Jumat, 18 Oktober 2013

Surunadi dan Pariwisata Lombok


POTENSI KAWASAN WISATA SURANADI
A. Potensi Sumber Air Suci
Dari sisi kosakatanya, Suranadi berasal dari kata sura yang berarti dewa, dan nadi memiliki arti sungai. Konon, Suranadi juga mengandung arti kahyangan dalam kamus bahasa Jawa Kuno. Berdasarkan legenda Suranadi tumbuh menjadi satu kawasan bermukim sejak kedatangan seorang Bangsa India penyebar agama Hindu: Dang Hyang Nilarta abad ke XIII/XIV untuk mengunjungi Pulau Jawa, Bali dan Lombok dengan berjalan kaki sambil membawa tongkat sakti. Sesampainya di Lombok beliau diiringi rombongannya yang setia.  Sampai di Lingsar beliau dan rombongan istirahat, setelah merasa segar perjalanan diteruskan masuk Suranadi. Saat itu Suranadi masih berupa hutan lebat dipenuhi satwa liar. Melihat kondisi hutan yang masih asri dan sejuk, rombongan istirahat. Dalam istirahat tersebut Beliau menancapkan tongkatnya ke tanah di dalam lima tempat yang berlainan. Ketika togkat dicabut seketika itu pula air menyembur sehingga tempat tersebut menjadi mata air dan sampai kini menjadi tempat masyarakat mengambil air keperluan upacara keagamaan Hindu. Kelima macam mata air itu dinamakan (1) Mata air toya tabah yang biasanya digunakan untuk pemuput upacara pitra yadnya yang di Bali dikenal sebagai toya penembak, (2) Mata air toya pabersihan sebagai tirta untuk upacara pembersihan sawa (jenazah) sebelum diberikan tirta pangentas, (3) Mata air Toya panglukatan, tirta prayascita untuk pembersihan diri, dipergunakan dalam upacara dewa yadnya, manusa yadnya, dan bhuta yadnya, (4) Mata air tirta, dipergunakan saat puncak upacara, sebagai prasadam dan diberikan kepada peserta upacara sebagai tirta wasuh paddya, (5) Mata air pangentas, diberikan kepada sawa sebelum dikubur atau dibakar. Dekat area tirta pangentas ini terdapat pula sebuah tempat pembuangan air tirta pangentas yang disebut tirta permandian kerbau, yang dipergunakan untuk memerciki/membersihkan hewan yang akan disembelih sebagai sesaji upacara.
Bagi umat Hindu, air sangat disakralkan untuk kegiatan beribadat. Umumnya, diawali dari pembersihan fisik ragawi dengan kegiatan mandi jasmani, sebagai pembersihan bagian yang kasat mata. Dilanjutkan kemudian dengan tahapan awal pembersihan rohani, dimulai dari percikan tirta di jaba tengah pura (depan gerbang) sebelum mulai persembahyangan di jeroan pura. Usai persembahyangan, umat menerima percikan air tirta dari sulinggih atau pendeta, dan meraupnya melalui susunan kedua telapak tangan serta membasuh wajah masing-masing.
Air perlambang kesucian, karena dalam kehidupan sehari-hari air merupakan sebagai sarana pembersih dan pembasuh nan utama. Air kerap menjadi kiasan bagi karakter manusia, seperti sifat tenang, jernih, damai, dan sebagainya. Mata air yang muncul dari perut bumi, sebagai simbol spirit hidup, kebeningan, kesejukan dan kemurnian yang bermakna membebaskan diri dari pencemaran dan “kedekilan”. Sumber mata air menjadi simbol “pelebur” yang luhur pembasmi keletehan, untuk meluhurkan sifat-sifat manusia menjadi lebih manusiawi, menuju pencerahan hati nurani. ari kepercayaan umat Hindu, air dijaga Dewa Wisnu, pemberi kesuburan pelbagai sumber hayati, makhluk hidup maupun tetumbuhan di alam semesta.
Untuk menghormati jasa-jasa Beliau, di Lombok umumnya dan di Lombok Barat khususnya, setiap tahun diadakan upacara agama Hindu Dharma pada waktu bulan purnama sasih kapat (Oktober/Nopember).
B. Potensi Sejarah Religi : Pura
Pura Suranadi merupakan salah satu dari banyak pura yang ada di Lombok Barat. Sebagai sarana aktivitas ritual keagamaan, ia tidak saja dikelilingi oleh alam yang masih lestari — seperti adanya Taman Wisata Alam serta fasilitas penginapannya. Namun, juga memiliki pura-pura yang berpola menyebar, sesuai dengan keberadaan sumber mata air yang terdapat di kawasan setempat. Lokasi pura, terkait dengan keberadaan sumber tersebut. Kendati secara fisik terkesan terpisah (terpencar), tetapi dari segi rangkaian kegiatan ritual merupakan satu kesatuan.
Areal Pura Suranadi yang luas dan asri memiliki 5 (lima) buah mata air yang dikenal dengan nama Panca Tirtha atau Pancaksara. Air tersebut dianggap sakral dan diyakini sebagai syarat kelengkapan di dalam menjalankan upacara keagamaan — untuk keperluan upacara yang dilakukan sehari-hari maupun untuk upacara-upacara lain yang bersifat khusus.
Konon keberadaan Pura Suranadi terkait dengan perjalanan Danghyang Dwijendra, dikenal pula dengan nama Pedanda Sakti Wawu Rauh — menuju Sasak (Lombok) untuk kedua kalinya. Di Lombok, beliau dijuluki juga sebagai Pangeran Sangupati. Guna menjaga agar umat Hindu yang ditinggalkan bisa melakukan tertib upacara menurut ajaran agama yang telah ditentukan, lantas beliau dengan “puja mantera”-nya memunculkan pancatirtha (lima macam tirta) di Suranadi.
Selain itu, ada pula versi lain yang menyebutkan, Pura Suranadi dibangun atas gagasan raja Pagesangan bernama AA Nyoman Karang pada 1720 Masehi. Seorang pendeta dari Bali - cucu Danghyang Dwijendra- bernama Pedanda Sakti Abah, dipanggil oleh raja Pagesangan guna melaksanakan panca yadnya, yakni lima macam pengorbanan suci menurut ajaran agama Hindu. Guna kelangsungan kegiatan ritual secara berkelanjutan itulah, dipilih Suranadi sebagai tempatnya.
Di Suranadi terdapat tiga buah kelompok pura. Masing-masing diberi nama sesuai dengan fungsi sumber air yang ada di dalamnya. Pun tiap-tiap pura itu memiliki zona (area) jaba sisi, jaba tengah, jeroan (tri mandala).
Ketiga Pura itu adalah :
1. Pura Ulon/Gaduh, terletak di ujung timur laut, berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Taman Wisata Alam. Di halaman pura ini terdapat mata air petirtan dan panglukatan. Beberapa palinggih dan perlengkapan upacara yang ada di dalamnya adalah (a) padmasana, (b) linggih Batara Gde Lingsar, (c) linggih Batara Bagus Gunung Rinjani, (d) linggih Batara Surya Ngelurah, (e) gedong penyimpenan, (f) padma petirtan, (g) bale pelik/pengaruman, (h) padma penglukatan, (i) bale pamangku, (j) linggih Majapahit, (k) palinggih tirta, (l) kemaliq, (m) bale banten, (n) bale pawedan, (o) bale pererenan/pakemitan, (p) bale gong, dan (q) bale kulkul. Kedua terakhir ini (p dan q) terletak di seberang jalan.
2. Pura Pangentas, terletak beberapa puluh meter dari Pura Ulon, ke arah barat daya. Memasuki pura ini, mesti melalui jalan setapak. Memiliki dua palinggih, pura ini secara fisik memiliki luasan yang terkecil dan paling sederhana di antara ketiga pura yang ada di Suranadi. Memiliki mata air pangentas, mata air tabah/penembak dan tirta mapepada. Pura ini berfungsi sebagai tempat mengambil air untuk upacara pitra yadnya semata, yakni toya tabah dan pangentas. Maka bisa dipahami bahwa di dalamnya tidak banyak dibangun sarana penunjang sebagaimana yang ada pada pura lainnya.
3. Pura Pabersihan, berkedudukan sekitar 300 meter dari Pura Ulon. Di pura ini terdapat hanya satu mata air yakni pabersihan, dengan beberapa macam palinggih dan bangunan pelengkap upacara seperti (a) padmasari, (b) ngelurah, (c) tapasanu, (d) linggih Ida Betara Gde Lingsar, (e) genah Mangku ngastawa, (f) bale banten, (g) bale pawedan, (h) bale pakemitan, dan (i) gedong penyimpenan. Mata air dari pura pabersihan bermuara pada sebuah permandian umum (menempel dengan tembok panyengker pura), di sebelah selatan pura pabersihan.
Perjalanan yang panjang dari satu tempat wisata ke tempat wisata lainnya tak ayal selalu menimbulkan rasa lelah. Tuntaskan rasa lelah itu dengan berkunjung ke taman Suranadi. Anda akan disuguhi suasana hijau dan menyejukkan mata. Badan kembali fresh dan siap melanjutkan perjalanan kembali.
Taman Suranadi berada di kecamatan Narmada, Lombok Barat, sekitar 13 km sebelah timur kota Mataram. Kata “Suranadi” merupakan gabungan 2 kata yakni “Sura” yang berarti dewa dan “Nadi” yang berati sungai. Jika digabung dalam satu kata bermakna sungai pemberian dewa.
Di tempat ini Anda akan menikmati pemandian, salah satu pura suci di Pulau Lombok, serta berbagai flora dan fauna yang dilindungi. Itu sebabnya, Taman Suranadi ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Mari kita jelajahi Taman Suranadi satu per satu.





Ada tiga kelompok pura di kawasan seluas 52 hektar ini. Yakni Pura Ulon/ Gadoh, Pura Pangentas dan Pura Pabersihan. Pura Ulon adalah pura yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan lindung Taman Suranadi. Di dalam pura ini terdapat 2 mata air yakni panglukatan dan Petirtan. Beberapa palinggih dan perlengkapan upacara yang ada dipura ini adalah pamadsana, linggih Batara Gde Lingsar, linggih Batara Bagus Gunung Rinjani, linggih Batara Surya Ngelurah, gedong penyimpenan, padma petirtan, bale pelik, padma panglukatan, bale pamangku, linggih Majapahit, palinggih tirta, kemaliq, bale banten, bale pawedan, bale pererenan/pakemitan, bale gong dan bale kulkul.
Di sebelah barat daya Pura Ulon, ada Pura Pangentas. Pura ini merupakan pura terkecil dan paling sederhana dibanding 3 pura lainnya di Suranadi. Sama halnya dengan Pura Ulon, di Pura Pangentas terdapat 3 sumber mata air yakni Pangentas, Panembak dan Tirta Mapepada. Pura ini digunakan sebagai tempat mengambil air saat upacara Pitra Yadnya.
Yang terakhir adalah Pura Pabersihan yang terletak di 30 meter barat daya Pura Ulon. Pura ini memiliki mata air Pabersihan. Dulu, pura Pabersihan masih berpagar bambu, namun kini sudah berpagar tembok. Beberapa palinggih dan bangunan pelengkap upacaradi pura ini adalah padmasari, ngelurah, tapasanu, linggih Ida Betara Gde Lingsar, genah Mangku Ngastawa, bale banten, bale pawedan, bale pakemitan dan gedong penyimpenan.
Usai menikmati Pura, Anda bisa menjelajahi kawasan wisata alam yang dihuni bermacam-macam jenis tumbuhan dan hewan. Aneka pepohonan seperti Beringin, Garu, Terep, Suren, Kemiri dan Purut setinggi 25-30 meter menjadi payung kawasan ini. Tidak heran jika kemudian banyak satwa berkumpul dengan rukun menjadi penghuni dan menambah keasrian. Cericit burung menjadi musik yang akan mengiringi Anda saat melepas penat di kawasan ini.
Sudah berpeluh dan ingin relaksasi ? Tak usah khawatir, Taman Suranadi menyediakan kolam pemandian dengan air yang dingin. Mujarab untuk menyegarkan badan Anda kembali. Dengan material kolam yang terdiri dari batu-batuan alam, dikelilingi gazebo untuk istirahat, pemandian ini cocok untuk keluarga atau rombongan kawan yang ingin merasakan nuansa alam dengan sempurna.
Jika sudah, maka rangkaian terakhir yang harus Anda nikmati adalah pilihan sajian kuliner yang ditawarkan para penjaja warung makan disekitar taman ini. Salah satu menu yang patut dicoba adalah Sate Bulanyak. Sate Bulayak adalah makanan khas Nusa Tenggara Barat yang terbuat dari daging sapi dengan dilumuri bumbu khas Lombok. Tidak itu saja, Anda juga bisa sekaligus membeli dodol aneka rasa untuk oleh-oleh kepada sanak saudara.

Lontar mengenai pengobatan


Lontar Usada Kurantobolong
Print
E-mail

Lontar Usada Kurantobolong

 
Pengantar dan pembukaan 
 
Halaman 1b 

Ya Tuhan, dalam wujud-Mu sebagai Siwa, semoga kami tidak menemukan rintangan. Inilah yang dinamakan Usada Kurantobolong, yakni tentang pengobatan bayi (anak-anak), berkat anugrah Bhatara Wisnu, yang demikian sangat ampuhnya, dalam menciptakan kesejahteraan dunia, yang bisa menyelamatkan bayi (anak-anak), dan dapat menyebabkan umur panjang, terhindar dari penyakit, dan kematian. Caranya adalah berwaspadalah dalam menangani pengobatan bayi (anak-anak). Inilah yang dinamakan dharma bakti bagi seorang dukun dalam mengobati bayi (anak-anak). Sarana obat untuk bayi menderita sakit nguwus terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 11 lembar, alang-alang 11 lembar, diramu dengan bawang dan adas, dipakai pupuk

 
Halaman 2a 

untuk menutupi ubun-ubun bayi. Adapun sarana untuk bedak tubuhnya terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 7 lembar, alang-alang 7 lembar, diramu dengan adas 7 biji. Sarana obat sakit nguwus, terdiri atas daun sirih tua dan daun temurose 3 lembar, diberi tulisan gaib Ang Ung Mang, lalu dipakai menutup ubun-ubun pasien dan dipakai bedak. Sarana obat untuk bayi menderita nguwus, terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah 3 lembar, kencur jantan 3 iris, alang-alang 3 lembar, ditumbuk hingga hancur, dipakai obat tetes. Sarana obat untuk bayi menderita sakit bolong, terdiri atas kulit tribulus, kepiting batu jantan, jamur kuning, daun kangkang yuyu 7 lembar, semua sarana itu dibakar, abunya diambil, ditorehkan berbentuk tanda tambah pada bagian tubuh yang bocor. Sarana obat

 
Halaman 2b 

pengunci untuk anak-anak menderita sakit nguwus, terdiri atas tunas pohon nagasari, sulatri, dan camplung masing-masing 7 lembar; sularih merik dan alang-alang masing-masing 9 lembar, diramu dengan klabet 9 biji, dipakai menutup ubun-ubun pasien. Adapun sarana obat untuk pupuk dan bedak dahi terdiri atas tunas nagasari, sulatri, kecapi, dan emben canging diramu dengan klabet 11 biji. Sarana untuk bedak tubuh terdiri atas serpihan kulit pohon dedap yang masih muda dan gamongan kedis. Sarana obat bedak kaki terdiri atas buah sirih dan mesui. Sarana obat untuk bayi menderita sakit kasaban, gerah dan sawan, terdiri atas tunas uku-uku 3 batang, diramu untuk obat tetes mata pasien. Dan

 
Halaman 3a 

sarana untuk bedaknya terdiri atas daun dedap yang berwarna kuning, diramu dengan kencur jantan. Sarana obat untuk bayi terserang penyakit sarab angin, perut kembung, terdiri atas daun adas dan bawang. Sarana untuk menyembur perut pasien terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah, bawang, adas. Sarana obat untuk bayi menderita sarab angin dan sarab api, wajah bayi tampak kemerahan, terdiri atas daun labu pahit, daun sunti-sunti, daun katepeng, daun kliki bang, bawang. Sarana obat untuk bayi menderita sebaha (peradangan saluran pernafasan), batuk-batuk, terdiri atas daun gatep, gula kelapa, diperas dan disaring, lalu diminum. Sarana untuk obat sembur terdiri atas daun belimbing buluh, kelapa bakar, temulawak, diramu untuk menyembur leher, dada, hingga ke hulu hati pasien.

 
Halaman 3b 

Sarana obat untuk bayi menderita batuk kering, terdiri atas daun belimbing besi yang sudah rontok, diramu dengan bawang putih dan jangu, dipakai menyembur dada pasien. Sarana obat bayi menderita batuk berdahak, terdiri atas daun pancarsono diiris-iris, dicampur dengan kepala bakar, bawang merah, dipepes, dan setelah matang, didinginkan semalam, keesokan harinya diperas dan disaring untuk jamu. Obat untuk bayi menderita muntah-muntah adalah kencur jantan, empu kunir warangan, diramu dengan majakling, ketumbah dan garam, dipendam dalam abu panas, dan setelah matang, saripatinya diambil untuk diminum. Obat untuk bayi menderita mencret, terdiri atas

 
Halaman 4a 

kulit kerbau dibakar diramu dengan bawang tambus, air ketan gajih, lalu diminum. Dan sebagai obat gosoknya terdiri atas kulit turi putih dan adas. Obat untuk menggosok pinggang, terdiri atas kulit buni tahi, beras merah, dan adas. Obat untuk anak-anak menderita mencret, terdiri atas akar dan daun belimbing besi, bawang tambus, diramu untuk minuman. Obat untuk bayi (anak-anak) menderita batuk, terdiri atas akar ketepeng, akar tampak liman, daun dan akar sokanatar, kelapa bakar, bawang tambus, diramu untuk minuman. Dan obat batuk untuk orang dewasa, ramuan di atas ditambah dengan bangle, akar kedondong putih, diramu dengan bawang putih dan jangu. Ramuan itu dipendam dalam abu panas, lalu dimakan.

 
Halaman 4b 

Obat untuk anak-anak menderita mencret, terdiri atas kulit buah delima, beras merah diramu untuk obat gosok. Jika tubuh pasien terasa gerah, sarana obatnya adalah daun bulun bawang, dipakai menggosok, dicampur dengan bawang dan adas yang telah direbus. Obat untuk anak-anak (bayi) menderita mencret, terdiri atas kulit turi putih, asam dibakar, diramu dengan adas, lalu diminum. Obat untuk anak-anak menderita sakit pejen (disentri), terdiri atas akar, kulit pohon, dan tunas daun bintenu, sulur kresek muda, santan, gula, bawang tambus, diramu untuk minuman. Dan sebagai obat gosoknya adalah daun mentimun, tunas mentimun, tahin cicing, diramu dengan adas. Obat untuk anak-anak (bayi) menderita sakit pejen (disentri), terdiri atas daun ketepeng, adas dipakai obat gosok. Obat untuk anak-anak menderita sakit pejen (disentri),

 
Halaman 5a 

dan panas, terdiri atas akar kopok-kopokan yang putih diramu dengan bawang dan adas dipakai menggosok perut pasien. Obat untuk anak-anak tidak bisa berak dan kencing, terdiri atas serpihan kemiri dan bawang diramu untuk obat gosok. Sarana obat untuk anak-anak (bayi) menderita perut kembung, meradang, dan panas dalam, serta tidak mau makan, terdiri atas semanggi gunung segenggam, daun pepe gunting, inti kunir, isi buah kemiri, bawang. Jika tubuh pasien terasa gerah ramuan itu perlu ditambahi tunas pohon pandan, diramu untuk minuman. Obat untuk anak-anak menderita mata memar, sarananya adalah daun canging yang di tengah-tengah, bawang merah, dan adas dipakai menggosok tulang punggung, bahu, hingga ke lekuk dada. Sarana obat untuk anak-anak menderita mata bengkak, tanpa diketahui sebab-sebabnya, terdiri atas

 
Halaman 5b 

beras basah, bawang mentah, dipakai untuk menggosok. Obat untuk anak-anak menderita mata bengkak, terdiri atas air susu ibu yang melahirkan pertama kali, dipakai menetesi hidung pasien bayi itu. Obat untuk anak-anak (bayi) menderita tubuh kegerahan, gelisah resah, dan melemas, sarananya terdiri atas daun canging yang di tengah-tengah, alang-alang, kulit telor ayam, dilumatkan untuk bedak. Obat untuk anak-anak (bayi) menderita gatal-gatal di kulit, sarana obatnya terdiri atas daun nangka yang kuning, diramu dengan laos untuk dipakai bedak. Obat untuk anak-anak menderita gatal-gatal dan berbintik-bintik, sarananya adalah kulit pohon kalimoko, merica, laos

 
Halaman 6a 

dilumatkan untuk bedak. Obat untuk anak-anak yang menangis terus menerus, tubuhnya berkedut-kedut, dan kadangkala terkejut-kejut, penyakit akibat gangguan roh jahat Men Bajang, sarananya adalah kulit pohon kalimoko, kapur, diberi mantra "Ong kaki dangu, nini dangu, lare ngiwan lanang wadon, kinasihan, yan hana i kira-kira hala ri anak ingsun, lanang wadon kinasihan, kaki mwak bun, ki bandeng blang nguyang, tututwin aku saparan-paranku, yan hana memen bajang hala paksane, akira-kira ingsun, lanang wadon kinasihan, tka tulah, tulah, tulah, sidi mandi mantranku". Setelah ramuan itu diberi mantra, lalu ditaburkan di bawah tempat tidur bayi sebanyak 3 kali. Obat untuk bayi (anak-anak) yang diganggu oleh roh jahat Men Bajang, sarananya adalah daun

 
Halaman 6b 

ambulu 1 lembar, dipakai menyembur ubun-ubun pasien bayi sebanyak tiga kali. Lalu ditempelkan bersama-sama dengan selembar daun canging yang di tengah-tengah, yang telah diberi tulisan suci A, lalu disembur dengan bawang putih dan jangu sebanyak tiga kali. Obat untuk bayi (anak-anak) yang menangis tidak henti-hentinya, tidak bisa tidur karena diganggu oleh roh jahat Men Bajang, sarananya adalah daun bulu bawang, beras basah, bawang putih, dan jangu, dilumatkan untuk menggosok tubuh bayi. Inilah ajian untuk penjaga jiwa bayi, yang selalu melindungi dan menjaga jiwanya, sarananya adalah lontar diberi gambar Bhatara Hyang Guru, Bhatara Wisnu. Setelah selesai dilukis, lontar itu diberi mantra: "Bapa-bapa Hyang

 
Halaman 7a 

Kamulan, Hyang Bhatara Wisnu, sampun ko latri, raren titiang nyaluk dalan aturu, sampura raren titiang, apang melah duk ira hana, empu raren titiang apang melah, haywa waweka, empu raren titiange apang melah, poma, poma, poma". Lontar ini digantung di bagian atas tempat bayi tidur. Atau juga boleh dibungkus dalam ikat pinggang. Hasilnya adalah semua penyakit berbahaya, wisya, sasab, merana, grubug, tatumpur pada musnah semuanya. Demikian pula kekuatan ilmu sihir seperti guna-guna leak, tuju, teluh, taranjana, desti, dusta, pepasangan, rerajahan, umik-umikan, papendeman, acep-acepan, dan semua guna-guna manusia jahat akan musnah,

 
Halaman 7b 

dibuat tidak mempan. Mantra ini harus dirahasiakan sebab sangat rahasia. Inilah ajian untuk keselamatan bayi yang sering menangis siang-malam, sarananya adalah lontar ditulisi mantra "Hurjro upet-upet, syah Ah, Ah, Ah". Bayi disembur dengan bawang putih dan jangu. Bayi itu diberi gelang dari benang tridatu (benang berwarna merah, hitam, putih). Sesajen caru untuk bayi yang sering menangis siang-malam, terdiri atas sasayut, segeh beras 1 ceeng, memakai daging ayam yang sudah bisa bercelotek. Dada ayam itu dibelah dan dipanggang sebagian, diberi bumbu bawang jahe, serta dilengkapi dengan ikan teri (gerang asem) sebagian, dan lengkap dengan buah-buahan, galahan, sampian nagasari, peras panyeneng, biakawon,

 
Halaman 8a 

tatebus serta lengkap dengan uang sasari. Tempat untuk melakukan upacara caru adalah di halaman rumah, pada saat matahari sedang berada di titik puncak. Adapun doanya adalah: "Kaki Kala Dengen, kaki Kala Pitungtung, iki tadah sajinira, segeh adulang, iwaknya ayam pinanggang, mwang gerang asem, mwah sarananya genep, sasari genep, maduluran pras panyeneng, mwang byakawonan, iki buktinen sajinira, wus sira anadah sari, mantuk sira swang-swang, aja sira anggulgul lare ingsun, poma, poma, poma". Penyelamatan bayi yang banyak ulah dan sering menangis siang malam, sarananya adalah kelopak bambu petung, diisi gambaran raksasa berpelukan, raksasa telanjang, suami-istri. Sesajennya terdiri atas kue bantal 5 biji,


Halaman 8b 

buah pinang 1 tandan, sirih ambungan, digantung bersama-sama di bagian atas tempat tidur bayi. Adapun sesajen caru terdiri atas penek bang adanan, memakai daging ayam berbulu merah, dipanggang, lengkap dengan jajan dan buah-buahan, bunga merah, aled sampian andong merah, dan benang tebusan merah. Mantranya adalah : "Ong indah to Hyang Kala, ulatana tatadahanta, sajinira, haywa gageti, haywa gagila akti, pada patuh, ingkup, ingkup, ingkup". Sarana penawar untuk bayi (anak-anak) sering menangis siang-malam, terdiri atas ketupat 1 kelan, memakai daging ayam, pisang kayu, bunga baha-baha, jajan kukus berisi unti bungkus, dilengkapi dengan berbagai buah-buahan, canang 1 tanding, disajikan dalam 1 wadah, dipersembahkan di palangkiran. Biarkan sesajen itu, jangan ditarik. Maka bayi itu akan berhenti menangis.


Halaman 9a 

Sarana untuk penawar bayi menangis tidak bisa dihibur, terdiri atas kelopak bambu kuning, diisi gambaran kera bergelut, jantan-betina, digantungi buah bengkudu 2 biji, diikat dengan benang tridatu, digantung bersama-sama di bawah tempat tidur bayi. Mantranya adalah "Hana kita anaku, laba kita, aku adwe kita, druwe aku si jabang bayi, aja sira ulik siligawe, ring jabang raren ingsun, Ah Ah siyah Ih Ah". Bayi itu akan berhenti menangis. Jika bayi masih tetap menangis, maka perlu diberi tambahan caru terdiri atas ketupat sirikan 1 kelan, bantal lenged 6 biji, pisang mas 6 biji, canang buratwangi lengawangi, uang sasari 22, dilengkapi dengan jajan dodol,

 
Halaman 9b 

geti-geti, jajan satuh. Sesajen itu dipersembahkan di Kumbara, maka bayi akan berhenti menangis. Inilah sarana untuk menghentikan bayi menyusu, terdiri atas bengkudu 2 buah, telor. Satu buah bengkudu dipakai mainan untuk anak-anak. Satu lagi dilemparkan ke kotoran sapi. Pada saat melemparkan buah bengkudu itu harus lebih tinggi daripada bahu, dan jangan menoleh. Satu buah bengkudu itu diletakkan di samping tempat tidur bayi. Mantranya adalah: "Ong tka gila, gila, gila, tka ser, ser, ser, tka seneb, seneb, seneb" (ucapkan mantra itu tiga kali. Bayi tidak akan mau menyusu lagi. Sarana memperlancar kelahiran bayi, terdiri atas mentimun uku, diberi gambar buaya mencari bayi. Mantranya: "Ong lebu wong, tka muru rare ring jro weteng, Ong metu, metu, metu". Mentimun itu dimakan sampai habis oleh ibu yang hamil. Ada lagi sarana untuk melancarkan kelahiran bayi yang mati dalam kandungan,

 
Halaman 10a 

terdiri atas daun sente merah, diberi gambar gajah, lalu direndam di dalam air bersih yang dituangkan ke dalam sibuh hitam yang berisi alat gantung. Mantranya: "Ong den kadi gelisanira rare, binuru dening liman, mangkana gelisan ni rare ring jro weteng metu, lah ser, ser, ser". Air itu diminum oleh ibu yang hamil, dan sisanya disiramkan ke perutnya. Sarana untuk melancarkan kelahiran bayi yang mati di dalam kandungan, terdiri atas waribang, lenga wijen, diramu menjadi saripati lalu diberikan kepada ibu hamil itu untuk diminum. Maka bayi itu akan cepat lahir. Sarana pangeger (jimat pengundang) bayi di dalam kandungan, terdiri atas tahi subatah diramu dengan adas, dilumatkan dan digosokkan di pusar ibunya. Mantranya: "Ong rare cili, banyu kita ring jro lawangan, teka blas, blas, blas, kedep sidi mandi mantranku".

 
Halaman 10b 

Sarana pangeger (jimat untuk mengundang) bayi di dalam kandungan, terdiri atas air ditungkan ke dalam tundak. Mantranya: "Ong sasano roro, hug hug, munggwing watu, leh metu, metu, metu". Siramlah perut ibunya. Sarana pangeger bayi di dalam kandungan, terdiri atas daun sirih dan daun temurose, diisi gambar gajah, serta banyu tuli dituangkan ke dalam sibuh hitam yang diberi gambar gajah. Mantranya: "Ong sang bhuta liman, pamburu rare ring jro weteng, lah den age metu". Berikanlah air itu kepada ibunya untuk diminum. Sedangkan daun sirih itu disemburkan di perut ibunya. Jimat pangeger supaya bayi cepat lahir, terdiri atas sirih dan bulun butuh 6 lembar.

GAMBELAN


Gamelan Dalam Ritual Hindu




Penggunaan gamelan dalam kegiatan ritual Hindu pada dasarnya memiliki arti yang sagat penting. Gamelan bukan saja sebagai penghibur tetapi memiliki makna yang sangat dalam. Gamelan yang merupakan lambang dari Bathara Iswara mampu menghadirkan vibrasi dalam sebuah upacara. Dalan upacara tertentu, Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, maupun Manusa Yadnya, Rsi Yadnya maupun Bhuta Yadnya, gamelan bukan saja untuk menciptakan kemeriahan semata, tetapi merupakan satu kesatuan dalam upacara tersebut.

---------------------------

MENURUT lontar Aji Gurnita gamelan memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan kegiatan ritual. Hal ini sudah terjadi sejak zaman kerajaan. Misalnya saja selonding, merupakan jenis gamelan yang dipakai pada pasraman-pasraman untuk mengiringi kegiatan upacara para pendeta.

Namun menurut Ketua Jurusan Karawitan STSI Denpasar I Wayan Sueca, SS. Kar., M.Mus, perkembangan gamelan mengalami perubahan dan perkembangan seusia dengan peradaban manusia. Pada zaman kerajaan pun perkembangan gamelan terjadi walaupun tidak sebanyak sekarang. Jenis gamelan Gambang diperkirakan mendapat pengaruh dari Jawa. Gambang ini lebih banyak digunakan pada saat upacara Pitra Yadnya.

Kemudian kalau melihat pada zaman pertengahan, yaitu pada zaman Waturenggong, terjadi perubahan yang lebih besar lagi. Satu jenis gamelan telah mempunyai fungsi ganda. Artinya, satu jenis gamelan bisa digunakan pada beberapa kegiatan ritual. Semarpegulingan misalnya, sudah bisa digunakan pada beberapa kegiatan ritual, tetapi bukan pada saat Dewa Yadnya. Jenis gamelan ini lebih banyak digunakan untuk upacara Manusa Yadnya, dan sering juga dipakai dalam kegiatan penyambutan tamu agung pada zaman Waturenggong.

Sedangkan yang terkait dengan Dewa Yadnya, lebih banyak menggunakan jenis gamelan Gong Gede. Dilihat dari sejarahnya, kelahiran Gong Gede lebih banyak dipakai di lingkungan puri, kemudian berkembang pada masyarakat sampai sekarang. Bahkan sekarang Gong Gede selain sebagai sarana dalam upacara keagamaan juga bisa dipakai untuk mengiringi kesenian terutama tari-tarian. Pada zaman itu juga tumbuh jenis gamelan gambuh yang mengkhusus untuk mengiringi tari Gambuh.

Sedangkan Drs. Nyoman Astita, M.A., dosen seni karawitan yang juga Wakil Ketua Listibya Bali itu mengatakan, memang dalam lontar Catur Muni-muni disebutkan mengenai pengelompokan jenis-jenis gamelan terkait dengan fungsinya sebagai iringan upacara Hindu, termasuk penempatan instrumen gamelen itu dalam Tri Mandala areal pelaksanaan kegiatan adat dan keagamaan. Namun, dalam pelaksanaan di lapangan pun tak bisa saklek. ''Karena menganut sistem desa mawacara itulah, seringkali di satu desa jenis gamelan tertentu dianggap sakral, sementara di desa lainnya tidak,'' katanya.

Penggabungan dan Penyimpangan

Sueca menyebutkan, sesuai dengan perkembangan zaman, perubahan juga terjadi pada jenis gamelan itu sendiri. Setelah kelahiran Semarpegulingan, kemudian ada jenis gong yang dinamakan Gong Kebyar. Gong jenis ini mengalami perkembangan yang sangat pesat pada saat ini. Diperkirakan tiap banjar di Bali telah memiliki jenis gong yang satu ini. Kehadiran gong ini merupakan gabungan dari beberapa jenis gamelan.

Karena hadir dari hasil penggabungan beberapa jenis gamelan, Gong Kebyar ini seringkali dipakai dalam berbagai kegiatan upacara keagamaan. Dalan upacara Manusa Yadnya maupun Dewa Yadnya, bisa saja menggunakan gong jenis ini. ''Untuk sekarang inilah yang terjadi. Menggunakan Gong Kebyar dalam tiap upacara Dewa Yadnya sampai pada Pitra Yadnya merupakan bentuk efisiensi karena gong jenis ini merupakan gabungan dari berbagai jenis gamelan,'' ujarnya. Apakah hal ini tidak menyalahi aturan yang ada? Menurut Wayan Sueca, kalau dilihat dari lontar Aji Gurnita dan Prakempa, memang terjadi penyimpangan. Karena sudah ditentukan mana yang dipakai untuk upacara Dewa Yadnya dan mana yang dipakai untuk Pitra Yadnya. Sehingga kalau berpatokan pada lontar tersebut jelas terjadi penyimpangan dalam hal etikanya.

Selain itu, pemakaian jenis gamelan sangat tergatung pada desa, kala patra yang ada. Tiap desa atau wilayah biasanya memiliki ketentuan sendiri dalam hal penggunaan gamelan tersebut. Karena bagaimana pun dresta dalam suatu wilayah sangat ditentukan oleh keadaan daerah yang bersangkutan. Hal ini menandakan bentuk dan jenis gamelan dalam melengkapi sebuah upacara memang tidak terlalu baku. Misalnya saja, jenis gamelan angklung biasanya digunakan untuk upacara Ngaben, namun di beberapa tempat ada pula yang menggunakan dalam upacara Dewa Yadnya. ''Yang seperti ini siapa berani menyalahkan?'' tanya Sueca.

Untuk mengevaluasi rambu-rambu yang ada dan dipakai selama ini, menurut Astita, usai Pesta Kesenian Bali (PKB) Juni nanti, Listibya Bali bakal membahas kembali rambu-rambu mengenai fungsi tarian dan gamelan, wali, bebali dan bali-balihan melalui suatu seminar. ''Dari sana diharapkan ada evaluasi, masukan atau koreksi terhadap rambu-rambu yang ada, sehingga ada acuan dalam pelaksanaan kehidupan berkesenian yang terkait dengan iringan pelaksanaan adat dan upacara keagamaan,'' ujarnya.

Terkait Fungsi

Secara umum, kata Astita, ada beberapa jenis gamelan yang dianggap sakral sebagai pengiring upacara keagamaan seperti gambang, selonding, caruk (modifikasi gambang dan caron), serta gong luang. Dianggap sakral atau tidaknya sebuah gamelan, terkait dengan fungsinya sebagai pengiring upacara keagamaan.

Dia menambahkan, gamelan sakral yang berfungsi sebagai wali lebih mempertahankan nilai magisnya dan sedikit memperhatikan unsur entertainment (hiburan). Berbeda dengan tari yang berfungsi sebagai pelengkap atau berfungsi memeriahkan, membuat suasana lebih mantap, berwibawa tetapi tetap khidmat. Memang, menurut dia, Listibya Bali pernah mengelompokkan jenis gamelan menjadi tiga, yakni wali (iringan wali untuk adat dan keagamaan), bebali dan bali-balihan.

Namun penggunaan gamelan dalam upacara keagamaan masyarakat Bali menganut sistem fleksibilitas sesuai desa mawacara. Karena itu, tak ada salah benar dalam penggunaan tabuh pelengkap upacara. Dalam lontar ataupun kitab atau sastra agama, katanya, tak ada ketentuan yang mengharuskan gamelan tertentu untuk iringan upacara tertentu. Kreativitas, kata Pembantu Ketua III STSI Denpasar itu, menyebabkan di lapangan penggunaan gamelan dalam ritual tidak kaku. ''Kreativitas berkesenian mesti bergerak mengalir. Apalagi, Bali menganut sistem fleksibilitas. Karena itu, kalau pada upacara Pitra Yadnya juga dilengkapi iringan baleganjur saat mengusung bade atau nganyut ke pantai, hal itu tak bisa disalahkan. Sebab, fungsi baleganjur misalnya, menumbuhkan atau menggelorakan semangat pendengarnya,'' katanya.

Unsur Panca Swara

Fungsi gamelan dalam kegiatan upacara ritual Hindu, kata Wayan Sueca, merupakan salah satu unsur dari Panca Swara. Sehingga gamelan memiliki arti yang sangat besar dalam upacara ritual tersebut. Kehadiran gamelan dalam kegiatan ritual diyakini mampu menghadirkan vibrasi tertentu. Dalam sabdanya Hyang Bagawan Naradha kepada seluruh umat manusia untuk mencapai moksartam jagatdhita ya caiti dharma lewat seni bunyi-bunyian. ''Gamelan yang mengiringi upacara sering kali mampu memberikan suasana lain terutama dalam hubungannya dengan yang 'di atas'. Dengan kata lain gamelan yang dipakai dalam kegiatan keagamaan tidak bisa dipandang sebagai pelengkap saja,'' katanya.

Hal ini, menurutnya, dibuktikan dengan adanya hari khusus (Tumpek Krulut) untuk mengupacarai gamelan. Saat Tumpek Krulut itu diadakan upacara tertentu atau semacam otonan untuk gamelan. ''Otonan terhadap gamelan ini dilakukan pada Tumpek Klurut sesuai dengan bunyi lontar Aji Gurnita.

(ara/bud)

Jenis Gamelan yang Umum untuk Panca Yadnya
--------------------------------------------------
Dewa Yadnya : - Tabuh Lelambatan
- Gong Kebyar
- Angklung
- Selonding
Rsi Yadnya : - Gender
Manusa Yadnya: - Gambang
- Gong luang
- Gong gede
- Gong kebyar
- Angklung
- Gender
Pitra Yadnya : (hampir sama dengan Manusa Yadnya)
Bhuta Yadnya : - Baleganjur


darmawacana mengenai piodalan


PIODALAN

Om Swastyastu,
Om Awigenham Astu Nama Sidham,
Om Sidhirastu tad astu ya nama swaha…
               
Yang terhormat bapak kepala dusun babakan,yang terhormat bapak keliang banjar sukawardaya babakan,yang terhormat para penglingsir,jero mangku serta para hadirin sekalian. Pada kesempatan ini saya akan menyampaikan dharma wacana mengenai tema piodalan  
Secara etimology piodalan atau odalan dapat diartikan sebagai hari lahir atau kelahiran.Sebuah pura. Pura yang sesuai dengan sastra bahwa Pura dianggap lahir pada saat “Ngenteg Linggih”yang dalam bahasa sansekerta disebut sebagai “Khumbha Abhisekam ”. Dalam pengertian kita yamg masih awam dapat diartikan bahwa pada saat Ngenteg Linggih Itulah Ida Betara mulai melinggih atau berstana.Secara tatwa dapat dijelaskan bahwa pada saat Ngenteg Linggih tersebut Pura diberikan Tenaga Kehidupan, Prana atau jiwa roh oleh Tuhan.Dan setelah melakukan proses upacara ngenteg linggih tersebut pura menjadi pusat kehidupan ritual dan spiritual bagi umat Hindu yang kemudian diperingati setiap tahun yang disebut dengan piodalan sebagai wujud bhakti kepada ida sang hyang widhi wasa dengan cara menghaturkan bebanten atau persembahan. Dalam sloka bhagawad gita berbunyi   
“Patram puspam phalam toyam”
  Yo me bhaktya prayacehati
   Tad aham bhakyupahrtam
   Asnami prayatatmanah.
Artinya :
Siapapun dengan kesujudan mempersembahkan kepadaku daun,bunga,buah atau air yang didasari cinta kasih dan keluar dari hati yang paling dalam aku terima.
Dalam seloka ini dijelaskan bahwa wujud bhakti itu tidak harus menghaturkan persembahan yang berlebihan,tetapi wujud bhakti itu muncul dari dalam diri kita dengan bentuk ikhlas,walaupun dalam bentuk sederhana seperti daun,bunga,buah dan air. 
Sebelum proses Ngenteg Linggih, Pura tersebut tidak lebih dari tumpukan batu bata, semen, pasir, besi dan beton yang merupakan benda-benda materi yang akan mudah hancur oleh waktu…
Sama halnya dengan tubuh kita sebelum dimasuki oleh jiwa, badan kita tidak lebih dari tumpukan darah, daging dan tulang yang merupakan benda-benda materi yang akan lenyap oleh waktu.Tapi setelah diberikan jiwa atau atman badan ini menjadi hidup dan lahir kedunia. Setiap kelahiran selalu disambut dengan kebahagiaan.
Nah para hadirin sekalian  inilah yang paling penting untuk kita pahami bahwa apakah makna kelahiran yang kita alami???apakah kita lahir kedunia ini sia-sia? Disini ajaran Agama Hndu menentukan tujuan bagi hidup manusia agar kelahirannya didunia menjadi bermakna…      Adapun tujuan hidup manusia menurut konsep hindu adalah
Tujuan yang pertama adalah Dharma yaitu memahami agama yang artinya memahami kebenaran, baik buruk, salah benar, apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan. Dengan demikian kita akan hidup bermoral yang berpegang teguh pada ajaran agama.
Tujuan yang kedua adalah Artha , tanpa artha hidup ini sangat tidak mungkin, Kita tidak mungkin menyelenggarakan hidup pribadi maupun social tanpa memiliki artha, bahkan dalam melaksanakan kegiatan upacara keagamaan membutuhkan artha atau dana.Dalam hidup kita dianjurkan untuk mencari artha sesuai dengan kemampuan kita dan berlandaskan dengan dharma.Dan artha tidak hanya untuk kebutuhan jasmani atau kesenangan tapi akan lebih bermakna jika diguanakan untuk kebutuhan rohani.
Tujuan yang kedua adalah kama yang dalam arti sempit adalah kesenangan karena hubungan suami istri yang sah.Tujuannya adalah untuk menciptakan keturunan dan memelihara cinta kasih suami istri. Dalam arti yang luas kama adalah kesenangan yang ditimbulkan oleh seni dan budaya. Mewujudkan kama secara berlebihan tidaklah baik karena akan menghambat pertumbuhan spiritual dan merusak kesehatan badan kita.
Tujuan yang ke empat adalah moksha yaitu kebebasan, bebas dari segala penderitaan, dan berada dalam kebahagiaan yang abadi dan tidak lagi tergantung pada kepuasan-kepuasan fisik yang kita alami saat ini.
Ke empat tujuan agama Hindu tersebut di ibaratkan seperti sebuah tangga yang memiliki 4 anak tangga yang harus ditapaki satu persatu supaya kita sampai dengan selamat.Bila kita menapakinya satu persatu maka akan memperoleh kebajikan, kesenangan, kebaikan, kebahagiaan, tapi jika anak tangga tersebut kita lompati maka hidup kita akan mengalami kepalasuan, kegagalan, kesedihan, dan penderitaan.
Para hadirin yang berbahagia  itulah keempat tujuan hidup yang harus dilalui, dan dalam kesempatan ini saya mengajak  agar senantiasa eling atau ingat dengan hakekat dan tujuan kita sebagai manusia yaitu selalu berpikir, berkata, dan berbuat atas kejujuran dan kebenaran karena apapun yang kita lakukan atau kita kerjakan tanpa ditopang oleh kejujuran maka semuanya akan sia-sia dan akan menyebabkan penderitaan dan kesengsaraan.
Jadi dapat saya simpulkan bahwa piodalan sangat penting dilakksanakan karena piodalan merupakan sebagai peringatan hari lahir dari pura atau tempat suci dan merupakan pusat kehidupan ritual dan spritual agama hindhu.
Demikian dharma wacana yang bisa saya sampaikan kalau ada kata-kata yang kurang berkenan saya mohon maaf  yang sebesar-besarnya, diakhir kata saya mengucapkan parama shanti
Om Santih, santih, santih Om