti;  mat-parah—tetap kepada-Ku;  vaśe—menguasai;  yasyendryiāni—yang panca indranya;  prajñā—kearifan;  pratisthitā—teguh, seimbang.
Setelah dapat menguasai semua ini ia harus duduk memusatkan pikiran pada-Ku, sebab yang dapat mengendalikan panca inderanya dinamakan memiliki kebijaksanaan yang tetap. G.Pudja.

2.62
dhyāyato  vişayān  pumsah    sańgas  teşūpajāyate
sańgāt  sañjāyate  kāmah    kāmāt  krodho ‘bhijāyate
dhyāyatah—sambil merenungkan;  vişayān—obyek-obyek indria; pumsah—mengenai seseorang; sańgah—ikatan;  teşu—dalam obyek-obyek indria; upajāyate—berkembang; sańgāt—dari ikatan;  sañjāyate—berkembang;  kāmah—keinginan;    kāmāt—dari ikatan;  krodhah—amarah; abhijāyate—terwujud.
Selama seseorang merenungkan obyek-obyek indria, ikatan terhadap obyek-obyek indria itu berkembang. Dari ikatan seperti itu berkembanglah hawa nafsu, dan dari nafsu timbulah amarah. (Prabu.Pād).
dhyāyato—memikirkan pada;  vişayān—pada obyek;  pumsah—benda duniawi, manusia; sańgas—keterikatan;  teşu—pada mereka;  upajāyate—ditimbulkan, dilahirkan;  sańgāt  sañjāyate—keterikatan ditimbulkan;   kāmāt—dari keinginan;  krodho—kemarahan; abhijāyate—dilahirkan.
Dengan memikirkan benda jasmani maka orang akan terbelenggu padanya; dari padanya lahir keinginan, dan dari keinginan ini timbul amarah. G.Pudja.



2.63
krodhād  bhavati  sammohāh     sammohāt  smŗti-vibhramah
smŗti-bhramśād  buddhi-naśo    buddhi-nāśāt  praņaśyati
krodhāt—dari amarah;  bhavati—terjadi;  sammohāh—khayalan yang sempurna;     sammohāt—dari khayalan; smŗti—mengenai ingatan; vibhramah—kebingunan; smŗti-bhramśād—sesudah ingatan dibingungkan;  buddhi-naśah—kehilangan kecerdasan;   buddhi-nāśāt—dan dari kehilangannya kecerdasan;  praņaśyati—seseorang jatuh.
Dari amarah, timbulah khayalan yang lengkap, dan khayalan menyebabkan ingatan bingung. Bila ingatan bingung, kecerdasan hilang, bila kecerdasan hilang seseorang jatuh lagi ke dalam lautan material. (Prabu.Pād).
krodhād—dari amarah;  bhavati—menjadi, timbul;  sammohāh—kebingungan;     sammohāt—dari kebingungan;  smŗti-vibhramah—hilang ingatan;  smŗti-bhramśād—dari hilangnya ingatan;  buddhi-naśo—hancur pikiran;    buddhi-nāśāt—dari hancurnya pikiran;  praņaśyati—ia hancur.
Dari amarah timbul kebingungan, dari kebingungan hilang ingatan, dari hilang ingatan menghancurkan fikiran, dari kehancuran fikiran ia musnah. G.Pudja.


2.64
rāga-dveşa-vimuktais  tu    vişayān  indriyaiś  caran
ātma-vaśyair  vidheyātmā    prasādam  adhigacchati
rāga—ikatan; dveşa—dan ketidakterikatan; vimuktaih—oleh orang yang sudah bebas dari; tu—tetapi; vişayān—obyek-obyek indria;  indriyaih—oleh indria-indria;  caran—bertindak terhadap; ātma-vaśyaih—di bawah pengendalian seseorang; vidheya-ātmā—orang yang mengikuti kebebasan yang teratur;  prasādam—karunia Tuhan;  adhigacchati—mencapai.
Tetapi orang yang bebas dari segala ikatan dan rasa tidak suka serta sanggup mengendalikan indria-indria melalui prinsip-prinsip kebebasan yang teratur dapa memperoleh karunia sepenuhnya dari Tuhan. (Prabu.Pād).
rāga—kecintaan; dveşa—kebencian;  vimuktais—penguasaan, tidak berhubungan;  tu—sesungguhnya;    vişayān—benda obyek;  indriyair—dari indriya;  caran—bergerak, pergi, hidup;  ātmavaśyair—dengan pengendalian diri;  vidheyātmā—damai, kenikmatan;    adhigacchati—ia memperoleh, mendapatkan.
Sesungguhnya ia yang hidup di tengah-tengah benda duniawi dengan tetap menguasai pikiran dari suka dan benci dengan menguasai diri, dengan dikendalikannya diri itu mencapai kedamaian dalam jiwanya. G.Pudja.

2.65
prasāde  sarva-duhkhānām    hānir  asyopajāyate
prasanna-cetaso  hy  āśu    buddhih  paryavatişţhate
prasāde—dengan memperoleh karunia Tuhan yang tidada sebabnya; sarva—dari semua; duhkhānām—kesengsaraan material;  hānih—kehancuran;  asya—milik dia; upajāyate—terjadi; prasanna-cetasah—dari orang yang berbahagia dalam pikirannya;  hi-pasti;  āśu—dalam waktu yang dekat sekali;  buddhih—kecerdasan;  pari—secukupnya; avatişţhate—manjadi mantap.
Tiga jenis kesengsaraan kehidupan material tidak ada lagi pada orang yang puas seperti puas seperti itu (dalam kesadaran Kŗşņa): dengan kesadaran yang puas seperti itu, kecerdasan seseorang mantap dalam waktu singkat. (Prabu.Pād).
prasāde—dalam kedamaian itu;  sarva-duhkhānām—semua penderitaan;    hānir—sirna; asya—dari (gen);  pajāyate—ditimbulkan, dihasilkan;  prasanna—damai; cetaso—pikiran;  hy  āśu—sesungguhnya, segera;    buddhih—bijaksana;  paryawatisthati—menjadi teguh.
Dan dalam jiwa yang tenang, akan lenyapnya segala penderitaan, karena fikiran orang bijaksana yang tenang itu, akan menjadi teguh. G.Pudja.

 2.66
nāsti  buddhir  ayuktasya     na cāyuktasya  bhāvanā
na  cābhāvayatah  śāntir    aśantasya  kutah  sukham
na-asti—tidak mungkin ada;  buddhihkecerdasan rohani; ayuktasya—milik orang yang tidak mempunyai hubungan (dengan kesadaran Kŗşņa);  na—tidak; ca—dan;  ayuktasya—milik orang yang kekurangan kesadaran Kŗşņa;  bhāvanā—pikiran mantap (dalam kebahagiaan); na—tidak;  ca—dan; abhāvayatah—mengenai orang yang tidak mantap; śāntih—kedamaian;    aśantasya—milik orang yang tidak damai;  kutah—mana ada;  sukham—kebahagiaan.
Orang yang tidak mampunyai hubungan dengan Yang Mahaesa (dalam kesadaran Kŗşņa) tidak mungkin memiliki kecerdasan rohani maupun pikiran yang mantap. Tanpa kecerdasan rohani dan pikiran yang mantap tidak mungkin ada kedamaian. Tanpa kedamaian, bagaimana mungkin ada kebahagiaan? (Prabu.Pād).
na asti—tidak ada;  budhi—pikiran, kebijaksanaan;  ayuktasya—untuk yang tidak terkendalikan;  bhāvanā—terkonsentrasi;  abhāvayatah—tidak terpusatkan;  śāntir—damai;    aśantasya—untuk tidak damai;  kutah—bila, kapan, di mana.
Tidak adak pikiran yang tidak terkendalikan dan juga tidak ada konsentrasi yang tidak terkendalikan dan juga tidak ada ketegangn untuk tidak memusatkan pikiran yang tidak tetang, dimana kebahagiaan itu. G.Pudja.

2.67
indriyāņām  hi  caratām     yan  mano  ‘nuvidhīyate
tad  asya  harati  prajñām    vāyur  nāvam  ivāmbhasi
indriyāņām—di antara indria-indria;  hi-pasti;  caratām—sambil mengembara; yat—dengan itu;  manah—pikiran; anuvidhīyate—sibuk senantiasa; tad—itu; asya—milik dia; harati—melarikan;  prajñām—kecerdasan;  vāyuh—angin;  nāvam—sebuah perahu;  iva—ibarat; ambhasi—pada permukaan air.
Seperti perahu pada permukaan air dibawa lari oleh angin keras, keserdasan seseorang dapat dilarikan bahkan oleh satu saja di antara indria-indria yang yang mengembara dan menjadi titik pusat untuk pikiran. (Prabu.Pād).
indriyāņām—dari panca indra;  caratām—bergerak, hanyut;     yan—bila;  mano  anuvidhīyate—pikiran terkendalikan;  tadasya—dari padanya;  harati—terbawa, diambil;  prajñām—kebijaksanaan;    vāyur—angin;  nāvam—kapal, perahu;  iva ambhasi—laksana air.
Sesungguhnya fikiran hanyut dalam panca indera bila tidak terkendali karenanya terbawalah kebijaksanaanya laksana perahu hanyut dalam samudera terbawa angin. G.Pudja.

2.68
tasmād  yasya  maha-bāho    nigŗhītāni  sarvśah
indriyāņīndriyārthebhyas    tasya  prajñā  pratişţhitā
tasmāt—karena itu;  yasya—milik orang yang;  maha-bāho—wahai kepribadian yang berlengan perkasa; nigŗhītāni—ditaklukkan dengan cara seperti itu;  sarvśah—di segala sisi; indriyāņi—indria-indria; indriya-arthebhyah—dari obyek-obyek indria; tasya—milik dia;   prajñā—kecerdasan;  pratişţhitā—mantap.
Karena itu, orang yang indria-indrianya terkekang dari obyek-obyeknya pasti mempunyai kecerdasan yang mantap, wahai yang berlengan perkasa. (Prabu.Pād).
tasmādyasya—oleh karena itu;   nigŗhītāni—menarik, mengundurkan diri; sarvaśah—dari semua; indriyārthana—dari obyek-obyek indria; prajñā—kebijaksanaan;  pratişţhitā—tetap teguh, berkesinambungan; mantap.
Karenanya, orang yang dapat mengendalikan panca inderanya dari segala nafsu obyek keinginannya, oh Mahabahu ialah yang kebijaksanaannya telah mantap. G.Pudja.

2.69
  niśā  sarva-bhūtānām     tasyām  jāgrati  samyamī
yasyām  jāgrati  bhūtāni      niśā  paśyato  muņeh
yā—apa;  niśā—menjadi malam hari;  sarva—semua; bhūtānām—bagi para mkhluk hidup;     tasyām—dalam hal ini;  jāgrati—sadar;  samyamī—orang yang mengendalikan diri; yasyām—di dalamnya;  jāgrati—sadar;  bhūtāni—semua mkhluk;  sā—itu yang;  niśā—malam hari;  paśyatah—bagi orang yang mawas diri;  muņeh—resi.
Malam hari bagi semua makhluk adalah waktu sadar bagi orang yang mengendalikan diri, dan waktu sadar bagi semua makhluk adalah malam bagi resi yang mawas diri. (Prabu.Pād).
yā—apa (yang);  niśā—malam, gelap;  sarva-bhūtānām—bagi semua makhluk;     tasyām—untuk dia;  jāgrati—terbangun, jaga;  samyamī—menguasai diri;  yasyām—dalam mana;   paśyato—yang melihat;  muņeh—orang suci, ulama.
Apa yang gelap bagi makhluk semua adalah terang bagi yang mengetahui Atman, apa yang siang bagi makhluk-makhluk itu adalah malam bagi yang mengetahui Atman. G.Pudja.

2.70
āpūryamānam  acala-pratiśţham    samudram  āpah  praviśanti  yadvat
tadvat  kāmā  yam  praviśanti  sarve    sa śāntim āpnoti  na  kāma-kāmi
āpūryamāņam—selalu dipenuhi;  acala-pratişţham—terletak secara mantap; samudram—lautan;  āpah—air;  praviśanti—masuk;  yadvat—seperti; tadvat—demikian; kāmāh—keinginan;  yam—kepada siapa;  praviśanti—masuk;  sarve—semua; sah—orang itu; śāntim—kedamaian; āpnoti—mencapai;  na—tidak;  kāma-kāmi—orang yang ingin memenuhi keinginan.
Hanya orang yang tidak terganggu oleh arus keinginan yang mengalir terus menerus masuk bagaikan sungai-sungai ke dalam lautan, yang senantiasa diisi tetapi selalu tetap tenang, dapat mencapai kedamaian. Bukan orang yang berusaha memuaskan keinginan itu yang dapat mencapai kedamaian. (Prabu.Pād).
āpūryamānam—selalu penuh berisi;  acala-pratiśţham—tidak bergerak, tenang;  praviśanti—masuk;  yadvat—ibarat;  tadvat—demikian pula;  yam—kepada mereka; sa—ia; āpnoti—memperoleh;  kāma-kāmi—kesenagan yang diinginkan.
Ibarat air masuk ke samudra. Walau terus menerus, namun tetap tenang tidak bergerak; demikian juga orang berjiwa tenang mencapai kedamaian, walaupun semua kesenagan yang masuk pada dirinya, tetapi bukan orang yang melepas hawa nafsunya. G.Pudja.

2.71
vihāya  kāmān  yah  sarvān    pumsāmś  carati  nihspŗhah
nirmamo  nirahańkārah    sa  śāntim  adhigacchati
vihāya—meninggalkan; kāmān—keinginan duniawi untuk kepuasan indria-indria; yah—siapa; sarvān—semua; pumsāmś—seseorang;  carati—hidup;  nihspŗhah—bebas dari keinginan; nirmamah—bebas dari rasa memiliki;  nirahańkārah—bebas dari keakuan yang palsu;    sah—dia;  sāntim—kedamaian yang sempurna;  adhigacchati—mencapai.
Hanya orang yang sudah meninggalkan segala keinginan untuk kepuasan indria-indria, hidup bebas dari keinginan, sudah menigngalkan segal rasa memiliki sesuatu dan bebas dari keakuan yang palsu dapat memcapai kedamaian yang sejati.  (Prabu.Pād).
vihāya—meninggalkan;  kāmānyah—keinginan-keinginan;    pumsām—orang itu;  carati—bergerak, berjalan;  nihspŗhah—tidak terikat;  nirmamo—bebas dari kepemilikan;  nirahańkārah—tidak loba, tidak ada keakuan; adhigacchati—memperoleh.
Orang yang membuang semua nafsunya dan melangkah bebas tanpa keinginan bebas dari perasaan “aku” dan “punyaku”, ia mencapai kedamaian. G.Pudja.

2.72
eşā  brāhmī  sthitih  pārtha    nainām  prāpya  vimuhyati
sthitvāsyām  anta-kāle ‘pi    brahma-nirvāņam  ŗcchati
eşā—ini;  brāhmī—rohani;  sthitih—keadaan;  pārtha—wahai putra Pŗthā; na—tidak pernah; enām—ini;  prāpya—mencapai;  vimuhyati—seseorang dibingungkan; sthitvā—menjadi mantap; asyām—dalam ini;  anta-kāle—pada akhir hidup; api—juga; brahma-nirvāņam—kerajaan rohani;  ŗcchati—seseorang mencapai.
Itulah cara hidup yang suci dan rohani. Sesudah mencapai kehidupan seperti itu, seseorang tidak dibingungkan. Kalau seseorang mantap seperti itu bahkan pada saat kematian sekalipun, ia dapat masuk kerajaan Tuhan. (Prabu.Pād).
eşā—ini;  brāhmī  sthitih—badan Brahma;  nainām—tidak ini;  prāpyam—memperoleh; vimuhyati—ditingkatkan;  sthitvā syām—menetap, mendiami di sana;  antakāle—pada waktu mati;  brahma-nirvāņam—nirwana, bersatu dengan Brahman;  ricchati—memperoleh.
Inilah tingkat kesucian, oh Parta dia yang telah sampai di tingkat ini, walau maut tiba, tiada bingung lagi dan mencapai nirwana bersatu dengan Brahman. G.Pudja.



iti  śrīmad bhagavadgītāsūpanişatsu  brahmavidyāyām yoga śāstre
  śrī kŗşņārjunasamvāde sāmkhya  yogo nāma  dwitīyo ‘dhyāyah.
Di sini berakhir bab kedua dari Upanişad Bhagavadgītā, ajaran tentang Brahmawidyā dan yogaśāstra berupa percakapan antara Śrī Kŗşņa dan Arjuna, yang berjudul ‘Samkhya Yoga’ (Maswinara).
            Dalam upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan yang Abadi, Karya Sastra Yoga  dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, maka karya ini adalah bab kedua yang disebut: Sankya Yoga atau Yoga mengenai ilmu pengetahuan . (TL.Wasvani).

BHAGAVAD GITA - ARJUNA WISADA

MENINJAU TENTARA-TENTARA DI MEDAN PERANG KURUKŞETRA. Prb.Pād
ARJUNA WIŞĀDA YOGA (G.Pudja; Maswinara)
GUNDAHNYA SI ARJUNA (TL.Waswani)
TRADISI PEPERANGAN

1.1
dhŗitarāşţra uvāca   
dharma-kşetre  kuru-kşetre    samavetā  yuyutsavah
māmakāh  pāņdavāś caiva    kim  akurvata  sañjaya
dharma-kşetre—di tempat suci; kuru-kşetre—di tempat bernama Kurukşetra; samavetāh—sudah berkumpul;  yuyutsavah—dengan keinginan untuk bertempur; māmakāh—pihakku (putra-putraku);  pāņdavāś—putra-putra  Paņdu;  ca—dan; eva—pasti;  kim—apa;  akurvata—dilakukan mereka; Sañjaya—wahai Sañjaya?
Dŗitarāşţra berkata: Wahai Sañjaya, sesudah putra-putraku dan putra-Pāņdu berkumpul di tempat suci Kurukşetra dengan keinginan untuk bertempur, apa yang dilakukan oleh mereka? (Prabhupāda).
dharma-kşetre—di padang suci, di medan dharma.  Kşetre (Bali : setra)=sebuah padang  rumput luas, lapangan luas tempat gembala. Dharma= keimanan; hukum; agama. kuru-kşetre—di padang kuru;  samaveta—berkumpul.  yuyutsavah—sama-sama ingin perang, sama-sama siap tempur. māmakāh—(māma+kāh) māma=saya punya, yaitu pasukan saya (Kurawa) kāh=kata tanya “apakah”; pāņdavāś caiva— (pandawah+ca+iwa)=Dan (pasukan) si Pandawa. kim—apa; akurvata— (mereka) akan lakukan.
Dŗitarāşţra berkata: Apakah yang mereka akan lakukan, pasukanku dan pasukan Paņdawa di medan dharma, Kurukşetra, yang siap tempur, O Sañjaya? (Gde Pudja).
Dŗitarāşţra berkatan: Di medan dharma, di padang Kurukşetra, ketika putra-putraku dan putra-putra Paņdu telah berkumpul bersama siap untuk bertempur, apakah yang mereka lakukan, wahai Sañjaya?  (Maswinara).
Berkatalah Dŗitarāşţra: Di dataran nan suci ini (dharmakşetra), tanah kebenaran, tanahnya para Kuru, berkumpullah putra-putraku beserta putra-putra Sang Paņdu (Ayahanda Paņdawa) bersiap-siap untuk suatu yudha. Apa saja yang sedeng mereka lakukan beritakanlah kepadaku, wahai Sañjaya? (TL.Wasvani).
Keterangan :   Kurukşetra atau dharmakşetra, terletak di Hastinapura di utara kota New Delhi yang modern dewasa ini. Tempat ini di masa yang silam dianggap suci karena sering dipergunakan oleh para resi, kshatrya untuk bertapa, bahkan kabarnya juga para dewa-dewa.
    Salah satu kata pertama yang disebut di sloka pembukaan Bhagavad Gita di atas ini adalah kata dharma, inilah inti sebenarnya yang harus diserapkan oleh sidang pembaca, karena inilah salah satu pesan sesungguhnya Bhagavad Gita “Bangunanlah jiwa dan ragamu dengan dan untuk dharma”. Kata  dharma berasal dari kata “Dhru” yang berarti “pegang”. Dharma adalah kekuatan yang memegang hidup ini, dharma tidak terdapat dalam ucapan-ucapan manis, tetapi adalah kesaktian di dalam jiwa kita yang merupakan inti dari kehidupan kita.
    Dan Kşetra berarti padang, ladang atau medan. Seyogyanyalah kita bertanya pada pribadi kita masing-masing, “apa sajakah yang selama ini yang telah kutanam dan kupetik dalam hidupku ini, dharma ataukah adharma?” Bagi yang menanam dharma maka hidupnya akan menghasilkan karunia Ilahi, dan yang telah melakukan adharma maka kita dapat bercermin kepada para Kaurawa.
    “Bersiap-siap untuk suatu yudha”, Kaurawa menginginkan perang, sedangkan para Pandawa sebenarnya menginginkan perdamaian. Sang Kŗşņa yang Maha Bijaksana berusaha agar perdamaian terwujud, tetapi para Kaurawa selalu menolaknya, maka untuk mempertahankan diri dan menegakkan dharma/kebenaran terpaksalah para Pandawa berperang walaupun dengan laskar yang sedikit. Tetapi yang sedikit ini akhirnya akan menang karena mereka berjalan tegak di jalan kebenaran.
    Dalam ucapan Dŗitarāşţra yang mengatakan diatas “tanahnya para Kuru” dan juga “putra-putraku”, tersirat adanya rasa egois atau ahankara (angkara) yang besar, inilah sebenarnya sumber dari segala tragedi dalam hidup ini. Berkatalah Sañjaya :

1.2
sañjaya  uvāca 
dŗşţvā  tu  pāņdavānīkam    vyūdham  duryodhanas  tadā
ācāryam  upasańgamya    rājā  vacanam  abravīt
dŗşţvā—sesudah melihat;  tu—tetapi;  pāņdava-anīkam—tentara para pāņdava; vyūdham—tersusun dalam barisan-barisan tentara;   duryodhanah—Raja Duryodhana;  tadā—pada waktu itu; ācāryam—guru; upasańgamya—mendekati; rājā—sang raja; vacanam—kata-kata; abravīt—berkata.
Sañjaya berkata: Wahai Baginda Raja, sesudah meninjau tentara yang telah disusun dalam barisan-barisan oleh para putra Pāņdu, Raja Duryodhana mendekati gurunya dan berkata sebagai berikut: (Prabhupāda).
dŗşţvā—sesudah melihat;  tu—sesungguhnya;  pāņdava-anīkam—pasukan pāņdava; vyūdham—berbaris teratur; tadā—kemudian; ācārya—guru besar dalam berbagai bidang ilmu (agama, sosial, politik, militer) Drona sebagai Brahmawidya, Bhisma dikenal sebagai Pitrayana Jñana; -dekat; upasańgamya—menghadap; rājā—sang raja; vacanam—kata-kata; abravīt—mengatakan.
Sañjaya berkata: Setelah melihat pasukan Pāņdawa siap berbaris teratur, Raja Duryodhana datang mendekati gurunya, bersabda kata-kata berikut. (Gde Pudja).
Sañjaya berkata: Kemudian setelah menyaksikan pasukan para Pāņdawa yang siap siaga dalam formasi tempur Duryodhana, menghampiri gurunya ācārya agung Droņa seraya berkata: (Maswinara).
Kemudian pangeran Duryodana, setelah melihat barisan laskar para  Pandawa yang teratur rapi, menghampiri gurunya dan berkata: (TL.Wasvani).
Ket. Yang dimaksud guru di sini adalah Dronacharya, guru sang Kaurawa dan Pandawa. Di Baratahudha ini Drona mendukung Kaurawa sampai akhir hayatnya.

1.3
paśyaitām  pāņdu-putrāņām  ācārya  mahatīm  camūm
vyūdhām  drupada-putreņa  tava  śişyeņa  dhūmatā
paśya—lihatlah; etām—ini;  pāņdu-putrāņām—milik para putra Pāņdu; ācārya—wahai guru;   mahatīm—besar;  camūm—kekuatan tentara; vyūdhām—tersusun;  drupada-putreņa—oleh putra Drupada;  tava—milik anda;  śişyeņa—murid;   dhī-matā—cerdas sekali.
Wahai Guruku, lihatlah tentara besar para putra Pāņdu, yang disusun dengan ahli sekali oleh putra Drupada, murid anda yang cerdas. (Prabhupāda).
paśyai’tām-lihatlah ini; pāņdu-putrāņām—kepada putra-putra Pāņdu; mahatīm camūm—pasukan yang amat besar; vyūdhām—membariskan pasukannya, bersiap-siap untuk perang;  drupada-putreņa—dipimpin oleh putra Drupada;  tava  śişyeņa—oleh sisyamu;   dhīmatā—akhli, bijaksana.
lihatlah, itu pasukan Pāņdawa yang amat besar dipimpin oleh putra Pāņdu dan putra Drupada, muridmu sendiri yang cerdas bijaksana, O dang Acarya. (Gde Pudja).
Saksikanlah, wahai guruku; pasukan putra-putra Pāņdu yang gagah perkasa itu. yang dipimpin oleh murid paduka yang bijaksana, putra Drupada. (Maswinara).
Lihatlah wahai guruku, barisan laskar para Pandawa yang telah siap untuk berperang, mereka semua dipimpin oleh merid Sang Guru yang bijaksana, yaitu putra Sang Drupada. (TL.Wasvani).
Ket. Yang dimaksud “murid yang bijaksana’ di sini adalah Dhristadyumna. Ia adalah putra Raja Drupada dari kerajaan Panchala. Dia diangkat para Pandawa menjadi panglima perang untuk pihak Pandawa; Dhristadyumna sebenarnya masih merupakan saudara ipar para Pandawa. Dalam perang ini Resi Dorna akan membunuh Raja Drupada, kemudian akan membunuh Drona. Disusul putra Drona yang disebut Asvatama kemudian membunuh Dhristadyumna. Inilah lingkaran karma.


1.4
atra  śūrā  maheśv-āsā    bhīmārjuna-samā  yudhi
yuyudhāno  virāţaś  ca    drupadaś  ca  mahā-rathah
atra—di sini;  śūrāh—pahlawan-pahlawan;  maha-iśu-āsāh—pemanah yang perkasa; bhīmārjuna—kepada Bhīma dan Arjuna;   samāh—sejajar;  yudhi—dalam pertempuran; yuyudhāna—Yuyudhāna;  virāţah—Virāta;  ca—juga;  drupadah—Drupada;  ca—juga;  mahā-rathah—kesatria yang hebat.
Di sini dalam tentara ada banyak pahlawan pemanah yang sehebat Bhīma dan Arjuna dalam pertempuran: kesatria-kesatria yang hebat seperti Yuyudhāna, Virāta dan Drupada. (Prabhupāda).
atra—ini,di sini;  śūrā—pahlawan, pemberani;  maheśwāsā—nama-nama besar; yang tangguh; bhīmārjuna—Bhīma + Arjuna;   samā—sebanding;  yudhi—dalam pertempuran; mahā-rathah—akhli kereta perang.
Inilah (nama-nama) para pahlawan, pemanah-pemanah yang tangguh, sebanding dengan Bhīma dan Arjuna, (yaitu) Yuyudhāna, Virāta dan Drupada, semuanya panglima kereta perang. (Gde Pudja).

Disana ada pula pahlawan pemanah tangguh yang sebanding dengan Bhīma dan Arjuna,    dalam peperangan, seperti Virāţa, Yuyu-dhāna dan Drupada, yang semuanya merupakan perwira-perwira gagah perkasa. (Maswinara).
Di sinilah para pahlawan-pahlawan besar berkumpul, dari Bima, Arjuna ke yang tak kalah kehebatannya yaitu yuyudana, Virata dan Drupada. (TL.Wasvani).

1.5
dŗşţaketuś  cekitānah    kāśirājaś  ca  vīryavān
purujit  kuntibhojaś ca    śaibyaś ca  nara-puńgavah
dŗşţaketuh—Dŗşţaketu;  cekitānah—Cekitāna;   kāśirājah—Kāśirāja; ca—juga;  vīrya-vān—perkasa sekali;  purujit—Purujit;  kuntibhojah—Kuntibhoja; ca—dan;  śaibyah—Śaibya; ca—dan;  nara-puńgavah—pahlawan dalam masyarakat manusia.
Ada juga kesatria-kesatria yang hebat, perkasa dan memiliki sifat kepahlawanan seperti Dŗşţaketu, Cekitāna, Kāśirāja, Purujit,  Kuntibhoja dan Śaibya. (Prabhupāda).
Dŗşţaketu, raja Cedi, ibu kota kerjaannya=Suktamati; Cekitāna, sekutu pandawa yang memerintah di Banares (kasi); Keterlibatannya hanya karena jengkel terhadap Bhisma; Kāśirāja ini berputra tiga orang: Ambā, Ambalikā dan  Cekitāna; vīryavān—pemberani; Purujit dan Kuntibhoja adalah dua bersaudara; Kuntibhoja tidak punya keturunan, mengangkat anak perempuan Pritha, terkenal dengan nama Kunti, ibu Pāņdawa; Śaibya raja suku Sibi (Bhs.Yunani Sibae), bangsa pemberani; nara-puńgavah—pemimpin  dari pada manusia.
Dŗşţaketu, Cekitāna, dan raja Kāśi yang pemberani, Purujit,  Kuntibhoja dan Śaibya, yaitu banteng diantara manusia. (Gde Pudja).
Juga terdapat Dhŗşţaketu, Cekitāna, dan raja negeri Kāśi yang gagah perkasa; Purujit,  Kuntibhoja dan Śaibya, sebagai manusia-manusia pilihan yang perkasa. (Maswinara).
Juga Dŗşţaketu, Chekitana dan raja besar dari Kashi, Purujit, Kuntiboja dan Shaibya, semuanya pendekar-pendekar nan sakti wirawan. (TL.Wasvani).

1.6
yudhāmanyuś ca  vikrānta    uttamaujāś ca  vīryavān
saubhadro  draupadeyāś ca     sarva  eva  mahā-rathāh
yudhāmanyuh—Yudhāmanyu;  ca—dan; vikrānta—agung;  uttamaujāh—Uttamaujā; ca—dan;  vīrya-vān—perkasa sekali; saubhadrah—putra Saubhadrā;  draupadeyāh—putra-putra drupadi; ca—dan;     sarva—semua;  eva—pasti;  mahā-rathāh—kesatria-kesatria hebat yang akhli bertempur dengan menggunakan kereta.
AdaYudhāmanyu yang agung, Uttamaujā yang perkasa sekali, putra Subhadra dan putra-putra Draupadi. Semua kesatria itu hebat sekali bertempur dengan menggunakan kereta. (Prabhupāda).
Yudhāmanyu dan Uttamaujā adalah dua pemimpin penting dalam pasukan Pāņdawa karena sifat pemberani; vikrānta—pemberani;  vīryavān—pemberani; saubhadrah—putra Saubhadrā (Abhimanyu);  draupadeyāh—putra drupadi (Pratiwindhya, Sūtasoma, Srutakirti, Satānika dan Srutasena).
Yudhāmanyu yang pemberani, Uttamaujā yang gagah berani, putra-putra Subhadra dan Draupadi. Semua sesungguhnya akhli perang kereta. (Gde Pudja).
Juga ada Yudhāmanyu yang kuat kekar; Uttamaujā yang gagah berani, serta putra-putra Subhadra dan Draupadi; yang semuanya merupakan pahlawan-kereta yang tangguh. Maswinara
Juga yang gagah berani yaitu, Yudhamanyu dan Uttamanuja, Saubadra dan putra-putra Draupadi. (TL.Wasvani).
Keterangan :
•    Bima: Putra kedua dari Pandu, yang kedua dari para Pandawa.
•    Arjuna: Yang ketiga dari Pandawa bersaudara, dan yang paling dikasihi Sang Kreshna.
•    Yuyudana: Disebut juga Setyaki, pahlawan yang gagah perkasa.
•    Virata: Raja dari Matsya-desha, seorang raja nan arif-bijaksana. Selama pengasingan para Pandawa di hutan (13 tahun lamanya), tahun terakhir pengasingan ini, para Pandawa menyamar dan bersembunyi di istana Raja Virata. Alkisah putri sang raja kemudian dikawinkan dengan Abimanyu, putra Arjuna.
•    Dhristaketu: Putra Sishupala, raja dari Chedi-desha.
•    Chekitana: Salah satu pendekar yang gagah berani yang memimpin salah satu dari tujuh divisi laskar Pandawa.
•    Purujit dan Kuntibhoja: Saudara-saudara laki dari ibu Kunti, ibunya sang Pandawa.
•    Shaibya: Raja suku Sibi. Duryadana menyebut sebagai banteng diantara manusia, karena ia adalah seorang pendekar sakti yang bertenaga luar biasa.
•    Yudhamanyu dan Uttamanuja: Pangeran-pangeran dari Panchala, juga merupakan pendekar-pendekar nan sakti-wirawan. Keduanya dibunuh oleh Ashvatama sewaktu sedang tidur.
•    Saubhadra: Putra Arjuna dan Subadra (adik sang Kreshna). Ia dikenal dengan nama Abimanyu. Dalam perang ini ia memperlihatkan kepahlawannya yang luar biasa.
•    Putra-putra Draupadi: Mereka berjumlah lima orang, yaitu Prativindhya, Srutasoma, Srutakirtti, Satanika dan Srutukarman.
Pendekar-pendekar di atas semuanya kalau bekerja untuk perdamaian niscaya akan menghasilkan suatu suasana damai bagi semuanya, tetap rupanya takdir menentukan yang lain, dan itulah misteri Ilahi yang tak akan mungkin terjangkau oleh kita manusia ini.

1.7
asmākam  tu  viśişţā  ye     tān  nibodha  dvijottama
nāyakā  mama  sainyasya     samjñatham  tān  bravīmi  te
asmākam—milik kita; tu—tetapi; viśişţāh—perkasa luar biasa;  ye—yang;  tān—mereka; nibodha—perhatikanlah, maklumilah;  dvija-uttama—Orang yang paling baik diantara para Brāhmaņa; nāyakāh—komandan-komandan;  mama—milik saya;  sainyasya—milik bala tentara;     samjñā-artham—untuk keterangan;  tān-mereka;  bravīmi—saya sedang bicara;  te—kepada anda.
Tetapi perkenankanlah saya menyampaikan keterangan kepada anda tentang komandan-komandan yang mempunyai kwalifikasi luar biasa untuk meminpin bala tentara saya, wahai brahmana yang paling baik. (Prabhupāda).
asmākam—kita punya; tu—demikian juga; viśişţā ya—Tuankulah yang paling utama;  tān  nibodha—ketahuilah mereka itu; dvijottama—Pendeta terkemuka; nāyakā—pemimpin (plural) asal dari akar kata Ni (Naya) membimbing, membawa;  mama—saya punya;  sainyasya— (Sena) angkatan;     samjñārtham—itu yang boleh engkau ketahui;    tān—mereka itu;    bravīm—saya sebutkan;  te—kepadamu.
Ketahuilah, mereka (sebagai) pemimpin-pemimpin pasukan kami; untuk diketahui saya sebutkan mereka, yang pertama adalah Engkau pendeta utama. (Gde Pudja).
Ketahui pulalah, wahai yang terbaik diantara para dwijati (kaum pendeta), semua pasukan kita yang merupakan pimpinan kenamaan, yang akan kusebutkan namanya guna bahan informasi paduka guru. (Maswinara).
Ketahuilah juga, oh Engkau yang teragung di antara yang dilahirkan dua kali, pemimpin-pemimpin dan pendekar-pendekar di pihak kami, akan kusebutkan mereka demi Engkau yang kuhormati. (TL.Wasvani).
Ket. “Yang teragung di antara yang dilahirkan dua kali” adalah ungkapan yang ditujukan kepada Resi Drona, karena sang resi adalah seorang brahmana dan biasanya kaum brahmana dianggap lahir dua kali. Maksudnya: pertama seorang brahmana harus lahir di dunia fana ini, tetapi di dunia ini ia harus menjalani kehidupan kebatinan demi Sang Maha Esa, jadi “lahir” lagi dengan meninggalkan semua nafsu keduniawian demi pengabdiannya ke masyarakat dan Tuhan Yang Maha Esa. Inilah tugas seorang Brahmana seharusnya.

1.8
bhavān  bhīşmaś ca  karņaś ca     kŗpaś ca  samitim-jayah
aşvatthāmā  vikarņaś ca     saumadattis  tathaiva ca
bhavān—Prabhu sendiri;  bhīşmah—Kakek Bhīşma; ca—juga; karņah—Karņa; ca—dan; kŗpah—Kripa; ca—dan;  samitim-jayah—selalu menang dalam peperangan; aşvatthāmā—Aşvatthāmā; vikarņah—Vikarņa; ca-beserta; saumadattih—putra Somadatta; tathā—beserta; eva—pasti; ca—juga.
Ada tokoh-tokoh seperti Prabhu sendiri, Bhīşma, Karņa, Kŗpa, Aśvatthāmā, Vikarņa dan putra Somadatta bernama Bhūuriśravā, yang selalu menang dalam perang. (Prabhupāda).
bhavān—sebutan sebagai kehormatan untuk orang ketiga; nama-nama yang disebutkan antara Bhīşma, Karņa, Kripa, samitimjayah—yang sama jayanya dalam peperangan; nama-nama lainnya Aşvatthāmā, Vikarņa, putra Somadatta.
Yang terhormat, Bhīşma, Karņa, kemudian Kŗpa, yang sama-sama jaya dalam perang, demikian juga Aśvatthāmā, Vikarņa dan Somadattaputra. (Gde Pudja).
Paduka sendiri, guruku; lalu Bhīşma, Karņa dan Kŗpācārya, yang selalu jaya dalam pertempuran; demikian pula Aśvatthāmā, Vikarņa dan putra-putra dari raja Somadatta. (Maswinara).
Pertama-tama Dikau yang Drono, kemudian Bhisma, Karna dan Kripa yang tak terkalahkan dalam setiap yudha, juga Ashvatama, Vihana dan putra Somadatta. (TL.Wasvani).

1.9
anye ca  bahavah  śūrā     mad-arthe  tyakta-jīvitāh  
nānā-śastra-praharanāh     sarve  yuddha-viśāradāh
anye—lain-lain; ca—juga;  bahavah—dalam jumlah besar;  śūrāh—pahlawan-pahlawan;  mad-arthe—demi kepentingan saya; tyakta-jīvitāh—bersedia mempertaruhkan nyawa; nānā—banyak; śastra—senjata-senjata;  praharanāh—dilengkapi dengan;  sarve—semuanya;  yuddha-viśāradā—berpengalaman di bidang ilmu militer.
Ada banyak pahlawan lain yang bersedia mengorbankan nyawanya demi kepentingan saya. Semuanya dilengkapi dengan pelbagai jenis senjata, dan semuanya berpengalaman di bidang ilmu militer. (Prabhupāda).
anye—lain-lain; ca—juga;  bahavah—banyak;  madarthe—demi kepentingan saya(yaitu untuk Dŗitrarāşţra); tyaktajīvitāh—menyerahkan hidupnya; nānā-śastra—bermacam-macam senjata;  praharanāh—bersenjatakan; sarva—semua;  yuddha-viśāradāh—akhli dalam peperangan (akhli strategi, taktik dan penggunaan senjata).
Dan perwira lainnya yang sedia mempertaruhkan jiwa mereka untuk saya, sama-sama bersenjata lengkap aneka warna. Semua akhli dalam peperangan. (Gde Pudja).
 Dan masih banyak lagi para pahlawan terlatih yang tangguh dalam peperangan, yang diperlengkapi dengan segala macam persenjataan dan siap mempertaruhkan nyawa mereka demi kepentinganku. (Maswinara).
Dan banyak lagi pahlawan-pahlawan lainnya yang bersedia mengorbankan jiwa-raga mereka, bersenjatakan berbagai senjata-senjata yang sakti, kesemuanya ahli-ahli perang yang diada taranya. (TL.Wasvani).
Keterangan :
•    Bhisma : Pendekar tua yang ditunjuk menjadi panglima tertinggi di pihak Kaurawa, yang sebenarnya masih “kakek” para Kaurawa dan Pandawa, Bhismalah sebenarnya yang membesarkan raja Dhristarashtra dan para Kaurawa-Pandawa. Beliau amat mencintai para Pandawa, tetapi dalam perang ini beliau berpihak kepada para Kaurawa karena berhutang budi dan setia kepada Kaurawa sesuai dengan janjinya. Tetapi Bhisma pernah bersumpah dihadapan Duryodana tak akan pernah membunuh para Pandawa; dalam perang Baratayudha ini Bhisma membuktikan kehebatannya sampai akhir hayatnya.
•    Karna : Saudara tiri para Pandawa, adalah teman akrab Duryodana. Oleh Duryodana, Karna diangkat menjadi raja Angga (sekarang disebut daerah Bengal di India). Sebenarnya Karna adalah seorang kshatrya maha-sakti yang penuh dengan kasih-sayang kepada sesamanya, tetapi terika sumpah setianya kepada Duryodana maka ia memilih pihak Kaurawa. Setelah matinya Drona, Karna diangkat menjadi panglima tertinggi Kaurawa, tetapi hanya berlangsung dua hri saja, karena kemudian ia mati di tangan Arjuna, saudara tirinya sendiri. Beginilah kehendak Dewata.
•    Kripa : Saudara ipar resi Drona. Ia adalah di antara tida pendekar dari pihak Kaurawa yang tidak gugur dalam perang Baratayudha.
•    Ashvatama: Putra resi Drona, juga salah seorang panglima perangnya Kaurawa yang terkenal liciknya.
•    Vikarna: Putra ketiga raja Dhritarashtra, adik Duryodana.
•    Putra Somadatta: Somadatta adalah raja dari negara Bahikas yang membantu Kaurawa.

1.10
aparyāptam  tad  asmākam     balam  bhişmābhirakşitam
paryāptam  tv  idam  eteşām     balam  bhīmābhirakşitam
aparyāptam—tidak dapat diukur;  tat—itu; asmākam—milik kita;  balam—kekuatan;  Bhişma —oleh Kakek Bhişma;  abhirakşitam—dilindungi secara sempurna; paryāpta—terbatas; tu—tetapi; idam—semua ini;  eteşām—milik para Pāņdawa; balam—kekuatan;  bhīma—oleh Bhīma; abhirakşitam—dilindungi dengan teliti.
Kekuatan kita tidak dapat diukur, dan kita dilindungi secara sempurna oleh Kakek Bhīşma, sedangkan para Pāņdawa, yang dilindungi dengan teliti oleh Bhīma, hanya mempunyai kekuatan terbatas. (Prabhupāda).
aparyāptam—tidak cukup, tidak sempurna (Sriddhara), tidak terkirakan/tidak dapat dihitung (Anandagiri);  tad—itu; asmākam—kami punya; bala—pasukan, angkatan perang; abhirakşitam—dipimpin; paryāptam—dapat diperkirakan.
Pasukan kami yang dipimpin oleh Bhīşma, sungguh tak terkirakan banyaknya, sedangkan besar pasukan mereka di bawah komando Bhīma, dapat diperkirakan. (Gde Pudja).
Kekuatan pasukan kita yang dipimpin oleh Bhīşma, secara sempurna tak terbatas jumlahnya, sementara pasukan mereka yang dipimpin Bhīma, terbatas jumlahnya. (Maswinara).
Tak terhitung jumlah laskar kami yang dipimpin oleh Sang Bhisma, sedangkan di pihak mereka (Pandawa) yang dipimpin oleh Bima, jumlah laskar mereka sangat mudah untuk dihitung. (TL.Wasvani).
Ket : Sebenarnya jumlah tentara Kaurawa memang lebih banyak dari pihak Pandawa, kabarnya Kaurawa mempunyai laskar lebih banyak empat divisi dibandingkan pihak Pandawa. Ada juga yang menyebutnya berlipat ganda.

1.11
ayaneşu ca  sarveşu     yathā-bhāgam  avasthitāh
bhīşmam  evābhirakşantu     bhavantah  sarva  eva  hi
ayaneşu—di ujung-ujung strategis; ca—juga;  sarveşu—dimana-mana;  yathā-bhāgam—sebagaimana mereka tersusun dengan berbagai cara; avasthitāh—terletak; bhīşmam—kepada Kakek Bhīşma;  eva-pasti; abhirakşantu—harus memberi dukungan;  bhavantah—anda; sarva—semua masing-masing;  eva hi—pasti.
Sekarang anda semua harus memberi dukungan sepenuhnya kepada Kakek Bhīşma, sambil berdiri di ujung-ujung strategis masing-masing di gerbang-gerbang barisan tentara. (Prabhupāda).
ayaneşu—dalam; ca—juga; sarveşu—semua;  yathābhāgam—sebagai divisi; avasthitāh—diletakan; eva—hanya; abhirakşantu—dikawal, dipimpin;  bhavantah  eva hi—sesungguhnya untuk Tuanku semua..
Semuanya siap tegak dalam barisan masing-masing dalam divisi dipimpin oleh Bhīşma, masing-masing untuk Tuanku. (Gde Pudja).
Oleh karena itu, semuanya menempati posisimu masing-masing dalam divisimu dan hanya melindungi Bhīşma saja, dengan segala cara. (Maswinara).
Dan telah diatur sedemikian rupa sehingga setiap pendekar dan pimpinan divisi berada pada posisi masing-masing dan menjaga Bhisma dengan baik. (TL.Wasvani).
Ket : Oleh sementara ahli, ucapan-ucapan Duryodana di atas dianggap juga sebagai ungkapan rasa khawatir Duryodana yang merasa di pihak Pandawa terdapat lebih banyak pahlawan-pahlawan sakti, walaupun laskar mereka lebih sedikit.

1.12
tasya  sañjanayan  harşam    kuru-vŗddhah  pitāmahah
simha-nādam  vinadyoccaih     śankham  dadhmau pratāpavān
tasya—milik dia;  sañjanayan—bertambah;  harşam—rasa riang;  kuru-vŗddhah—leluhur keluarga besar Kuru Bhīşma;  pitāmahah—Kakek; simha-nādam—suara mengaum, seperti singa;  vinadya—bergetar; uccaih—dengan keras sekali;  śankham—kerang;  dadhmau—meniup; pratāpa-vān—yang gagah berani.
Kemudian Bhīşma, leluhur agung dinasti Kuru yang gagah berani, kakeh para kesatria, meniup kerangnya dengan keras sekali seperti suara singga, sehingga Duryodhana merasa riang. (Prabhupāda).
tasya—untuk dia;  sañjanayan harşam—untuk menibulkan kegembiraan, (semangat);  kuru-vŗddhah—Kuru yang tua (Arsna) pitāmahah—Kaluk; simha-nādam—suara seekor singa;  vinadyoccaih—ditiup dengan keras;  śankham—trompet (sankala) terbuat dari kerang;  dadhmau—ditiup;   pratāpavān—dengan garangnya.
Untuk membangkitkan semangat, pahlawan Kuru, yang telah lanjut usia, sebagai Patriar, meniup terompet kerangnya kuat-kuat (sehingga) menderu bagaikan raung singga. (Gde Pudja).
Untuk membangkitkan semangat (Duryadhana), kakek Bhīşma yang agung, sebagai sesepuh wangsa Kuru, sekarang meniup terompet kerangnya dengan sangat kerasnya, bagaikan raungan singga. (Maswinara).
Untuk memberi semangat kepada Duryodana, Sang Bhisma yang bijaksana meniup sangkakalalanya yang mengeluarkan suara sekan-akan auman dhasyat seekor singa. (TL.Wasvani).

1.13
tatah  śańkhāś ca  bheryaś ca      paņavānaka-gomukhāh
sahasaivābhyahanyanta     sa  śabdas  tumulo  ‘bhavat
tatah—sesudah itu; śańkhāh—kerang-kerang; ca—juga; bheryah—gendang-gendang besar; ca—dan; paņava-ānaka—gendang-gendang kecil dan bedug; go-mukhāh—terompet-terompet; sahasa—seketika; eva—pasti; abhyahanyanta—dibunyikan sekaligus; sah—itu;  śabdah—paduan suara;  tumulah—gempar;  abhavat—menjadi.
Sesudah itu, kerang-kerang, gendang-gendang, bedug dan berbagai jenis terompet semua dibunyikan seketika, sehingga paduan suaranya menggemparkan. (Prabhupāda).
Bherya—genderang;  paņavānaka-gomukhāh—tambur dan seruling tanduk; sahasa—seketika; eva—pasti; abhyahanyanta—gemuruh; sa—ia;  śabda(s)—bersuara, dibunyikan; tumulah abhava—menggema..
Kemudian trompet, genderang dan tambur serta seruling tanduk  dibunyikan serentak dengan gemuruh dan gagap-gempita. (Gde Pudja).
Kemudian dengan serempak tiba-tiba dibunyikan terompet-terompet kerang, genderang, bedug, tambur dan terompet-terompet tanduk; yang suaranya gagap gempita membahana. (Maswinara).
Kemudian dari segala penjuru tambur-tambur dan sangkalala dibunyikan oleh semua pihak, dan hiruk-pikuklah suasana waktu itu dipenuhi suara-suara ini. (TL.Wasvani).

1.14
tatah  śvetair  hayair  yukte     mahati  syandane  sthitau
mādhavah  pāņdavaś  caiva     divyau  śańkhau  pradadhmatuh
tatah—sesudah itu;  śvetaih—dengan putih;  hayaih—kuda-kuda; yukte—di-ikat untuk menarik kereta; mahati—dalam sesuatu yang besar;  syandane—kereta;  sthitau—terletak; mādhavah—Kŗşņa (suami dewi keberuntungan);  pāņdavah—Arjuna;  ca—dan; eva—pasti; divyau—rohani:  śańkhau—kerang-kerang;  pradadhmatuh—membunyikan.
Di pihak lawan, Śrī Kŗşņa dan Arjuna yang naik kereta besar ditarik oleh kuda-kuda berwarna putih membunyikan kerang-kerang rohani mereka. (Prabhupāda).
śvetair hayair—kuda-kuda berbulu putih; yukte—dipasang, ditarik; mahati—kuat, perkasa; syandane—kereta;  sthitau—berdiri; mādhavah pāņdavah caiva—Kŗşņa dan Arjuna divyau—Khilapiat, suci;  pradadhmatuh—meniup.
Kemudian setelah berdiri diatas kereta megah yang ditarik oleh dua ekor kuda putih, Kŗşņa dan Arjuna meniup trompet dewata mereka. (Gde Pudja).
Manakala, Kŗşņa dan Arjuna berdiri diatas kereta indah yang ditarik oleh kuda-kuda berwarna putih, mereka juga mulai  meniup terompet-terompet kedewataan mereka masing-masing. (Maswinara).
Kemudian, duduk di kereta perang nan agung, dengan pasangan-pasangan kuda-kuda putih, Sang Kreshna dan Arjuna masing-masing meniup sangkalala mereka. (TL.Wasvani).

1.15
pāñcajanyam  hŗşīkeśo     devadattam  dhanañjayah
pauņdram  dadhmau  mahā-śańkham bhima-karmā  vŗkodarah
pāñcajanyam—kerang bernama  Pāñcajanya;  hŗşīka-īsah—Hŗşīkeśa (Kŗşņa-Tuhan yang mengarahkan indra-indra para penyembah);  devadattam—Devadatta; dhanañ-jayah—Arjuna (perebut kekayaan); pauņdram—Pauņdra; dadhmau—meniup;  mahā-śańkham—Kerang yang mengerikan; bhīma-karmā—orang melakukan tugas-tugas berat; vŗka-udarah—pelahap (Bhīma).
Kemudian Śrī Kŗşņa meniup kerang-Nya yang bernama  Pāñcajanya; Arjuna meniup kerangnya bernama Devadatta; dan Bhīma, pelahap dan pelaksana tugas-tugas yang berat sekali, meniup kerangnya yang mengerikan bernama Pauņdra. (Prabhupāda).
Hŗşīkeśo—Kŗşņa dhanañjaya—Arjuna; dadhmau—meniup;  mahā-śańkham—trompetnya yang besar; bhīma-karmā—tingkah laku yang menakutkan; vŗka-udarah—julukan Srigala (tingkah laku dan perangainya seperti srigala)
Kŗşņa meniup trompet Pāñcajanya dan Arjuna meniup trompet Devadatta, Bhīma tingkahnya yang menakutkan galak bagaikan srigala meniup trompetnya yang kuat, Pauņdra. (Gde Pudja).
Hŗşīkeśa (Kŗşņa) meniup terompet Pāñcajanya-Nya dan Arjuna meniup trompet Devadatta-nya; sedangkan Wŗkodara (Bhīma) yang biasa melaksanakan tugas-tugas berat, meniup terompetnya yang hebat, yang bernama Pauņdra. (Maswinara).
Sang Kreshna meniup sangkalalnya yang bernama Panchajanya, dan Arjuna meniup sangkalalanya yang bernama Devadatta, sedangkan Bhima yang perkasa meniup sangkalalanya yang nampak besar, kekar dan kuat bernama Paundra. (TL.Wasvani).

1.16-18
anantavijayam  rājā    kuntī-putro  yudhişţhirah
nakulah  sahadevaś ca     sughoşa-maņipuşpakau.
kāśyaś ca  parameşv-āsah     śikhaņdī ca  mahā-rathah
dhŗşţadyumno  virāţaś  ca    sātyakiś  cāparājitah.
drupado  draupadeyāś ca     sarvaśah  pŗthivī-pate
saubhadraś ca  mahā-bāhuh    śańkhān  dadhmuh  pŗthak-pŗthak.
ananta-vijayam—kerang bernama  Anantavijaya; rājā—raja;  kuntī-putrah—putra Kuntī;   yudhişţhirah—Yudhişţhira; nakulah—Nakula;  sahadevah—Sahadeva; ca—dan; sughoşa-maņipuşpakau—kerang-kerang bernama Sugoşa dan Maņipuşpaka; kāśyah—Raja Kāsī (Vārāņasī); ca—dan;  parama-işu-āsah—pemanah yang berwibawa; śikhaņdī—Śikhaņdī; ca—dan;  mahā-rathah—orang yang dapat bertempur sendirian melawan beribu-ribu orang; dhŗşţadyumnah—Dhŗşţadyumna (putra raja Drupada);  virāţah—(pangeran yang memberi perlindungan kepada Pāņdava selama mereka sedang menyembunyikan diri); ca—juga;  sātyakih—Sātyaki (sama dengan Yuyudhāna, kusir kereta Śrī Kŗşņa); ca—dan; aparājitah—yang belum pernah dikalahkan; drupadah—Drupada, raja Pāñcāla; draupadeyāh—putra-putra Drupadi; ca—juga; sarvaśah—semua;  pŗthivī-pate—wahai Baginda Raja; saubhadrah—Abimanyu, putra Saubadrā; ca—juga; mahā-bāhuh—berlengan perkasa; śańkhān—kerang-kerang; dadhmuh—meniup;  pŗthak-pŗthak—sendiri-sendiri.
Raja Yudhişţhira, putra Kuntī, meniup kerangnya bernama Anantavijaya, Nakula dan Sahadeva meniup Sughoşa dan Maņipuşpaka. Pemanah yang perkasa Raja Kāsī, kesatria hebat yang bernama Śikhaņdī, Dhŗşţadyumna, Virāţa dan Satyaki yang tidak pernah dikalahkan, Drupada, para putra Draupadī, dan lain-lain, seperti putra Saubadrā, yang berlengan perkasa, semua meniup kerang-kerangnya masing-masing; wahai Baginda Raja. (Prabhupāda).
Anantavijaya—(Kemenangan yang abadi); sughoşa—(suara nan merdu); maņipuşpakau— (kembang permata); kāśyaśca—dan raja dari Kāsī; parameswasah—pemanah utama; śikhaņdī—Śikhaņdī; aparājitah—tak terkalahkan; drupadah—Drupada, raja Pāñcāla; draupadeyāśca—serta putra-putra Drupadi; sarvaśah—dari segala sisi;  pŗthivī-pate—raja atas dunia; saubhadraśca—dan putra Saubadrā; mahā-bāhuh—bersenjata yang kuat; pŗthak-pŗthak—masing-masing.
Putra Kuntī, prabu Yudhişţhira meniup Anantavijaya, (sedangkan) Nakula dan Sahadeva meniup Sughoşa dan Maņipuşpaka. Maha raja dari Kāsī pemanah yang unggul Śikhaņdī, pahlawan kereta Dhŗşţadyumna dan Virāţa demikian pula Satyaki yang tidak terkalahkan. Raja Drupada dan putra-putra Draupadī putra Saubadrā, dengan persenjataan yang kuat, semua meniup trompet mereka masing-masing dari segala penjuru. (Gde Pudja)
Putra Kuntī, raja Yudhişţhira, meniup terompet kerangnya yang bernama Anantavijaya: Nakula dan Sahādeva, masing-masing meniup terompet kerangnya yang bernama Sughoşa dan Maņipuşpaka. Dan pemanah perkasa raja dari Kāsī, kesatria kereta Śikhaņdī, Dhŗşţadyumna, Virāţa dan Satyaki yang sulit dikalahkan itu. Wahai penguasa bhūmi (Dhŗtarāşţra); Drupada dan putra-putra Draupadī serta putra Saubadrā (abhimanyu), yang berlengan perkasa, semuanya juga meniup terompet kerangnya masing-masing. (Maswinara).
Raja Yudhistira, putra ibu Kunti, meniup Anantawijaya, Nakula dan Sahadewa masing-masing meniup Sugosha dan Manipuspaka.
Juga yang ikut meniup sangkalalanya masing-masing adalah raja dari Kashi yang memimpin laskar pemanah, kemudian Sikhandi (Srikandi) yang gagah perkasa, Dhristadyumna, Virata dan Satyaki (Setyaki) yang tak terkalahkan.
Juga Drupada dan putra-putra Drupadi dan Saubadra, semuanya meniup sangkalala mereka dari setiap jurusan. (TL.Wasvani).
Keterangan :
•    Raja Yudhistira: Yang tertua diantara Pandawa adalah seorang maha-raja yang berwatak tenang, penuh kasih-sayang dan amat bijaksana dalam segala tindak-tanduknya, tak pernah bohong dalam segala hal. Beliau dikenal lebih sebagai seorang negarawan daripada seorang pendekar yang gemar berperang. Sangkalalanya disebut Anantawijaya (kemenangan tanpa akhir) atau suara kemenangan.
•    Nakula: Saudara keempat Pandawa dikenal amat mahir berkuda, sangkalalanya bernama Sugosa (suara indah).
•    Sahadewa (sadewa): Saudara kelima Pandawa, memiliki sangkalala yang bernama Manipuspaka (mutiara yang mekar atau bunga-bunga mutiara), bentuknya sangat indah laksana mutiara dan ditaburi pula dengan mutiara-mutiara asli yang indah.
•    Shikandi (Srikandi): Di India sering disebut juga sebagai putra raja (sebenarnya seorang banci) Drupada, di Indonesia ia dikenal sebagai pahlawan wanita, merupakan titisan dewi Amba yang menuntut balas kepada Bhisma. Panahnya akan menghabisi nyawa Bhisma dalam perang ini.
•    Satyaki: Adalah sais kereta perang pribadi Sang Kreshna.

1.19
Sa  ghoşo  dhārtarāşţrāņām      hŗdayāni  vyadārayat
nabhaś ca  pŗthivīm caiva     tumulo  ‘bhyanunādayan
Sah—itu; ghoşah—getaran suara; dhārtarāşţrāņām—dari para putra Dhŗtsrāşţra; hŗdayāni—hati; vyadārayat—mematahkan; nabhah—langit; ca—juga;  pŗthivīm—muka bumi; ca—juga; eva—pasti;   tumulah—gempar; abhyanunādayan—dengan bergema.
Berbagai jenis kerang tersebut ditiup hingga menggemparkan. Suara kerang-kerang bergema baik di langit maupun di bumi, hingga mematahkan hati para putra Dhŗtarāşţra. (Prabhupāda).
Sa—ia, itu; ghoşa—suara yang gemuruh / gegap gempita; hŗdayāni—hati, perasaan jiwa; vyadārayat—menyebabkan; nabhah—(s)langit; pŗthivīm—bumi; awhyanunādayan—bergema, menggetarkan.
Suara gegap gempita itu memecah angkasa dan bumi menggentarkan hati puta-putra Dhŗtarāşţra. (Gde Pudja).
Memenuhi angkasa dan bumi dengan gema yang gegap gempita, menggentarkan hati para putra Dhŗtarāşţra. (Maswinara).
Suara-suara dahsyat sangkalala-sangkalala ini memenuhi langit dan bumi tanpa henti-hentinya dan menjatuhkan semangat putra-putra Kaurawa. (TL.Wasvani).

1.20
atha  vyavasthitān  dŗşţvā     dhārtarāşţrān  kapi-dhvajah
pravŗtte  śastra-sampāte     dhanur  udyamya  pāņdavah
            Hŗşīkeśam  tadā  vākyam     idam  āha  mahī-pate.      (Metrum:Mahāpańkti)
atha—sesudah itu; vyavasthitān—terletak; dŗşţvā—memandang; dhārtarāşţrān—para putra Dhŗtsrāşţra; kapi-dhvajah—orang yang benderanya ditandai dengan gambar Hanumān; pravŗtte—pada saat hampir akan menjadi sibuk; śastra-sampāte—dalam melepaskan anak panahnya; dhanur—busur;  udyamya—mengangkat;  pāņdavah—putra Pāņdu (Arjuna);              Hŗşīkeśam—kepada Śrī Kŗşņa;  tadā—pada waktu itu;  vākyam—kata-kata; idam—ini; āha—berkata; mahī-pate—wahai Paduka Raja.
Pada waktu itu, Arjuna, putra Pāņdu, yang sedang duduk diatas kereta, benderanya ditandai dengan gambar Hanumān, mengangkat busurnya dan bersiap-siap untuk melepaskan anak panahnya. Wahai Paduka Raja, sesudah memandang para putra Dhŗtsrāşţra, Arjuna berkata kepada Hŗşīkeśa (Kŗşņa) sebagai berikut :        (Prabhupāda).
vyavasthitam—mendekat (siap perang); dŗşţvā—setelah melihat; kapidhvaja—pataka (dwaja) berlambang kera; pravŗtte—mulia; śastra-sampāta—anak panah yang akan terbang; dhanurudyamya—mengambil busur panah; Hŗşīkeśam—kepada Hŗşīkeśa (Kŗşņa);  tadā—kemudian;  vākyam—kata-ucapan; idam—ini; āha—berkata.
Kemudian setelah melihat putra-putra Dhŗtsrāşţra dengan senjata siap dalam barisan maka Arjuna dengan panji-panji berlambangkan “Hanuman” mengangkat busur pananhnya. Kemudian mengucapkan kata-kata ini kepada Kŗşņa. (Gde Pudja).
Kemudian Arjuna yang berdiri di kereta perangnya yang berlambangkan kera (Hanuman) memandang barisan putra-putra Dhŗtsrāşţra yang siap dengan senjata-senjatanya, lalu muilai mengangkat busur pananhnya. Kemudian berkata kepada Hŗşīkeśa (Kŗşņa) : (Maswinara).
Kemudian Arjuna yang di kereta perangnya terdapat panji bergambarkan Hanumān, memandang ke arah putra-putra Dhristarashtra yang telah siap untuk berperang; dan tak lama kemudian ketika perang akan segera dimulai, Arjuna memungut busur pananhnya. Dan berkata kepada Sang Kreshna : (TL.Wasvani).

1.21-22
arjuna  uvāca
senayor  ubhayor  madhye     ratham  sthāpaya  me  ‘cyuta
yāvad  etān  nirīkşe  ‘ham     yoddhu-kāmān  avasthitān
          kair mayā  saha  yoddhavyam     asmin  raņa-samudyame (M.Mahāpańkti)
senayoh—antara tentara-tentara;  ubhayoh—antara kedua-duanya; madhye—di tengah-tengah;     ratham—kereta; sthāpaya—mohon membawa; me—milik hamba; acyuta—wahai Kŗşņa yang tidak pernah gagal; yāvat—selama; etān—semua ini; nirīkşe—dapat memandang; aham—hamba;  yoddhu-kāmān—ingin bertempur;  avasthitān—tersusun di medan perang; kaih—dengan siapa; mayā—oleh saya;  saha—bersama-sama;  yoddhavyam—harus bertempur; asmin—dalam ini; raņa—pertengkaran; samudyame—dalam usaha.
Arjuna berkata: Wahai Kŗşņa yang tidak pernah gagal, mohon membawa kereta saya di tengah-tengah antara kedua tentara supaya saya dapat melihat siapa yang ingin bertempur di sini dan siapa yang harus saya hadapi dalam usaha perang yang besar ini. (Prabhupāda).
senayor ubhayor  madhye—di tengah-tengah antara kedua pasukan;    ratham—kereta; sthāpaya—letakkan, tempatkan; me—saya punya; acyuta(tidak tergerakkan)—Kŗşņa, kata acyuta—terdapat pula dalam Rg.I.52.3, dalam kitab  Buddha Dāthawane=Nirwana; Hŗşīkeśa (Hris=menjadi kuat, Kesa-rambut) Kŗşņa-mempunyai rambut ikal seperti dewa Apollo; yāvat—selama, selagi; nirīkşe—mengenal, mengetahui; aham—saya; yoddhukāmān—berkeinginan untuk perang;  avasthitān—sedang berdiri; kairmayā—dengan siapa saya;  saha—bersama, dengan;  yoddhavyam—yang harus berperang; asmin—dalam; raņasamudyame—perang yang sulit dilakukan.
Arjuna berkata: O Kŗşņa tariklan keretaku sampai di tengah di antara kedua pasukan. Dengan demikian saya dapat mengetahui siapa-siapa mereka yang siap, ingin bertempur yang saya harus hadapi nanti dalam peperangan ini. (Gde Pudja).
Arjuna berkata: Arahkan dan tempatkan keretaku ini di tengah-tengah antara kedua pasukan (yang saling berhadapan) ini, wahai Acyuta (Kŗşņa), agar supaya aku dapat mengetahui mereka yang siap dan bernafsu sekali untuk berperang; yang harus aku hadapi dalam pertempuran yang akan segera terjadi ini. (Maswinara).
Berkatalah Arjuna: Ingin kulihat semua yang ada di medan ini, mereka yang telah bersiap-siap untuk berperang, dengan siapa aku nanti harus berlaga. (TL.Wasvani).

1.23
yotsyamānān  avekşe  ‘ham     ya  ete ‘tra  samāgatāh
dhārtarāşţrasya  durbuddher     yuddhe  priya-cikīrşavah
yotsyamānān—orang yang akan bertempur;  avekşe—perkenankanlah saya melihat; aham—saya;      ye—siapa;  ete—itu; atra—di sini; samāgatāh—yang sudah berkumpul; dhārtarāşţrasya—untuk para putra Dhŗtsrāşţra; durbuddher—berpikir jahat;  yuddhe—dalam pertempuran;  priya—baik; cikīrşavah—menginginkan.
Perkenankanlah saya melihat mereka yang sudah datang di sini untuk bertempur karena keinginan untuk menyenangkan hati putra Dhŗtsrāşţra yang berpikir jahat. (Prabhupāda).
yotsyamānām—orang yang ingin hendak berperang;  avekşaham—saya melihat; ya—mereka itu;  ete-atra—di sini, di sana; samāgatāh—berkumpul; dhārtarāşţrasya—untuk putra Prabu Dhŗtsrāşţra; durbuddher—yang berpikir jahat;  yuddhe—dalam perperangan;  priyacikīrşavah —untuk memuaskan hati; untuk menuruti kata hati.
Agar dapat saya menyaksikan sendiri mereka yang berkumpul, berbaris di sini rela berkorban demi kepuasan hati putra Dhŗtsrāşţra yang berpikiran jahat. (Gde Pudja).
Dan aku ingin sekali melihat sendiri mereka yang berkumpul di sini, yang siap bertempur dan bernafsu sekali untuk mendapatkan apa-apa yang sangat disukai oleh putra Dhŗtsrāşţra yang berbudi jahat itu dalam peperangan ini. (Maswinara).
Ingin kulihat mereka yang berkumpul di sini, yang berhasrat untuk mendapatkan sesuatu yang berharga bagi putra-putra Dhristarashtra yang berhati iblis itu. (TL.Wasvani).

1.24
sañjaya uvāca
evam  ukto hŗşīkeśo     gudākeśena  bhārata
senayor  ubhayor  madhye     sthāpayitvā rathottamam
evam—demikian;  uktah—disapa; hŗşīkeśah—Śrī Kŗşņa; gudākeśena—oleh Arjuna; bhārata—wahai putra keluarga Bhārata; senayoh—antara tentara-tentara; ubhayoh—kedua-duanya; madhye—di tengah-tengah; sthāpayitvā—menempatkan; ratha-uttamam—kereta yang paling bagus.
Sañjaya berkata: wahai putra keluarga Bhārata, setelah disapa oleh Arjuna, Śrī Kŗşņa membawa kereta yang bagus itu ke tengah-tengah antara tentara tentara kedua belah pihak. (Prabhupāda).
evam—demikian;  ukto—ucapan, disampaikan; hŗşīkeśah—Śrī Kŗşņa senayar—kedua) pasukan; ubhayoh—kedua; madhye—di tengah, di antara; gudākeśena—oleh Arjuna; bhārata—putra bhārata; sthāpayitvā—setelah meletakkan; ratha-uttama—kereta yang terbaik.
Sañjaya berkata: Demikian permintaan Arjuna kepada Kŗşņa, setelah mendengar permintaan demikian  Kŗşņa menempatkan kereta yang indah di tengah-tengah kedua pasukan. (Gde Pudja).
Sañjaya berkata: Wahai Bhārata (Dhŗtsrāşţra), setelah Gudākeśa (Arjuna) berkata kepada Hŗşīkeśa (Kŗşņa), maka Śrī  Kŗşņa menempatkan kereta yang sangat indah itu ditengah-tengah  antara kedua pasukan yang saling berhadapan itu. (Maswinara).
Berkatalah sanjaya: Setelah arjuna selesai dengan kata-katanya, Sang Kreshna pun mengarahkan kereta perangnya, kereta yang terbaik diantara semua kereta-kereta perang, ke tengah-tengah, diantara kedua laskar yang berbaris rapi. (TL.Wasvani).

1.25
bhīşma-droņa-pramukhatah     sarveşām ca  mahī-kşitām
uvāca  pārtha  paśyaitān     samavetān  kurūn  iti
bhīşma—Kaket Bhīşma; droņa—guru Droņa;  pramukhatah—di depan; sarveşām—semua; ca—dan;  mahī-kşitām—pemimpin-pemimpin dunia; uvāca—bersabda; pārtha—wahai putra Pŗthā;  paśya –lihatlah; etān-semuanya; samavetān-sudah berkumpul; kurūn-anggota-anggota keluarga besar Kuru;  iti—demikian.
Dihadapan Bhīşma, Droņa dan semua pemimpin dunia lainnya, Śrī Kŗşņa bersabda, wahai partha, lihatlah para Kuru yang sudah berkumpul di sini. (Prabhupāda).
pramukhatah—di hadapan mahīkşitām—para pemuka, pemimpin-pemimpin negara (daerah  paśya’tān—lihatlah mereka, saksikanlah mereka; samavetān—berkumpul (bersama);  iti—ini.
Dihadapan Bhīşma, Droņa dan pemimpin-pemimpin terkemuka, Kŗşņa berkata: saksikanlah mereka Arjuna, para keturunan Kuru yang berkumpul ini. (Gde Pudja).
Dihadapan Bhīşma, Droņa dan semua pimpinan pasukan Kŗşņa bersabda :”Wahai Pārtha (Arjuna), lihatlah seluruh warga keluarga wangsa Kuru telah berkumpul bersama-sama (disini). (Maswinara).
Di hadapan Bhisma, Drona dan pendekar-pendekar lainnya, berkatalah Kreshna: Lihatlah, oh Arjuna, para Kuru yang sedang berkumpul (di sini). (TL.Wasvani).

1.26
tatrāpaśyat  sthitān  pārthah     pitŗn  atha  pitāmahān
ācāryān  mātulān  bhrātŗn    putrān-pautrān  sakhīms  tathā
śvaśurān  suhŗdaś  caiva     senayor  ubhayor  api.            (Metrum:Mahāpańkti) 
tatra—di sana; apaśyat—dia dapat melihat;  sthitān—berdiri; pārtha—Arjuna; pitŗ—ayah-ayah;  atha—juga;  pitāmahān—kakek-kakek; ācāryān—guru-guru; mātulān—paman-paman dari keluarga ibu;  bhrātŗn—saudara-saudara;  putrān—putra-putra; pautrān—cucu-cucu;  sakhīn—kawan-kawan;  tathā—juga; śvaśurān—mertua-mertua;  suhŗda—orang yang mengharapkan kesejahteraan; ca—juga; eva—pasti; senayor—antara tentara-tentara;  ubhayor—antara kedua belah pihak;  api—termasuk.
Di sana di tengah-tengah tentara-tentara kedua belah pihak, Arjuna dapat melihat para ayah, kakek, guru, paman, dari keluarga ibu, saudara, putra, cucu, kawan, mertua, dan orang yang mengharapkan kesejahteraanya semua hadir di sana. (Prabhupāda).
tatra—di sana; apaśyat—setelah melihat;  sthitān—berdiri; pārthah—Arjuna; pitŗn—bapa;  atha—kemudian;  pitāmahān—kakek, orang tua yang dihormati; ācāryān—guru besar; mātulān—paman dari pihak keluarga wanita;  bhrātŗn—saudara; pautrān—cucu (laki);  sakhīn—sahabat;  tathā—juga, kemudian; śvaśurān—para mertua;  suhŗda—sahabat.
Setelah Arjuna melihat di sana berdiri para bapa, kakek dan guru, paman, saudara, dan sepupu, anak, cucu dan sahabat, para mertua, kawan sejawat, berdiri tegak dalam barisan kedua belah pihak. (Gde Pudja).
Kemudian disana Pārtha menyaksikan berdiri dalam kedua barisan itu para bapak, kakek, guru, paman, saudara sepupu, anak, cucu demikian pula para sekutu dan juga para mertua, teman sejawat pada kedua pasukan tersebut. (Maswinara).
Dan Arjuna pun melihat paman-pamannya, para sesepuh (kakek-kakek), guru-guru, saudara-saudara dari ibunya, putra-putra dan para cucu, misan dan sahabat-sahabatnya, berdiri berbaris rapi. (TL.Wasvani).

1.27
tān  samīksya  sa  kaunteyah     sarvān  bandhūn  avasthitān
kŗpayā  parayāvişţo     vişīdan  idam  abravīt
tān—mereka semua; samīksya—sesudah melihat;  sah—dia; kaunteyah—putra Kuntī; sarvān—semua jenis; bandhūn—sanak keluarga;  ava-sthitān—terletak; kŗpayā—oleh kasih sayang; parayā—bertingkat; avişţah—tergugah; vişīdan—sambil menyesal;  idam—demikian;  abravīt—berkata.
Ketika Arjuna, putra Kuntī, melihat semua jenis kawan dan sanak keluarga ini, hatinya tergugah rasa kasih sayang dan dia berkata sebagai berikut :         (Prabhupāda). 
tān samīksya—setelah melihat mereka (semua);  sa—dia (Arjuna); sarvān bandhūn—semua sanak keluarga;  avasthitān—dalam barisan; kaunteyah—Kuntī putra (Arjuna); kŗpayā—rasa belas kasihan; parayā—mendalam; avişţa—diliputi, penuh berisi; vişīdam—dalam keadaan;  idam—ini;  abravīt—berkata.
Ketika Arjuna, putra Kuntī, melihat semua jenis kawan dan sanak keluarga ini, hatinya diliputi rasa kasihan dalam keadaan sedih, Arjuna berkata. (Gde Pudja).
Ketika putra Kuntī (Arjuna), menyaksikan seluruh sanak keluarganya berdiri berbaris di sana, hatinya diliputi dengan perasaan kasihan dan duka cita yang mendalam, sambil mengucapkan kata-kata : (Maswinara).
Juga terlihat ayah-mertuanya dan para teman yang terdapat di kedua belah pihak, Melihat jajaran sanak-sudaranya yang berbaris rapi ini, arjuna.... (TL.Wasvani).

1.28
arjuna  uvāca
dŗşţvemam  sva-janam  kŗşņa     yuyutsam  samupasthitam
sīdanti  mama  gātrāni     mukham ca  pariśuşyati
dŗşţva—sesudah melihat; imam—semua ini; sva-janam—sanak keluarga; kŗşņa—aduh Kŗşņa;     yuyutsam—semua bersemangat untuk bertempur; samupasthitam—hadir; sīdanti—gemetar;  mama—milik saya;  gātrāni—anggota-anggota badan;  mukham—mulut; ca—juga;  pariśuşyati—terasa kering.
Arjuna berkata: Kŗşņa yang baik hati, setelah melihat kawan-kawan dan sanak keluarga di hadapan saya dengan semangat untuk bertempur seperti itu, saya merasa anggota-anggota badan saya gemetar dan mulut saya terasa kering. (Prabhupāda).
dŗşţvenam—melihat ini; svajanam—orang-orang sendiri; kŗşņa—aduh Kŗşņa; yuyutsam—berkeinginan untuk berperang; samupasthitam—hadir mendekat; berbaris; sīdanti—menjadi lemas; gātrāni—anggota-anggota tunuh; mukham—mulut; pariśuşyati—terasa kering.
Arjuna berkata: Dengan menyaksikan orang-orang sendiri yang berbaris siap untuk berperang, o Kŗşņa, anggota tubuh saya menjadi lemas, mulut saya terasa kering. (Gde Pudja).
Bila aku menyaksikan orang-orangku  sendiri yang berbaris dan bernafsu sekali untuk bertempur,Wahai Kŗşņa, anggota badanku terasa lemas, mulutku terasa kering. (Maswinara).
Tergetar penuh dengan rasa iba dan berkata pilu : Melihat jajaran keluarga ini, oh Kreshna, bersiap-siap untuk berperang, sendi-sendi badanku terasa lemas dan bibirku terasa rapat. (TL.Wasvani).

1.29
vepathuś ca  śarīre  me     roma-harşaś ca  jāyate
gāņdīvam  sramsate  hastāt     tvak  caiva  paridahyate
vepathuh—badan gemetar; ca—juga;  śarīre—pada badan; me—milikku; roma-harşah—bulu roma merinding; ca—juga;  jāyate—sedang terjadi; gāņdīvam—busur Arjuna; sramsate—lepas; hastāt—dari tangan; tvak—kulit; ca—juga: eva—pasti;  paridahyate—terbakar.
Seluruh badan saya gemetar, dan bulu roma merinding. Busur Gāņdīva terlepas dari tangan saya, dan kulit saya terasa terbakar. (Prabhupāda).
vepathuh—gemetar; śarīre—pada tubuh; me—dari saya, pada saya; roma-harşah—bulu roma pada tegak; gāņdīvam—busur panah; sramsate—lepas jatuh; hastāt—dari tangan; tvak—kulit, alat perasa;  paridahyate—terbakar, terasa panas (dahati=membakar; dah=bakar).
Sekujur badan saya gemetar dan bulu roma saya pada berdiri. Busur terlepas dari tangan saya dan seluruh kulit saya terasa panas membara. (Gde Pudja).
Sekujur tubuhku gemetaran dan bulu romaku merinding. (Busur) Gāņdīva terlepas dari tanganku dan kulitku terasa terbakar seluruhnya. (Maswinara).
Seluruh tubuhku tergetar dan rambutku tegak berdiri. Busur Gandivaku terlepas dari tanganku dan seluruh kulitku terasa terbakar. (TL.Wasvani).

1.30
na  ca  śakromy  avasthātum     bhramativa ca  me  manah
nimitāni  ca  paśyāmi     viparītāni  keśava
na—tidak juga; ca—juga;  śakromy—saya dapat; avasthātum—tinggal; bhramati—lupa; iva—sebagai; ca—dan;  me—milik saya;  manah—pikiran; nimitāni—sebab-sebab; ca—juga;  paśyāmi—saya melihat; viparītāni—justru lawannya;  keśava—O pembunuh raksasa bernama Keśī (Kŗşņa).
Saya tidak tahan berdiri di sini lagi, saya lupa akan diri, dan pikiran saya kacau. O saya hanya dapat melihat sebab-sebab malapetaka saja, wahai pembunuh raksasa bernama Keśī. (Prabhupāda).
śakromy—saya dapat; avasthātum—berdiri; bhramati—dalam keadaan kacau, tidak menentu, seolah-olah; manah—pikiran; nimitāni—firasat, omen; viparītāni—yang bertentangan, buruk; keśava—Kŗşņa.
Saya tidak kuasa lagi berdiri dan pikiran saya kacau tak menentu. Saya melihat firasat buruk o Kŗşņa. (Gde Pudja).
Aku tak mampu untuk berdiri tegak dan pikiranku kacau. Dan aku melihat tanda-tanda buruk , wahai Keśawa (Kŗşņa). (Maswinara).
Tak kuat aku berdiri tegak lagi; kepalaku serasa berputar-putar. Dan kulihat pertanda iblis, oh Kreshna! (TL.Wasvani).


1.31
na  ca  śreyo  ‘nupaśyāmi     hatvā  sva-janam  āhave
na  kāńkşe  vijayam kŗşņa     na  ca  rājyam  sukhāni  ca
na—tidak juga; ca—juga; śreyo—hal-hal yang baik; anupaśyāmi—saya dapat membayangkan;     hatvā—dengan membunuh; sva-janam—sanak keluarganya sendiri; āhave—dalam pertempuran; na—tidak juga; kāńkşe—saya menginginkan; vijayam—kemenangan; kŗşņa—O Kŗşņa; na—tidak juga; ca—juga; rājyam—kerajaan; sukhāni—kebahagiaan dari hal itu; ca—juga.
Saya tidak dapat melihat bagaimana hal-hal baik dapat diperoleh kalau saya membunuh sanak keluarga sendiri dalam perang ini, Kŗşņa yang baik hati, saya juga tidak dapat menginginkan kejayaan, kerajaan, maupun kebahagiaan sebagai akibat perbuatan itu.  (Prabhupāda).
na ca—dan tidak; śreyo—kebaikan; anupaśyāmi—saya lihat; hatvā—membunuh; sva-janam—rakyat (orang) sendiri; āhave—dalam peperangan; kāńkşe—mengharapkan; vijayam—kemenangan; rājyam—kerajaan, wilayah; sukhāni—kesenangan.
Tidak ada baiknya saya membunuh rakyat sendiri dalam peperangan ini. Saya tidak mengharapkan kemenangan dan tidak juga kerajaan dan kesenangan, o Kŗşņa (Gde Pudja).
Dimana aku tidak melihat baikan sama sekali dengan membunuh sanak keluarga sendiri dalam pertempuran ini. Aku tidak menginginkan kemenangan lagi, wahai Kŗşņa, ataupun kerajaan maupun kesengan. (Maswinara).
Tak kulihat sesuatu apapun yang baik dengan membunuh sanak-saudaraku dalam perang ini. Tak kuinginkan kemenangan, Oh Kreshna, tidak juga aku menginginkan kerajaan atau pun kesenangan-kesenangan. (TL.Wasvani).

1.32-35
kim  no  rājyena  govinda     kim  bhogair  jīvitena  vā
yeşām  arthe  kāńkşitam  no     rājyam  bhogāh  sukhāni  ca
tan  ime  ‘vasthitā  yuddhe     prāņāms  tyaktvā  dhanāni  ca
ācāryāh  pitarah  putrās     tathaiva  ca  pitāmahāh
mātulāh  śvaśurāh  pautrāh     śyālāh  sambandhinas  tathā
etān  na  hantum  icchāmi     ghnato  ‘pi  madhusūdana
api  trailokya-rājyasya     hetoh  kim  nu  mahī-kŗte
nihatya  dhārtarāşţrān  nah     kā  prītih  syāj  janārdana
kim—apa gunanya;  nah—bagi kita; rājyena—kerajaan adalah; govinda—O Kŗşņa; kim—apa;  bhogair—kenikmatan; jīvitena—hidup; vā—atau; yeşām—dari siapa; arthe—demi kepentingan;  kāńkşitam—diinginankan;  nah—oleh kita; rājyam—kerjaan;  bhogāh—kenikmatan material;  sukhāni—segala kebahagiaan;  ca—juga;  te—mereka; ime—ini;  avasthitāh—terletak; yuddhe—di medan perang ini;  prāņān—nyawa-nyawa;  tyaktvā—menyerahkan;  dhanāni—kekayaan;  ca—juga;  ācāryāh—guru-guru;  pitarah—ayah-ayah;  putrāh—putra-putra;  tathā—beserta; eva—pasti;  ca—juga;  pitāmahāh—kakek-kakek;  mātulāh—paman-paman dari keluarga ibu; śvaśurāh—mertua-mertua;  pautrāh—cucu-cucu;  śyālāh—ipar-ipar;  sambandhinah—sanak keluarga;  tathā—beserta; tān—semua ini;  na—tidak pernah;  hantum—membunuh;  icchāmi—saya menginginkan;     ghnatah—dengan dibunuh;  api—walaupun;  madhusūdana—wahai pembunuh raksasa yang bernama Madhu (Kŗşņa); api—walaupun;  trailokya—dari tiga dunia;  rājyasya—untuk kerajaan;    hetoh—sebagai pertukaran;  kim nu—apa lagi;  mahī-kŗte—untuk bumi;  nihatya—dengan membunuh;  dhārtarāşţrān—para putra Dhŗtarāşţra; nah—milik kita;  kā—apa; prītih—kesenangan;  syāt—akan ada;  janārdana—wahai Pemelihara semua makhluk hidup.
O Govinda, barangkali kita menginginkan kerajaan, kebahagiaan ataupun kehidupan bagi orang tertentu, tetapi apagunanya kerajaan, kebahagiaan atau kehidupan bagi kita kalau mereka sekarang tersusun pada medan perang ini? O Madhusūdhana, apakah para guru, ayah, putra, kakek, paman dari keluarga ibu, mertua, cucu, ipar dan semua sanak keluarga bersedia bersedia mengorbankan nyawa dan harta bendanya dan sekarang berdiri di hadapan saya, mengapa saya harus berhasrat membunuh mereka, meskipun kalau saya tidak membunuh mereka, mungkin mereka akan membunuh saya? Wahai Pemelihara semua makhluk hidup, jangankan untuk bumi ini, untuk imbalan seluruh tiga dunia ini pun saya tidak bersedia bertempur melawan mereka. Kesenangan apa yang akan kita peroleh kalau kita membunuh para putra Dhŗtarāşţra? (Prabhupāda).
kim—apa;  no—kami; rājyena—dengan kerajaan, dengan kekuasaan; govinda—O Kŗşņa;  bhogair—dengan kesenangan; jīvitena—dengan hidup; vā—atau; yeşāmarthe—untuk siapa  kāńkşitam—keinginan, perebutkan; ta—itu semua; avasthitāh—berada siap; prāņān—hidup, jiwa;  tyaktvā—korbankan, membuang;  dhanāni—harta benda; ācāryāh—guru besar;  pitarah—orang tua, leluhur; tathā’wa—demikian pula; mātulāh—paman; śvaśurāh—mertua;  pautrāh—cucu;  śyālāh—ipar;  sambandhinas—sanak keluarga, sanak kadang; etān—mereka ini semua;  icchāmi—saya bermaksud; hantum—untuk membunuh; ghnato—akan mati; api—demikian juga;  trailokya rājyasya—berkuasa atas tiga dunia; hetoh—hanya karena;  kim—apa;  mahī-kŗte—untuk keduniaan;  nihatya—dengan membunuh;  dhārtarāşţrān nah—para putra Dhŗtarāşţra;  kā—apa; prītih—senangnya, enaknya;  syāt—akan terjadi.
Apa gunanya kerajaan dan kesenangan demikian pula hidup ini, oh Kŗşņa? Untuk siapa kita perebutkan kerajaan, kebahagiaan dan kesenangan yang mereka (pertahankan) berada di sini siap untuk perang dengan mengorbankan jiwa dan harta benda  mereka; guru, bapa, anak-anak dan kakek, serta paman, ipar, cucu, mertua, dan sanak kadang lainnya; semua itu aku tidak hendak bunuh mereka, sekalipun (mereka bunuh aku) oh Kŗşņa ? untuk ketiga dunia, apalagi hanya untuk dunia ini. Kebahagiaan apakah yang akan kita nikmati, setelah membunuh putra-putra Dhŗtarāşţra.  (Gde Pudja).
Wahai Giwinda (Kŗşņa), apa gunanya lagi kerajaan ini bagi kita, demikian pula kenikmatan dan kehidupan ini sendiri. Demi untuk siapakah  kita serta merta yang berdiri di sini  berperang, menginginkan kerajaan, kenikmatan dan kesenangan ini? dengan mengorbankan jiwa dan harta benda  mereka; para guru, ayah, putra-putra dan juga para kakek, paman, mertua, cucu, ipar, dan kaum kerabat (lainnya); Wahai Madhusūdana (Kŗşņa), aku tak ingin membunuh mereka, walaupun mereka membunuhku; kendatipun aku memerintah di ketiga dunia ini, apalagi hanya untuk dunia ini saja. Kesenangan apakah yang akan kita peroleh, setelah membunuh putra-putra Dhŗtarāşţra ini, wahai Janārdana (Kŗşņa)? (Maswinara).
Apakah arti sebuah kerjaan untuk kami, oh Kreshna, atau pun apakah arti dari kesenangan bahkan idup ini? Mereka-mereka ini sekarang berjajar rapi untuk mengorbankan hidup dan harta-benda mereka, sedangkan kami menginginkan kerajaan, kemewahan dan kesenangan, bukankah sebenarnya semua itu diperjuangkan untuk mereka juga. Yang terdiri dari para guru, ayah, putra-putra dan para kakek, paman, mertua, cucu, saudara-saudara ipar dan sanak-saudara lainnya.
Aku tak akan membunuh siapapun juga, walaupun aku sendiri boleh mati terbunuh, Oh Kreshna, takkan kuberperang walaupun aku sanggup mendapatkan ketiga dunia ini; apalagi hanya untuk satu yang bersifat duniawi ini?
Setelah membatai putra-putra Dhristarashtra, kenikmatan apakah yang dapat kita miliki, wahai Kreshna? (TL.Wasvani).

1.36
pāpam  evāśrayed  asmān     hatvaitān  ātatāyinah
tasmān  nārhā  vayam  hantum    dhārtarāşţrān  sa-bhāndavān
sva-janam  hi  katham  hatvā   sukhinah  syāma mādhava.  (M.Mahāpańkti)
pāpam—dosa-dosa;  eva—pasti;  āśrayet—harus menguasai;  asmān—kita;  hatva—dengan membunuh; etān—semua ini;  ātatāyinah—penyerang; tasmāt—karena itu;  na—tidak pernah;  arhāh—patut;  vayam—kita;  hantum—membunuh;   dhārtarāşţrān—para putra Dhŗtarāşţra; sabān-dhavān—beserta kawan-kawan;  sva-janam—sanak keluarga;  hi—pasti; katham—bagaimana;   hatvā—dengan membunuh;  sukhinah—bahagia;  syāma—kita akan menjadi; mādhava—O Kŗşņa, suami Dewi Keberuntungan.
Kita akan dikuassai oleh dosa kalau kita membunuh penyerang seperti itu. Karena itu, tidak pantas kalau kita membunuh para putra Dhŗtarāşţra dan kawan-kawan kita. O Kŗşņa, suami Dewi Keberuntungan, apa keuntungannya bagi kita, dan bagaimana mungkin kita berbahagia dengan membunuh keluarga kita sendiri?   (Prabhupāda).
pāpam—dosa, penderitaan;  iva—hanya;  āśrayet—yang akan lekat;  asmān—pada kami;  hatva—setelah membunuh; itān—ini semua;  ātatāyinah—mengancam hendak membunuh; tasmānnārhāt—oleh karena itu tidak diharapkan, karenanya tidaklah patut;  hantum—untuk membunuh;   dhārtarāşţrān—para putra Dhŗtarāşţra; swabāndhavān—keluarganya sendiri;  sva-janam—keluarga sendiri; katham—bagaimana; sukhinah—senang;  syāma—dapat menjadi, mungkin
Hanya dosalah yang akan datang kepada kami setelah membunuh sidurhaka itu. Karenanya tidaklah patut kita membunuh putra-putra Dhŗtarāşţra keluarga sendiri; Bagaimana kita bisa bahagia dengan membunuh keluarga sendiri oh Kŗşņa. (Gde Pudja).
Yang pasti hanyalah dosa bagi kita bila membunuh si durjana ini. Karena itu, tidak patut kita membunuh kaum kerabat kita sendiri, putra-putra Dhŗtarāşţra itu; Sesungguhnya bagaimana mungkin kita dapat bahagia, Mādhawa (Kŗşņa), apabila kita membunuh keluarga sendiri? (Maswinara).
Setelah membunuh penjahat-penjahat ini, kita sendiri akan tersemar oleh dosa-dosa ini.
Tak benar bagi kita untuk membunuh sanak-saudara sendiri, yaitu putra-putra Dhristarashtra. Sebenarnya, wahai Kreshna, mana mungkin kita ‘kan bahagia dengan membunuh keluarga kita sendiri? (TL.Wasvani).
Ke :    Arjuna adalah seorang pahlawan besar, tetapi menghadapi situasi yang unik ini, ia terhempas ke dalam suatu keragu-raguan yang dalam. Arjuna ke Kurukshetra untuk berperang tetapi tiba-tiba ia tak samapai hati untuk membunuh sanak saudaranya sendiri, walaupun ia tahu mereka-mereka ini berhati iblis. Tiba-tiba ia ragu untuk maju, gundahlah Arjuna dalam ‘ke akuan’ nya.
    Bukanlah kita manusia ini sering juga mengalami tekanan-batin yang berat dalam mengambil suatu keputusan yang maha-penting? Bukankah rasa iba sering kali membuka pintu kelemahan kita dan mengantarkan kita ke arah kehancuran itu sendiri? Itu semua karena kita terikat akan sanak-keluarga, harta benda, nama posisi kita dalam masyarakat. Menjadi budak dalam adat-istiadat demi kepentingan egois orang lainnya.
    Arjuna terjebak oleh rasa ibanya, oleh adat-istiadat dan simbul-simbol duniawi. Ia lupa tugas manusia sesungguhnya adalah demi dan untuk Yang Maha Esa, dan jalan ke Dia berarti meninggalkan semua milik duniawinya, baik yang berbentuk konkrit (nyata) maupun yang berbentuk abstrak. Dalam agama Kristen kita menjumpai suatu persamaan dalam hal ini, Nabi Isa (Yesus) pernah bersabda: “Seandainya seseorang datang kepadaKu tetapi belum bersedia meninggalkan ayah-bundanya, anak-istrinya, dan saudara-saudaranya, maka ia tidak akan menjadi muridKu”. Begitu pun dalam agama Hindu sering kita jumpai tokoh-tokoh spiritual di masa-masa yang silam yang harus meninggalkan “semua miliknya”, kalau sudah memilih jalan-Nya.
    Ini bukan berarti Sang Kreshna mengecam “rasa iba” atau perasaan “simpati” atas penderitaan seseorang: rasa iba adalah sifat seseorang yang satvik, tetapi rasa-iba yang sejati menurut versi Bhagavat Gita adalah yang tanpa moha, yaitu tanpa keterikatan duniawi. Rasa-iba yang sejati adalah ekpresi dari cinta atau kasih dari seseorang yang penuh dengan rasa “welas-asih”, dan tidak seseorang pun akan dapat mencintai sesuatu/seseorang dengan sejati tanpa memasuki “sinar pengetahuan ilahi”, dan bersedia berjalan lurus (tanpa keterikatan duniawi apapun juga) di jalannya sang dharma. Di atas, untuk sejenak Arjuna rupanya lupa akan dharmanya. Arjuna lupa dan belum sadar bahwa sanak-saudaranya yang sebenarnya bukanlah yang lahir secara fisik sebagai adik, kakak, ayah, ibu, paman, kakek, dsb, tetapi sanahk-saudara yang sejati adalah mereka yang mencintai Yang Maha Esa dan seiman dalam naungan Yang Maha Esa.
    Arjuna masih hilang dalam kealpaannya. Ia lupa bahwa dharma mengharuskan seseorang untuk melaksanakan semua kehendak Yang Maha Esa tanpa pamrih, sama sekali tanpa imbalan sesuatu apapun juga baik itu pahala atau pintu surga, tanpa apapun juga, titik. Hanya bekerja untuk dan demi Dia! Rasa iba yang sejati harus didasarkan atas dharma. Sang Rama sendiri untuk menegakkan dharma berperang melawan Rahwana, dan di Bhagavat Gita Sang Kreshna menganjurkan jalan yang sama kepada Arjuna, agar Arjuna lepas dari Choka (kesedihan) dan moha (keterikatan atau cinta duniawi).
    Di dalam Bhagavat Gita ajaran penting yang tersirat dalam “bunuhlah atau kekanglah pintu-pintu nafsumu”. Agama-agama yang lain pun selalu mengajarkan hal yang sama: Zoroaster misalnya mengatakan “berperanglah terhadap iblis tanpa henti-hentinya,” Sang Buddha berperang dengan Sang Mara. Yesus berperang dengan Syaitan, dan masih banyak contoh dari agama-agama yang lain. Arjuna di atas masih lupa bahwa ia harus berperang melawan Duryodana demi tegaknya dharma.

1.37-38
yady  apy  ete  na  paśyanti     lobhopahata-cetasah
kula-kşaya-kŗtam  doşa     mitra-drohe  ca  pātakam
katham  na  jñeyam  asmābhih    pāpād  asmān  nivartinum
kula-kşaya-kŗtam  doşam     prapaśyabhir  janārdana
yady—kalau;  apy—walapun;   ete—mereka;  na—tidak;  paśyanti—melihat;  lobha—oleh kelobaan upahata—dikuasai;  cetasah—hati mereka;  kula-kşaya—dalam membunuh keluarga; kŗtam—dilakukan;  doşa—kesalahan;  mitra-drohe—dalam bertengkar dengan kawan-kawan; ca—juga; pātakam—reakasi-reaksi dosa;  katham—mengapa; na—seharusnya tidak; jñeyam—menjadi terkenal;  asmābhih—oleh kita;  pāpāt—dari dosa;  asmāt—ini;  nivartinum—berhenti;  kula-kşaya—dalam membinasakan keluarga besar;  kŗtam—dilaksanakan; doşam—kejahatan;   prapaśyabhih—oleh orang yang dapat melihat;  janārdana—O Kŗşņa.
O Janārdana, walaupun orang ini yang sudah dikuasai oleh kelobaan tidak melihat kesalahan dalam membunuh keluarga sendiri atau bertengkar dengan kawan-kawan, mengapa kita yang dapat melihat bahwa membinasakan satu keluarga adalah kejahatan harus melakukan perbuatan berdosa seperti itu? (Prabhupāda).
yadi api—walapun juga; yadyapi ete—ini; paśyanti—melihat;  lobha—loba; upahata—buta;  cetasa—–pikiran; kulakşaya—musnahnya keluarga; kulakşayakŗtam—dengan musuhnya keluarga;  doşam—dosa, penderitaaan;  mitradrohe—penindasan oleh sahabat; pātakam—kejahatan;  katham—bagaimana jñeyam asmābhih—diketahui oleh kami  pāpād asmān—dari dosa kami; nivartinum—untuk mengusir; kula-kşaya—kehancuran keluarga; prapaśyabhir—tampak jelas.
Walaupun mereka yang jiwanya dikuasai oleh kelobaan tidak melihat adanya dosa membunuh keluarga dan tidak melihat kejahatan karma menindas. Namun mengapa kita ketahui dosa itu, untuk melenyapkannya dari perbuatan dosa, oleh kita menyadari dengan jelas yang akan membasmi keluarga sebagai suatu dosa. (Gde Pudja).
Walaupun bagi mereka yang pikirannya dikuasai oleh ketamakan, tidak melihat kesalahan dalam memusnahkan keluarga dan tidak merasa berbuat jahat dalam membasmi kawan;. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan untuk berpaling dari dosa semascam ini, wahai Janārdana (Kŗşņa); kita yang melihat kesalahan dalam memusnahkan sanak keluarga ini? (Maswinara).
Dengan hati yang dikuasai oleh keserakahan, maka tidak terlihatlah kesalahan ini yang akan mengakibatkan hancurnya keluarga kita dan penghianatan atas teman-teman dan para sahabat. Mengapa kita tidak memiliki kebijaksanaan  untuk menjauhi dosa semacam ini, wahai Kreshna – bukankah kita melihat kesalahan ini akan mengakibatkan kehancuran keluarga kita? (TL.Wasvani).
Ket : Arjuna masih menilai bahwa sesuatu kewajiban harus dilaksanakan dengan memikirkan imbalan yang duniawi sifatnya. Sedangkan dharma yang sejati tidak menuntut apa-apa. Dahrma  harus ditegakkan demi Yang Maha Kuasa, dan apapun yang diberikanNya sesudah itu, baik yang menyenangkan untuk kita atau yang membuat kita menderita karenanya, haruslah diterima sebagai pemberianNya. Dan itu harus ihlas, tanpa pamrih. Semua dharma kita adalah kewajiban dan persembahan kita kepadaNya, bahkan harus penuh dengan tanggung-jawab yang tulus kepadaNya bukan kepada kehendak unsur-unsur duniawi yang banyak terdapat disekitar kita, yang kalau dihitung seakan-akan tiada habisnya.

1.39
kula-kşaye  praņaśyanti     kula-dharmāh  sanātanāh
dharme  naşţe  kulam  kŗtsnam     adharmo ‘bhibhavaty  uta
kula-kşaye—dalam membinasakan keluarga;  praņaśyanti—dihancurkan; kula-dharmāh—tradisi-tradisi;  sanātanāh—kekal;  dharme—dharma;  naşţe—dibinasakan;  kulam—keluarga;  kŗtsnam—seluruh; adharmah—hal-hal yang bertentangan dengan dharma; abhibhavati—berubah; uta—dikatakan.
Dengan hancurnya sebuah dinasti, seluruh tradisi keluarga yang kekal di hancurkan, dan dengan demikian sisa keluarga akan terlibat dalam kebinasaan yang bertentangan dengan dharma. (Prabhupāda).
kulakşaya—dengan hancurnya keluarga; praņaśyanti—lenyap; kula-dharmāh—kebiasaan (adat) keluarga;  sanātanāh—abadi, kekal;  dharme naşţe—dengan lenyapnya adat kebiasaan; kŗtsnam-adharmah—semua adharma; abhibhavatyuta—terjadi, timbul.
Dengan hancurnya semua keluarga, adat istiadat keluarga yang turun temurun akan hancur dan lenyapnya tradisi, keluarga akan dikuasai oleh ketiada kepastian hukum. (Gde Pudja).
Dalam hancurnya keluarga, hukum-hukum tradisinya juga musnah; dan apabila hukum-hukum itu lenyap, maka keseluruhan keluarga juga akan berakibat menjadi tanpa dasar hukum. (Maswinara).
Dengan hancurnya sebuah keluarga, hancurlah juga semua tradisi-tradisi lama kita (kuladharma) dan dengan hancurnya tradisi-tradisi, larangan dan peraturan-peraturan nenek-moyang kita, maka kekacauan menguasai keluarga kita semuanya. (TL.Wasvani).

1.40
adharmābhibhavāt  kŗşņa     praduşyanti  kula-striyah
strīşu  duşţāsu  vārşņeya     jāyate  varņa-sańkarah 
adharma—hal-hal yang bertentangan dengan dharma; abhibhavāt—setelah menonjol; kŗşņa— Kŗşņa;  praduşyanti—dicemari;  kula-striyah—para wanita dalam keluarga; strīşu—oleh kaum wanita;  duşţāsu—dengan dicemari seperti itu;  vārşņeya—O putra keluarga Vŗşņi; jāyate—terwujud; varņa-sańkarah—keturunan yang tidak diinginkan.
O Kŗşņa, apabila hal-hal yang bertentangan dengan dharma merajalela dalam keluarga, kaum wanita dalam keluarga ternoda, dan dengan merosotnya kaum wanita, lahirlah ketuturnan yang tidak diinginkan, wahai putra keluarga Vŗşņi. (Prabhupāda).
adharmabhibhavāt—oleh karena ketidak adaan hukum menjadi karup; menjadi tidak suci kula-striyah—wanita yang telah berkeluarga; strīşu duşţāsu—kalau wanita tidak suci; jāyate—menimbulkan, melahirkan; varņasańkara—kekacauan keluarga.
Bila adharma berkecamuk o Kŗşņa, wanita-wanita jadi tidak suci dan bila wanita-wanita sudah tidak suci lagi aturan tentang warna tidak menentu. (Gde Pudja).
Dan apabila tirani merajalela, wahai Wārşņeya (Kŗşņa), para kaum wanita dari keluarga akan menjadi ternoda dan bila para wanita telah ternoda, tatanan warņa āśrama menjadi kacau tidak karuan. (Maswinara).
Dan kalau kekacauan ini (adharma) berkelanjutan, maka wahai Kreshna, wanita-wanita dalam keluarga ini akan berjalan serong. Dan kalau para wanita kita telah berlaku serong, oh Kreshna, akan terjadi percampuran dalam sistim kasta. (TL.Wasvani).
Ket : Arjuna amat khawatir bahwa kehancuran dalam keluarga besar mereka akan menghancurkan juga nilai-nilai lama tradisi mereka, dan lebih dari itu, jug akan menghancurkan sistim kasta yang mereka pegang teguh.
    Di dalam Bhagavad Gita, kita akan menemukan bahwa sistim kasta yang dianut secara diskriminasi adalah salah, suatu yang tidak senafas dengan inti ajaran Bhagavad Gita.
    Peranan wanita dalam agam Hindu sebenarnya sangat vital dan suci, nasib sesuatu bangsa maupun keluarga sering sekali ditentukan oleh peranan seorang wanita yang dalam hal ini bisa berupa seorang ibu, istri, dan sebagainya. Tidaklah mengherankan kalau Arjuna sangat gundah akan hancurnya moral para wanita dalam keluarga besar mereka. Semenjak masa silam para wanita dalam agama Hindu selalu mendapatkan posisi yang agung dan suci, penuh tugas untuk dharma. Derajat mereka sebenarnya lebih suci dari para priya dan nilai mereka lebih tinggi. Ini dapat dibukti dari kedudukan para dewa-dewi dalam legenda-legenda Hindu, juga suatu upacara suci tidak akan sah kalau tidak dihadiri seorang wanita; juga peranan gadis-gadis yang masih suci amatlah vital dalam upacara untuk para leluhur  dan tentunya masih sekian banyak contoh-contoh lainnya yang dapat kita baca sendiri di epik Mahabarata dan Ramayana di mana peranan wanita amat menonjol penuh kebajikan.

1.41
sańkaro  narakāyaiva  kula-ghnānām  kulasya  ca
patani  pitaro  hy  esām  lupta-pindodaka-kriyāh
sańkarah—anak-anak yang tidak diinginkan seperti itu; narakāya—menyebabkan kehidupan seperti neraka; eva—pasti;   kula-ghnānām—bagi mereka yang membunuh keluarga;  kulasya—untuk keluarga;  ca—juga;  patani—jatuh;  pitaro—leluhur;  hi—pasti;  esām—dari mereka;  lupta—dihentikan;  pinda—dari persembahan makan;  udaka—air;  kriyāh—pelaksanaan.
Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak diinginkan tentu saja menyebabkan keadaan seperti di neraka baik bagi keluarga maupun mereka yang membinasakan tradisi keluarga. Leluhur keluarga-keluarga yang sudah merosot seperti itu jatuh, sebab upacara-upacara untuk mempersembahkan makanan dan air kepada leluhur terhenti sama sekali.  (Prabhupāda).
sańkaro—kebingan; narakāyaiva—laksana untuk neraka; kulaghnānām—yang membunuh keluarga; patani—jatuh, patita;  pitaro—arwah para leluhur;  hyesām—yang ini;  lupta— (karena) kekurangan;  pinda—nasi tarpana;  odaka—air pada persembahan tarpana;  kriyāh—persembahan, yajna (tarpana).
Keruntuhan moral ini membawa keluarga dan para pembunuhnya ke neraka, arwah nenek moyang jatuh (ke neraka), semua tarpana, air dan nasi tidak ada lagi baginya. (Gde Pudja).
Kekacauan moral ini akan membawa keluarga itu sendiri ke dalam neraka, emikian pula  para pembunuhnya. Karenanya roh-roh para leluhur akan jatuh karena ketiadaan persembahan nasi dan air bagi mereka. (Maswinara).
Dan kehancuran ini akan menjerumuskan, baik keluarga kita maupun yang menghancurkan nilai-nilai tradisi, ke neraka. Dan arwah para leluhur pun akan terabaikan karena tak akan mendapatkan air dan sesajen (yang berbentuk bulatan terbuat dari beras). (TL.Wasvani).
Ket : Arjuna amat khawatir kalau peperangan ini akhirnya malah merusak nilai-nilai tradisi lama dan agama mereka, sehingga arwah para leluhur pun ikut makan getahnya dengan tidak mendapatkan sesajen lagi. Biasanya para wanitalah yang mengatur sesajen ini pada upacara-upacara keagamaan tertentu. Kalau wanita-wanita dalam keluarga mereka sudah tidak setia lagi kepada leluhur mereka tentu akan timbul kekacauan dalam tradisi ini, pikir Arjuna. Upacara sesajen untuk para leluhur disebut shraddha.

1.42
doşair  etaih  kula-ghnānām     varņa-sańkara-kārakaih
utsādyante  jāti-dharmāh      kula-dharmāś  ca  śāśvatāh
doşaih—oleh kesalahan-kesalahan seperti itu;  etaih—semua ini;  kula-ghnānām—oleh para pembinasa keluarga;  varņa-sańkara—anak-anak yang tidak diinginkan; kārakaih—yang menyebabkan;  utsādyante—dibinasakan; jāti-dharmāh—proyek-proyek dalam masyarakat;      kula-dharmāh—tradisi keluarga;  ca  śāśvatāh—kekal.
Akibat perbuatan jahat para penghancur tradisi keluarga yang menyebabkan lahirnya anak-anak yang tidak diinginkan, segala jenis proyek masyarakat dan kegiatan demi kesejahteraan keluarga binasa. (Prabhupāda).
doşaih—oleh karena dosa-dosa;  etaih—semua ini; kulaghnānām—hancurnya keluarga;  varņa-samkara—aturan tentang warna, kebiasaan dalam golongan; kārakaih—terdapat;    utsādyante—hancur; jāt-dharmāh—kebiasaan keluarga;  kula-dharmāh—hukum keluarga; śāśvatāh—selalu, selama-lamanya.
Karena dosa dan kehancuran keluarga ini membawa keruntuhan bagi hukum golongan, kebiasaan keluarga dan hukum keluarga hancur untuk selama-lamanya. (Gde Pudja).
Oleh perbuatan keliru yang dilakukan para penghancur keluarga tersebut dan mengacaukan keberadaan Warņa āśrama, hukum-hukum kasta yang sudah lama berlalu juga keluarga itupun akan hancur. (Maswinara).
Karena ulah yang menghancurkan keluarga kita ini, terciptalah kekacauan dalam sistim varna (kasta) yang ada dalam tradisi kaum kita dan hancurlah keluarga ini. (TL.Wasvani).
1.43
utsanna-kula-dharmāņām     manuşyāņām  janārdana
narake  niyatam  vāso     bhavatīty  anuśuśruma
utsanna—dirusakkan;  kula-dharmāņām—mengenai mereka yang mempunyai tradisi keluarga;     manuşyāņām—mengenai manusia seperti itu;   janārdana—O Kŗşņa;  narake—di neraka;  niyatam—selalu;  vāsah—tempat tinggal;  bhavati—menjadi seperti itu; iti—demikian;  anuśuśruma—saya sudah mendengar menurut garis perguruan.
O Kŗşņa, Pemelihara rakyat, saya sudah mendengar menurut garis perguruan bahwa orang yang membinasakan tradisi-tradisi keluarga selalu tinggal di neraka. (Prabhupāda).
utsanna kuladharmāņām—hancurnya hukum keluarga; manuşyāņām—dari pada manusia; narake—di neraka;  niyatam—dengan abadi; vāso—tempat tinggal;  bhavatīanuśuśruma—demikian yang telah kami dengar.
Kami sudah dengar ini oh Janārdana,Pmanusia yang kebudayaan dan hukumnya musnah Neraka tempatnya yang abadi. (Gde Pudja).
Dan kita semua telah mendengar ini, wahai Janārdana (Kŗşņa), bahwa orang –orang dari keluarga-keluarga yang hukum-hukum tradisinya termusnahkan, pasti akan dicampakkan di neraka. (Maswinara).
Dan kami dengar, wahai Kreshna, bahwa barangsiapa kehilangan nilai-nilai tradisi keluarga, mereka akan tinggal di neraka. (TL.Wasvani).

1.44
aho  bata  mahat  pāpam     kartum   vyavasitā   vayam
yad  rājya-sukha-lobhena     hantum  sva-janam  udyatāh
aho—aduh;  bata—alangkah anehnya;  mahat—besar;  pāpam—dosa-dosa; kartum—untuk melakukan;  vyavasitāh—sudah mengambil keputusan;  vayam—kita;  yat—karena;  rājya-sukha-lobhena—didorong oleh kelobaan untuk kesenangan kerajaan;  hantum—membunuh;  sva-janam—sanak keluarga;  udyatāh—berusaha.
Aduh, alangkah anehnya bahwa kita sedang besiap-siap untuk melakukan kegiatan yang sangat berdosa. Didorong oleh keinginan untuk menikmati kesenangan kerajaan, kita sudah bertekat membunuh sanak keluarga sendiri. (Prabhupāda).
aho—ah, (Aho bata);  mahat pāpam—sangat besar dosa itu; kartum—untuk dilakukan;  vyavasitā—telah tetapkan;  vayam—oleh kita;  yad—kalau;  rājyasukhalobhena—Karena loba dan menuruti nafsu untuk kerajaan;  hantum—membunuh;  svajanam—rakyat sendiri;  udyatāh—bersiap-siap. Ah, betapa besar dosa kita, merencanakan pembunuhan sanak keluarga hanya karena menuruti kesenagan dan loba menginginkan kerajaan dan kenikmatan. (Gde Pudja).
Aduh, betapa besar dosa yang kita tanggung dalam usaha kita membunuh orang-orang (keluarga) kita sendiri, akibat dari perasaan tamak akan kenikmatan memiliki kerajaan. (Maswinara).
Aduh, betapa besarnya dosa yang harus kita pikul dengan membunuh sanak-keluarga hanya demi kemewahan sebuah kerajaan. (TL.Wasvani).

1.45
yadi  mām  apratīkām     aśastram  śastra-pāņayah
dhārtarāşţrā  raņe  hanyus     tan  me  kşemataram  bhavet
yadi—kalau pun;  mām—kepada hamba;  apratīkām—tanpa melawan;  aśastram—tanpa bersenjata lengkap;  śastra-pāņayah—orang yang membawa senjata di tangan;  dhārtarāşţrā—para putra;  raņe—di medan perang;  hanyu—dapat membunuh;  tat—itu; me—bagi saya;  kşemataram—lebih baik;  bhavet—akan menjadi.
Lebih baik bagi saya kalau para putra Dhŗtarāşţra yang membawa senjata di tangan membunuh saya yang tidak membawa senjata dan tidak melawan di medan perang. (Prabhupāda).
yadi—kalau; mām—saya; apratīkām—tanpa perlawanan; aśastram—tanpa senjata; śastrapāņayah—dengan senjata di tangan;  dhārtarāşţrāh—para putra; raņe—dalam peperangan;  hanyus tanme—mereka harus membunuh saya;  kşemataram—akan lebih baik;  bhavet—akan jadinya.
Bagi saya akan lebih baik apabila Kaurawa dengan senjata di tangan menyerang saya dalam pertempuran tanpa senjata, tanpa perlawanan. (Gde Pudja).
Jauh lbih baik bagiku, apabila putra-putra Dhŗtarāşţra dengan senjata di tangan membunuhku  dalam pertempuran, mentara aku tetap tak melawan dan tanpa senjata. (Maswinara).
Lebih baik aku dibantai putra-putra Dhritarashtra dengan senjata mereka, dan tak akan kulawan mereka. (TL.Wasvani).
1.46
sañjaya  uvāca
evam  uktvārjunah  sańkhye     rathopastha  upāviśat
visŗjya  sa-śaram  cāpam  śoka-samvigna-mānasah
evam—demikian;  uktvā—berkata;  arjunah—Arjuna;  sańkhye—di medan perang; ratha—kereta;  upasthe—di tempat duduk;  upāviśat—duduk sekali lagi;  visŗjya—meletakkan di sampingnya;   sa-śaram—berserta anak-anak panah;  cāpam—busur;  śoka—oleh penyesalan;  samvigna—berduka cita;  mānasah—dalam pikiran.
Sañjaya berkata: setelah berkata demikian di medan perang, Arjuna meletakan busur dan anak panahnya, lalu duduk dalam kereta. Pikiran Arjuna tergugah oleh rasa sedih.
(Prabhupāda).
evam uktvā—setelah berkata demikian; arjunah—Arjuna;  samkye—dalam peperangan, di medan perang; rathopastha—di atas tempat duduk kereta (nya);  upāviśat—duduk;  visŗjya—menjatuhkan saśaram—anak panah (nya);  cāpam—busur panah;  śokaasam—dengan sedih; vigna mānasah—dengan pikiran yang menyedihkan.
Sañjaya berkata: setelah berkata demikian di medan perang, Arjuna duduk di atas keretanya menjatuhkan busur dan anak panahnya, dengan perasaan penuh diliputi duka. (Gde Pudja).
Sañjaya berkata: setelah berkata demikian di medan pertempuran, Arjuna duduk terhenyak di  keretanya, membuang busur dan anak-anak panahnya, dengan semangat yang diliputi oleh kedukaan.
Berkatalah sanjaya: Setelah mengatakan hal-hal tersebut (di medan perang) Arjuna terjatuh ke sandaran kursi (kereta perangnya), dan menghempaskan panah serta busurnya; seluruh jiwanya tercekam dengan rasa gundah-gulana. (TL.Wasvani).
Ket : Arjuna sebenarnya adalah seorang kshatrya yang bersih, tetapi pada saat ini hatinya diselimuti awan tebal. Ia sebenarnya, seakan-akan berbicara tentang vairagya (penyerahan diri secara total), tetapi hal ini dilakukannya karena keterikatannya kepada kepada sanak-keluarga dan harta duniawi, bukan vairagya kepada Yang Maha Esa. Banyak yang bertanya apa perbedaan antara cinta(moha) dan cinta-sejati? Yang pertama adalah kulit luarnya yang selalu terikat pada sesuatu benda atau seseoarang secara duniawi, sedangkan cinta-sejati adalah suatu ekspresi dari suatu kesadaran yang dianugrahkan oleh Yang Maha Esa kepada kita semuanya yang sebenarnya penuh dengan rasio, pertimbangan, dan perhitungan yang penuh tanggung jawab baik kepada masyarakat maupun Yang Maha Pencipta. Cinta-sejati tidak terikat pada batas-batas pribadi seseorang. Arjuna tidak dapat berperang karena ia masih terikat dalam batas-batas “miliknya,” ia masih mencintai semua sanak-keluarganya dalam batas duniawi. Arjuna lupa akan akhir hidup kita semua, tidak ada apapun yang akan kita bawa kembali ke alam sana, karenanya Arjuna masih harus belajar tentang nishkama-karma (sesuatu tindakan atau pekerjaan tanpa mengharapkan pamrih).
    Sang Kreshna maklum Arjuna sedang mengalami depresi mental yang sangat berat, Beliaupun memulai ajaran-ajaranNya demi membangun lagi jiwa-raga Arjuna agar terjun lagi penuh semangat dan vitalitas untuk menghadapi hidup ini yang penuh dengan segala cobaan tetapi juga tugas-tugas dari Yang Maha Pencipta untuk kita semua.
    Inti dari ajaran Bhagavat Gita adalah, pembinaan mental dari kita sendiri secara batin. Gita mengingatkan dan sekaligus mengajarkan bahwa kelemahan adalah dosa; sesuatu kekuatan diri haruslah dibina dengan disiplin yang kuat dan tanpa pamrih. Kekuatan ini harus bersih dari segala unsur-unsur duniawi dan penuh dengan gairah hidup demi dharma kita kepadaNya. Pesan Sang Kreshna dalam bhagavat Gita adalah, “berdirilah dan berperanglah melawan kebatilan.” Hidup adalah perjuangan demi nilai-nilai kebenaran; hidup juga adalah sebuah kuil atau pura dari pemujaan kita kepadaNya tanpa pamrih. Maju terus pantang mundur demi dharma-bhaktimu kepadaNya, bukan kepada hasrat-hasrat pribadimu dalam bentuk apapu juga.


iti  śrīmad bhagavadgītāsūpanişatsu  brahmavidyāyām yoga  śāstre
 śrīkŗşņārjunasamvāde arjunavişādayogo nāma prathamo ‘dhyāyah.
Dalam Upanişad dari Bhagavadgītā, ilmu pengetahuan Yang Mutlak, śāstra Yoga dan percakapan antara Śrī Kŗşņa dan Arjuna, ini merupakan bab pertama yang berjudul ‘keragu-raguan Arjuna’. (Maswinara).
    Dalam upanishad Bhagavat Gita, bab yang pertama ini disebut sebagai Ilmu-Pengetahuan tentang Ilahi, sebuah Karya Sastra yang berbentuk dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna yang disebut juga: Arjuna Vishada Yoga (Yoga Sang Arjuna dalam Kedukaannya). (TL.Wasvani).
Ket : Bab pertama disebut “Vishada Yoga.” Vishada berarti depresi (karena duka), yoga di sini berarti bagian atau bab (bagian bahasan). Vishada yoga adalah permulaan dari Bhagavat Gita. Sebenarnya kalau ditelaah secara mendalam, maka rasa depresi atau vishada ini adalah anak tangga pertama menuju ke kehidupan spiritual atau kebatinan. Setiap manusia harus mengalaminya setelah tersandung dalam berbagai aspek kehidupannya yang gagal, dan masuklah ia kemudian ke dalam suatu kegelapan seakan-akan tanpa jalan keluar, kemudian barulah ia meniti secara perlahan dari gelap menuju terang. Dari setiap depresi ini kalau sudah tidak terlihat jalan keluarmaka kita akan berteriak dalam kedukaan yang amat dalam: “Apakah arti kehidupan ini? Apakah arti semuanya ini? mengapa kita harus dilahirkan? Kemana kita akan pergi sesuadh mati nanti? ‘Oh Tuahnku mengapa Kau lupakan daku?’ Mengapa Kau tinggalkan daku sendiri dalam duka ini?” dan “Oh Tuhan Dikau tak adil padaku!” dan lain sebagainya sebagai tanda-tanda frustrasi dalam diri kita.
    Setiap manusia kemudian harus masuk ke dalam suatu keheningan sebelum ia kemudian melangkah masuk dalam suatu ilmu pengetahuan tentang dirinya sendiri. Dalam keheningan ini setelah membunuh atau menguasai semua bentuk rasa egonya baik yang berbentuk positif (baik) maupun negatif (buruk), ia akan menemukan bahwa ia tidak sendiri dan semua ini ada yang mengatur. Ia akan menemukanNya, yang selalu mengayominya, menuntunnya dan kasih-sayang kepadanya. Ia (Yang Maha Esa) selalu hadir dalam setiap agama dengan bentuk dan versi yang berlainan sesuai dengan kepercayaan  masing-masing individu; dalam Hindu Dharma Ialah Sang Kreshna (Ilahi dalam bentuk manusia), Sang Penuntun jalan kehidupan kita. Camkanlah bahwa untuk mendapatkan penerangan, seseorang melalui jalan takdir biasanya harus mengalami kegelapan dulu. Begitu juga Arjuna dan begitu juga kita manusia, sampai suatu saat nanti, kita pun, seperti Sang Arjuna akan mengucapkan:
Engkaulah yang Terutama,
Engkaulah Tujuan yang Tertinggi,
Dari ujung ke ujung Kau penuhi alam semesta ini,
Oh Dikau Bentuk yang Tanpa Batas (Anantarupam).                                    [XI.38]